Oligarkhi Bankir Pengendali Negara-negara di Dunia

205

Negara fiskal (fiscal state), ini realitas tanpa teori. Negara fiskal ada dalam kenyataan, tapi tiada dalam pembahasan.

Akademisi dipastikan tak mampu mendefenisikan. Pakar tata negara juga lumpuh dalam menceritakan. Karena fiskal state seolah tabu diungkapkan. Padahal fakta-nya terpampang benar dalam kenyataan. Inilah konspirasi tingkat tinggi. Dogma tentang negara, tak pernah menyentuh fakta tentang fiscal state.

Khalayak masih terkesima akan teori tentang ‘negara’. Padahal ini dari abad pertengahan. Sisa-sisa masa kegelapan di belantara Eropa. Di sanalah ‘negara’ diproduksi. Dalam khazanah bahasa, ‘negara’ ialah terjemahan dari “state” (english), “staat” (Belanda), “lo stato” (Italia), l’etat (France). Sumber aslinya dari bahasa Latin “Statum”. Entah siapa yang menterjemahkan kata-kata itu menjadi “negara”.

Di belantara bahasa, kata “negara” tak dikenal sebelumnya. Hanya ada “nagara” dari Mpu Prapanca atau “nagari” dari Minangkabau. Tapi realitas antara “negara” berbeda jauh dengan “nagari” atau “nagara”. Karena “State” bukanlah “nagara” atau “nagari”.
Negara murni import dari Eropa, yang gelap gulita. Masa tatkala Monarkhi dan Gereja digdaya. Sementara dalam belantara Islam, Daulah tengah menyala-nyala. Kesultanan Utsmaniyah merambah dari Istanbul, jazirah, sampai Cekoslovakia.

Kesultanan di nusantara tumbuh dan berkembang hingga 200 lebih dari Aceh, Pattani, Sulu hingga Pattani. Di Asia Tengah, Kesultanan Moghul begitu perkasa. Inilah warisan kejayaan Timur Lenk, Amir dari Timur. Di Afrika Utara, Magribia menjadi pusat kejayaan ilmu pengetahuan yang berbasi Al Quran. Begitulah gambaran abad pertengahan. Sementara Eropa, tengah sibuk perang antara Katolik dan Protestan, yang masih dianggap bid’ah.
Hegemoni monarkhi dan Gereja digoyang. Machiavelli menelorkan “Lo Stato”. Itulah muasal teori “negara”. Jean Bodin mengutarakan tentang soverignity. Rosseou melengkapi dengan ‘du contract social’. Voltaire menambahkan dengan Gereja tak layak lagi memimpin kehidupan sosial. Karena Voltaire sibuk menyerang aqidah Katolik. Tuhan dianggap tak layak dipatuhi secara penuh, karena jika demikian maka Tuhan adalah diktator. Tuhan dikategorikan hanya bak pembuat jam. Tatkala jam selesai dibuat, maka jam akan bekerja sendiri.

Begitulah kehidupan dunia. Tuhan tak layak lagi campur tangan. Biarkan manusia mengatur sendiri kehidupan, dengan hukum sendiri, dengan cara sendiri dalam menentukan penguasa. Alhasil riba dihalalkan. Bisnis berubah. Utang dibolehkan menetapkan bunga. Kitab suci tak lagi dipatuhi. Para pedagang uang, mayoritas Yahudi, mempengaruhi. Utang berbunga, menjadi wajar dan dilegalisasi. Karena uang yang diutangkan, menjadi tertahan, yang semestinya memiliki nilai produktif. Makanya bunga layak diterapkan. Alhasil bisnis bank mulai menggurita. Mereka membonceng ditengah kecamuk krisis kepercayaan pada Gereja.

Lambat laun para bankir menggurita. Perang antar Kerajaan di Eropa membesar. Para pedagang uang untung besar. Karena perang membutuhkan biaya. Kerajaan krisis keuangan. Pedagang uang memberikan utang, pada Raja. Kerajaan Inggris yang memulai. Mereka berutang pada bankir, sang pedagang uang. Dari situlah utang kerajaan mulai dikenal. Utang ‘negara’. Lambat laun hubungan Raja dan pedagang uang makin mesra. Diciptakanlah bank resmi atas nama kerajaan. Bank makin menggurita. Riba ditabrak, tak lagi dipedulikan.

Kala raja ber-utang pada bank, itulah muasal utang nasional. Pihak bank, notabene rentenir, makin leluasa. Hukum mulai dipesan supaya bisnis mereka legal. Maka berdirilah Bank of England di London, abad 17. Inilah bank nasional ketiga di dunia. Tapi bukan milik kerajaan Inggris. Bank ini berdiri pasca kucuran utang pengusaha bank pada kerajaan Inggris. Pola ini pun berjalan di sejumlah kerajaan Eropa lainnya. Spanyol, Swedia, Belanda, sampai Skotlandia.

Revolusi Perancis meledak, 1789. Raja Louis XVI digantung di depan penjara Bastille. Peopple power dianggap menang. Perancis berubah arah. Pola Monarkhi ditinggalkan. Gereja tak lagi punya kekuasaan. Hanya mengurus ibadah semata. Perancis diubah menjadi Republik. Pola ini diikuti Republik Amerika Serikat. Perancis berdiri. Egalite, fraternite, liberte didengungkan. Konstitusi diterapkan, mengganti kitab suci. Perancis mendaulat menjadi “state”. Itulah negara pertama. United state mengikuti. Republik, jadi trending topic.

Tapi republik Perancis di desain. Sejumlah bankir menyusup. Mereka mendanai revolusi, berada di balik layar. Bank nasional Perancis berdiri. Bisnis bank resmi, tanpa rimba haram dari kitab suci. Bankir makin menggurita. Napoleon menjadi Kaisar Perancis berikutnya. Dia menapakkan nation state dan Code Napoleon, sebagai basis utama “negara”. Maka, “negara-negara” pun berdiri. Wabah republik membahana. Hingga puncaknya menggulingkan Kesultanan Utsmaniyah di Istanbul. Daulah Utsmani dikudeta secara tak berdarah. Utsmani diubah menjadi monarkhi-monarkhi palsu. Saudi Arabia, Yaman, Oman, sampai Yunani. semuanya menjadi “negara”, tapi tanpa kekuasaan. Karena hak menciptakan uang, berada pada bankir. Dimana ada negara baru merdeka, disitu ada bank sentral wajib didalamnya. Fungsinya bank sentral ialah memonopoli uang agar mereka yang buat. Bukan kekuasaan Presiden atau kepala negara.

Modal awal sebuah “negara baru” adalah kucuran utang dari bankir. Inilah yang disebut utang nasional. Rakyat jadi agunan. Pajak itulah iuran untuk membayar utang. Republik Indonesia tak terkecuali. KMB 1948 adalah pengalihan utang Hindia Belanda ke republik.
Jepang, yang kalah perang Dunia II. Dibangun dan dihidupkan kembali. Tapi oleh para bankir, dengan uang dari mereka. Tak heran, kini Jepang negara dengan utang terbesar di dunia. Tapi media menyuarakannya, seolah Jepang negara maju yang welfare state. Inilah tugas media, menciptakan hoax demi bankir tak terbaca.

United State, dianggap negara adidaya. Tapi tak berdaya karena punya utang segudang. Utang pada siapa? Bank. Mereka tak bertahta di istana negara, apalagi tak dipilih dalam pemilu. Inilah yang membuat mental teori tentang “negara”. Lincoln terlalu mengagungkan bahwa “negara adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Terori negara itu menggurita. Seolah negara adalah model satu-satunya dalam kehidupan bersama.
Kini, 3 abad telah tercipta negara fiskal seantero dunia. Seluruh dunia, negara-negara menjadi debitur para bankir. Bankir menjadi kreditur satu-satunya. Kepala negara bukanlah penguasa. Karena kepala negara tak bisa menciptakan uang. Uang menjadi monopoli bank, atas nama bank sentral. Mereka penguasa tapi tak bernama. Teori tata negara, tak membaca tentang fenomena jerat utang negara kepada bankir. Karena teori tata negara, ilmu kuno khalayan dari abad pertengahan.

Fakta dunia kini, imperium bamkir yang berkuasa. Bukan Amerika Serikat yang digdaya. Bukan teori welfare state yang seolah idola. Itu hanya mulut manis media dan para pakar yang menjadi dukun-dukun para bankir semata. Negara fiskal itulah bentuk sesungguhnya. Rakyat bukanlah pemegang kedaulatan (volkssouvereniteit). Atau hukum sebagai kedaulatan (rechtsovereniteit). Tapi bankir yang punya kedaulatan penuh. Ini tak ada dalam teori negara versi Machiavelli, Jellinek, Rosseou apalagi Bodin. Namun inilah realitas jaman ini.

Negara fiskal tak diajarkan di bangku kuliah, apalagi dalam berita-berita media, corong mereka. Inilah kedzaliman yang nyata. Musuh umat manusia. Inilah bentuk nahi munkar yang besar. Muslimin harus memeranginya secara nyata. Karena pola bankir ini mematok riba mutlak di dalamnya. Imperium hanya bisa dikalahkan dengan dominium. Riba adalah kedzaliman.