Pasar Sunnah, Pasar Non Jahiliyah

517

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda: “Sunnahku di masjid sama dengan sunnahku di pasar.” (HR Muslim).

Kala era Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam, kejahiliyahan melanda hebat. Agama tak lagi dipegang benar. Berhala di mana-mana. Berhala, sesuatu buatan manusia lalu ditaati, dipatuhi dan disembah-sembah. Berhala yang paling kuno tatkala menyembah patung buatan manusia.

Tapi kejahiliyahan bukan sekedar menyembah-nyembah berhala dalam bentuk tunduk-tunduk. Tapi Rasulullah menegakkan Deen Islam. Di Yastrib, kota yang pertama kali menjadi Rumah Deen. Makanya disebut Madina.

Kala itu kekufuran melanda umat manusia. Salah satu bentuk kekufuran itu ada di pasar. Kala itu Yastrib didominasi pasar Yahudi. Monopoli jamak terjadi. Tidak ada keadilan di pasar. Kebathilan merajalela. Manusia menjadi serakah di pasar. Manusia menjadi ingin mendominasi agar untung besar.

Salah satunya dikisahkan kala Rasulullah meminta Utsman Bin Affan untuk membebaskan sumur yang didominasi oleh seorang Yahudi. Sumur itu tempat warga Madina mengambil air. Tapi seorang Yahudi memprivatisasinya, hingga menjadi komersil. Padahal sumur tempat air memancar, harusnya menjadi hak publik. Yahudi itu memiliki pribadi, bak perseroan era kini yang memprivatisasi sumber mata air demi kepentingan devidennya.

Utsman lalu mendatangi Yahudi itu. Dia berniat membeli sumur itu. Tapi Yahudi itu tak menjualnya. Karena sumur itu membuatnya kaya raya di Madina. Tapi Utsman muslim yang muhsinin. Rasulullah telah memintanya agar membebaskan sumur itu dari privatisasi. Utsman tak hilang akal. Dia lalu mendatangi Yahudi itu lagi, guna membeli setengah sumur itu. Bukan membeli seluruhnya. Yahudi itu berpikir panjang. Dia mematok harga tinggi. Dalam benaknya, walau dijual setengah, tapi dia tetap bisa untung karena memiliki setengah sumur itu. Ribuan Dinar ditransaksikan untuk Utsman membeli sumur itu. Setengah milik si Yahudi, setengah lagi menjadi kepunyaan Utsman. Tapi Utsman mewakafkannya.

Satu hari pertama sumur itu milik Yahudi. Esoknya menjadi milik Utsman. Begitulah aturan soal setengah. Kala sumur milik Utsman, beliau mewakafkan sumur itu. Warga berbondong datang, mengambil air untuk stok dua hari. Alhasil kala tiba sumur menjadi hari milik si Yahudi, warga tak membelinya lagi. Karena sudah punya stok air dari sehari sebelumnya. Alhasil Yahudi itu panik. Dia merugi. Kalkulasi akuntansi bisnisnya bekerja. Agar tak pailit, dia pun menjual setengah sumur miliknya pada Utsman. Tapi harga telah berubah. Utsman lalu membelinya. Begitu sumur itu terbeli, Utsman mewakafkan seluruh sumur itu. Tak ada lagi privatisasi. Sumur kembali milik umum. Air menjadi milik bersama. Tak ada privatisasi. Begitulah keadilan dalam Islam. Privatisasi air itulah model dagang jahiliyah.

Di Madina, Rasulullah juga membangun pasar. Bebas riba, tanpa sewa,  tanpa pajak, tanpa barang dagangan yang menipu. Pasar itu diawasi oleh Muhtasib. Beliau yang mengawasi barang dagangan di pasar agar bebas tipu menipu. Barang busuk tak boleh dijual. Susu tak boleh dicampur dengan air. Barang dagangan di pasar tak boleh dicegat di tengah jalan, sebelum sampai di pasar. Itulah pasar muamalah. Pasar yang sesuai Sunnah. Pasar yang dicontohkan Rasulullah. Pasar yang penuh keadilan. Perdagangan berlangsung fair. Tak ada monopoli. Seorang pedagang tak boleh membangun lapak khusus di pasar. Apalagi memiliki ruko di pasar. Siapa duluan datang di pasar, boleh memilih tempat. Tak ada barang dagangan yang dijual dengan kebohongan. Misal barang tak bagus dibilang barang bagus. Karena itu jelas menipu.

Itulah Madina al Munawaroh. Pasar adalah salah satu yang dibangun Rasulullah dalam Rumah Deen, Madina. Kini pasar yang adil telah tiada.

Pasar menjadi  privat. Pasar yang ada berlangsung tak fair. Produksi dikuasai sejumlah perusahaan, yang mengikuti model VOC. Compagnie, yang kali pertama sukses memonopoli sejak abad pertengahan. Revolusi  Perancis, abad 18, melegalkan cara dagang dengan monopoli. Constitutio menjadi dasar hukum monopoli itu. Code de Commerce keluaran Napoleon, menjadi tonggak aturan dibolehkannya model dagang yang memonopoli. Perdagangan menjadi perlombaan. Siapa kuat dia menang. Itulah kapitalisme. Semua sektor diukur dari modal. Perseroan hanya bentuk kepanjangan dari Compagnie (kompeni), yang dicontohkan VOC.

Wetboek van Koophandel jelas warisan Hindia Belanda. Copy paste dari Code de Commerce karya Napoleon, yang memimpin Republik Perancis, hasil kudeta kepada hegemoni Gereja Katolik dan Monarkhi Perancis. Inilah demos kratos. Kebebasan semu yang ditawarkan. Liberte, egalite, fraternite seolah jadi slogan kemenangan. Tapi kemenangan bagi kaum pemodal. Kaum bankir yang sukses mendompleng dalam “kebebasan” itu. Proletar tetap menjadi budak. Tak berubah stratanya.

Alhasil tak ada lagi pasar yang adil. Pasar yang sesuai as Sunnah. Inilah era jahiliyah. Era kebodohan, kala manusia tak memahami hakekat menjadi manusia dalam hidup di dunia. Pendirian rumah Deen (Madina), bukan Cuma menghancurkan berhala berbentuk latta, uzza dan manna. Tapi juga mendirikan pasar yang adil. Pasar berbasis muamalah. Itulah Islam.

Tapi Rasulullah tak memerangi secara fisik pasar di Yastrib yang penuh kebathilan. Yang penuh tipu daya dan monopilistik. Melainkan dengan mendirikan pasar yang haq. Kini cara itu wajib dilakukan kembali. Karena tiada pasar yang adil. Pasar dimonopoli kapitalisme. Pasar dikendalikan sejumlah perusahaan pemilik modal besar. Barang-barang didominasi sejumlah perusahaan saja. Kartel bisnis menggurita. Air bahkan udara pun dikomersilkan. Tak ada lagi kemashalatan. Di tambah alat tukar yang diberlukan juga penuh ketidakadilan. Karena hanya dicetak segelintir perseroan. Uang sebagai alat tukar, adalah produksi bankir, yang menonopol. Negara (staat, state), menjadi alat bankir untuk memaksa agar warga menggunakan uang itu. Bagi yang tak mau, dipidana. Pidana menurut rechstaat. Inilah kebathilan. Inilah yang melanggar fitrah. Melanggar perintah Allah Subhanahuwataala.

Kini saatnya menegakkan keadilan. Melawan kekufuran. Salah satunya adalah menghadirkan pasar yang fair, pasar yang adil. Dengan alat tukar yang adil, bebas dari monopoli segelintir bankir. Emas dan perak, yang sejak dulu menjadi alat tukar adil, harus dikembalikan. Kertas yang di print bankir itu bukti monopoli atas alat tukar. Pasar harus kembali sesuai fitrahnya, terjaga keadilannya. Inilah kewajiban muslimin era kini. Menghadirkan pasar berbas As Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Demi Rumah Deen terwujud kembali. Demi Madina kembali ke umat Islam. Karena Islam hanya merujuk pada model Madina, yang telah diletakkan sempurna oleh Rasulullah, di jalankan oleh Sahabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin.

Inilah saatnya.

Tanpa harus menunggu Imam Mahdi, turunnya Isa Alaihi Salam. Tapi Islam itu adalah sekarang dan saat ini. Bukan utopia atau halusinasi kehebatan masa lalu. Karena riba harus diperangi. Kapan saja dan dimana saja. Tempos dan locusnya berlangsung kapan saja dan dimana saja. Riba jelas haram, tanpa bisa diubah menjadi halal. Inilah model pasar yang harus dikembalikan. Demi terwujudnya kembali rumah Deen, Maadina. Insha Allah.