Muamalat, Pengetahuan dan Kepemimpinan

386

Hajj Abdassamad Clarke

Imam Abdassamad Clarke

Dengan menyebut nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.  Semoga Allah senantiasa melimpahkan barokah serta kedamaian kepada RasulNya, Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

Allah, subhanahu wa ta’ala, bersabda, yang artinya: ‘Wahai orang-orang yang beriman, ta’atlah kamu kepada Allah, Rasul dan pemegang otoritas (ulu’l-amr) d antara kamu’. Penjelasan para ulama mengenai golongan ketiga ini, ulu’l amri adalah: bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan mereka adalah para pemimpin. Harap dicatat, bahwa amr bisa berarti sebuah perintah atau suatu  urusan.

Mengenai klaim “Fuqaha dengan ijazah”, kenyataan yang menyedihkan mengenai mereka adalah bahwa sedikit sekali di antara mereka yang memahami mu’amalat, dan bahkan lebih sedikit lagi yang memahami ada apa di balik dunia moderen, perbankan, urusan keuangan dan ekonomi, dan banyak  ‘ulama’ ini telah menyesatkan umat Muslim dengan fatwa-fatwa yang bodoh mengenai dua hal tersebut. Kepemilikan ijazah tidak memberikan jaminan apapun selain kepemilikan ijin untuk mentransmisikan teks dan bahkan dapat dilihat dari sejumlah bukti yang ada bahkan hal ini  sangat terbatas  dalam ruang lingkup yang sempit  lagi akibat  merosotnya sistem di mana  orang-orang membagi-bagikan ijazah dengan cara tidak pandang bulu.

Hal serupa dialami oleh institusi terhormat seperti Al Azhar, di mana keberadaannya dewasa ini tidak lebih dari parodi kejayaannya di masa lalu, situasi ini telah berlangsung selama satu abad lebih, hingga Al Azhar kian sering menjadi sumber fitnah dan penyesatan

Tentang para  pemimpin, perintah yang termaktub dalam ayat di atas berlaku bagi semua orang, termasuk bagi para amir. Jika seseorang menjadi amir, hal tersebut tidak  membebaskan dirinya untuk mematuhi orang yang berada di atasnya. Oleh karena itu, seorang amir dari sebuah komunitas harus dalam ketaatan kepada seseorang yang dia akui otoritasnya, jika tidak,  dia akan menyesatkan jamaahnya dan membuat mereka tak lebih dari sekedar ‘kelompok’ atau ‘kelompok nasional’. Jika ia tidak bisa menemukan seseorang itu, dia harus mencari seorang pemimpinnya sendiri, demi kebaikan dirinya sendiri dan demi  kebaikan orang-orang yang berada di bawah pimpinannya.

Jika dia tidak dapat menemukan seorang pemimpin, dia harus bermusyawarah dengan semua pemimpin lain yang berada dalam situasi yang sama dengan dirinya, kemudian mereka harus memilih satu dari antara mereka sendiri untuk menjadi pemimpin di antara mereka. Tidak ada satu orang pun yang dikecualikan dalam hal keta’atan. Dalam hal ini, jelas merupakan bencana bagi kaum muslimin jika setiap orang mengeluarkan koin lokal  sendiri-sendiri, yang hanya dapat saling-ditukar melalui penimbangan dan perhitungan yang  rumit berdasarkan tingkat kemurnian yang berbeda dari logam dan campuran logam yang digunakannya.

Adapun mengenai spesifikasi teknis, sebagian besar masalah umat Islam di Barat kandas karena hal yang terkait dengan masalah teknis: misalnya, proses melihat bulan untuk menentukan Ramadan atau, di Amerika Serikat, sengketa mengenai arah kiblat, persoalan tersebut harus diselesaikan melalui kepempinan, bukan dengan sengketa yang didasari oleh persoalan teknis. Kepemimpinan tentu saja bertanggung jawab untuk mengatasi masalah teknis semacam ini.

Jadi kita secara jelas kembali ke dua hal di atas; pengetahuan dan kepemimpinan. Dalam pandangan saya yang mendalam, jelaslah sudah bahwa Umar Vadillo adalah seseorang yang memiliki dua hal tersebut. Dia memiliki pengetahuan yang paling luas mengenai hal ini (dinar dirham-pen.), dia juga seorang pemimpin dalam usahanya menghadirkan kembali koin dinar dirham dan mu’amalat sebagai kunci untuk membersihkan dunia dari kejahatan kapitalisme ribawi. Dia bekerja dengan penuh dedikasi untuk mengembalikan dinar dirham serta mu’amalat ke ranah amal nyata, dalam proses ini dia belajar dan memperoleh pengetahuan yang luas baik dari Muslim dan sumber-sumber non-muslim, baik dalam perspektif Muslim tradisional serta mu’amalat serta membedah penyakit kapitalisme ribawi.

Umar Vadillo telah memimpin urusan  ini ketika  tidak satu orang pun di planet ini yang berbicara tentang hal ini, dan dia teguh melakukannya walaupun ditentang oleh aktivis, akademisi, sarjana dan ulama. Berkat keteguhan dirinyalah, hal ini kini menjadi agenda bagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia dan yang lebih penting , hal ini menjadi kenyataan.

Benar-benar menjadi tidak masuk akal bagi saya bahwa ada sejumlah orang datang belakangan dengan pemahaman yang sangat sempit mengenai satu hal; koin dinar dirham, dan mengabaikan sisi mu’amalat, mereka juga berpikirbahwa mereka dapat berdiri secara  independen dari kepemimpinan, keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh Haji Umar. Di sini saya menganggap adanya  niat baik dan intelektualitas.

Adapun mengenai orang-orang yang suka berpecah belah yang mencari posisi di dunia atau yang membenci orang lain karena fadilah yang diberikan Allah kepada orang lain tersebut atau yang membawa dendam karena alasan apapun, orang-orang seperti akan selalu ada, tapi Allah memperingatkan kita terhadap mereka dan memperingatkan kita agar tidak menjadi seperti mereka. Bahkan di Madinah al-Munawwarah sekelompok orang berusaha untuk mendirikan masjid yang berlawanan dengan masjid Quba, dan Rasul, semoga Allah memberkati beliau dan memberinya damai, diperintahkan untuk tidak pernah berdiri di

Namun demikian, seorang pemimpin yang memiliki pengetahuan pundapat membuat kesalahan dan bahwa orang lain mungkin memiliki pengetahuan yang lebih baik pada beberapa hal, karena tak seorang pun kecuali Rasul, semoga Allah memberkati dia dan memberinya damai, yang bebas dari kesalahan, tetapi dalam kasus yang demikian seseorang berkewajiban untuk tetap memperlakukan urusan ini dengan adab dalam menegakkan kebenaran dan melarang yang batil. Bagi mereka yang tidak tahu cara yang melakukannya, khutbah tentang hal  itu berikut ini didasarkan sekitar terjemahan dari teks fiqh klasik oleh Ibnu Juzayy dapat dibaca: http://www.muslimsofnorwich.org.uk/?p=1202.

Adalah sebuah kebodohan terbesar, dan mungkin bahkan pengkhianatan, jika di saat ini,  di mana umat Muslim dikalahkan dan tertindas, kita gagal untuk mengesampingkan perbedaan dan mencari di dalam deen itu sendiri untuk hal-hal yang akan memberi kita persatuan dan keberhasilan .

Dalam komentar pada do’a, dua kali diulang dalam Al-Qur’an, karena Allah tidak membuat kita sebagai fitnah bagi kafirun, ulama salaf menafsirkan ini bermakna: jangan biarkan mereka mengalahkan kita, sehingga kita akan berpikir bahwa Islam adalah tidak benar, sehingga kemudian kita menjadi fitnah bagi mereka.

Allah Maha Mengetahui Segalanya.