MISTERI DI BALIK TRIAS POLITICA

283

Mari berkisah tentang Presiden. Ini doktrin tentang demokrasi. Dari sana Presiden hanya bagian dari tiga. Itu yang disebut Trias Politica. Konsep ini bukan dari Wahyu. Melainkan hasil karangan manusia. Montesquei yang mempopulerkannya. Karena kini trias politica dianggap melebihi kitab suci. Seolah tak ada pilihan yang lebih berarti. Seolah demokrasi hanya satu-satunya jalan. Seolah hanya itulah jalur untuk mengorganisir kehidupan bersama. Padahal konsep itu doktrin abad pertengahan. Tatkala manusia berupaya mengkudeta kekuasaan Tuhan.

Dunia kini tersihir. Demokrasi jadi baku wajib. Seolah tiada pilihan. Manusia modern kini sejatinya ditengah kebodohan. Karena hanya mampu berpikir melanjutnya cara berpikir manusia abad pertengahan. Inilah masa jahiliyah. Masa dimana manusia jauh dari Tuhan. Tak kenal Allah Subhanahuwataala. Terlebih aturan yang direkomendasi-Nya. Karena hanya mampu berdalih, seolah demokrasi itu sudah sesuai dengan kehendak-Nya. Demokrasi dianggap juga sama dengan yang di mention Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Inilah masa tatkala jamak kaum tak lagi mampu bedakan mana haq dan kebathilan. Yang haq dikata bathil, sementara yang bathil dianggap haq. Masa jahiliyah.
Masa tatkala jamak yang menilai Presiden ialah penguasa. Presiden dianggap segala-galanya. Presiden dianggap pemegang kendali kekuasaan mutlak. Padahal sama sekali tidak.

Karena Presiden hanya bagian dari Trias Politica. Tiga pilar utama demokrasi. Ini teori Montesquei, yang John Calvin pun telah merumuskan, dengan logikanya. Karena memorie vantoelichting lahirnya Trias Politica, sebab suasana ingin mengganti kekusaan Gereja dan Raja. Kala itulah Monarkhi dan Gereja memegang kendali. Borjuis dan para baron memberontak. Memang banyak kecurangan karena pajak, dan kekusaan berlangsung korup. Tapi Trias Politica bentuk manusia merumuskan kehidupan kenegaraan berlandas logika. Ini bersumber dari Politeia, Airstoteles. Dari sana kekuasaan dianggap bisa adil dengan adanya check and balances system. Tatkala saling diawasi,– sesama manusia– maka dianggap keadilan tercipta. Inilah logikanya.

Revolusi Perancis, 1780, Trias Politica digunakan. Setelah dua abad menjadi bahan perdebatan, kala itulah doktrin itu di-amal-kan. Trias Politica dianggap jalan keluar, dari bentuk Monarkhi dan Gereja yang selama ini berkuasa.

Eksekutif, Legislatif, yudikatif, ini bentuk checks and balances system, yang saling mengawasi. Inilah konsep logika tentang menjalankan kekuasaan yang terbagi. Agar tak terjadi tangan besi alias kediktatoran. Karena manusia abad pertengahan menilai, demokrasi lebih adil ketimbang personal rule ala monarkhi.

Tapi pasca Revolusi Perancis, ada satu “makhluk” yang mengontrol Trias Politica. Makhluk inilah yang berada dibalik layar semuanya. Setiap negara (state, staat, l’etat, lo stato), dibentuk atas dasar makhluk ini. Itulah yang disebut Central Bank. Dia bukan bagian dari Trias Politica, secara teori. Montesquei tak merumuskannya. John Calvin tak memahaminya. Apalagi Rosseou yang dianggap bapak konstitusi. Dia tak tahu mengapa Central Bank berada dibalik layar Trias Politica.

Tapi inilah realita. Eksekutif bukan pemegang kendali. Legislatif hanya berada dalam kontrol. Apalagi yudikatif, hanya penghias demokrasi. Karena sejatinya Central Bank yang memegang kendali. Makhluk ini ada di konstitusi. Tak bisa dikendalikan Eksekutf, tak dikendalikan legislatif apalagi diadili oleh Yudikatif. Karena Central Bank tak bertanggungjawab pada legislatif, apalagi eksekutif. Mereka memiliki kekuasaan penuh, yang dijamin konstitusi, buatan analogi manusia. Inilah penunggang Trias Politica. Inilah bukti kelemahan Trias Politica. Bahwa kekuasaan ala manusia memang penuh kelemahan. Penuh kebocoran sana sini. Karena sistem ini dibuat untuk melemahkan sistem ketuhanan. Demokrasi lahir dari memberontak pada Nasrani, lalu menghabisi Daulah Utsmaniyah dan belantara Islam. Inilah model yang dikembangkan bankir. Mereka yang meletakkan model awal, bagai state (negara) sebagai bentuk baru pasca modernisme, abad aufklarung.

Trias Politica memberi pelajaran. Presiden itu bukan penguasa. Karena Presiden dikendalikan bankir. Karena Presiden tak mampu mengontrol Central Bank. Justru sebaliknya. Ini pertanda, pemilu apalagi demokrasi, hanya bualan ala bankir semata. Karena merekalah di balik demokrasi apalgi Trias Politica, yang justru dikendalikan Central Bank, yang tak termaktub dalam Trias Politica, tapi hadir sebagai Pilar pengendali Trias Politica. Inilah realitas. Membacanya tak bisa dengan buku teori abad pertengahan. Melainkan dengan melihat kenyataan.

Kekuasaan harus kembali pada personal rule. Musmilin harus berhenti untuk halusinasi bahwa Trias Politica itu sudah sesuai dengan Islam. Berhenti untuk mengislamisasi sistem kuffar. Apalagi berhalusinasi bahwa dengan demokrasi kekuasaan akan diambil alih. Karena Trias Politica tak mampu mengontro Central Bank. Merekalah penguasa sesungguhnya. Uang kertas jadi senjata utamanya.