Pada Suatu Masa di Pulau Lingga

198

Kesultanan Lingga eksis di tahun 1800-an. Tapi kemudian diporak-porandakan oleh penjajah Belanda. Dalam kisah historisnya, kesultanan ini menyatukan umat di bawah panji Islam. Kala era republik berlangsung, jejak Kesultanan kemudian ikut diambilalih oleh republik.

Harta benda milik Kesultanan dianggap sebagai aset state. Alhasil para pewaris sah Kesultanan Lingga tak mendapatkan apapun. Dalam bingkai hukum positif, tentu ini sebuah overmacht. Tapi bukan itu yang terpenting kini. Kesultanan Lingga ini membuktikan sultaniyya pernah eksis di Nusantara.

Sistem sultaniyya berlaku efektif sebagai tonggak kehidupan umat Islam. Di manapun berada. Mulai dari Andalusia, Utsmaniyah, Lingga, Demak hingga Ternate, Kesultanan adalah sistem ketatanegaraan satu-satunya yang diterapkan umat Islam.

Sejak abad 18 ke atas, sistem itu mulai ditinggalkan. State merajalela. Alhasil monarkhi kekuasaan dipegang oleh para bankir. Mereka menciptakan banking system yang dikerjakan oleh para state holder di manapun berada. Tak ada lagi kitab suci sebagai rujukan. Yang ada justru konstitusi, sistem hukum buatan segelintir manusia.

Di sinilah keadilan itu berubah makna menjadi kepentingan kaum pemodal. Keadilan cuma suara-suara untuk menjaga kepentingan banking system. Maka, sudah saatnya kembali pada sultaniyya.