Penjelasan Tentang Penerima Zakat (Mustahiq)

276
Berikut ini penjelasan tentang pihak yang berhak meneriam zakat secara syariat. penjelasan ini dikutip dari kitab Mursyid al Mu’in yang disusun oleh Ibnu Asyir (1040 H), yang syarahnya ditulis kembali oleh Shaykh Ali Laraki, faqih terkenal yang bermukim di Leicester, Inggris.
 
Penerima Zakat
Penerima sah terdiri dari delapan kelompok sebagaimana disebutkan dalam Surat at- Tawba  (ayat 60):
1.            Fuqara (faqir), bermakna orang yang tidak memiliki makanan bagi diri mereka sendiri dan tanggungan mereka selama satu tahun.
2.            Masakin (miskin), bermakna orang tanpa sarana untuk mendukung diri mereka sendiri bahkan untuk satu hari saja
Siapapun yang mengklaim diri faqir, klaim ini diterima, kecuali jika penampilannya bertolak belakang. Jika dia meng-klaim memiliki tanggungan, hal itu menuntut adanya pemeriksaan. Jika dia dikenal sebagai orang kaya, dia harus membuktikan dia telah kehilangan uangnya.
Dan dua kelompok itu (fuqara, masakin), harus memenuhi empat syarat  berikut:
a.            Merdeka bukan budak
 
b.            Muslim
c.  Bukan keturunan Rasulullahsalalahu’alaihiwasalam
d. Belum diurus oleh anggota keluarga yang bertanggung jawab, seperti: 1). Seorang istri diurus oleh suaminya atau
2).   Seorang anak laki-laki oleh ayahnya, atau
3).   Seorang ayah yang faqir oleh anak laki-laki nya, atau
4).   Jika seorang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan si fuqara atau masakin, mengambil tanggung jawab untuk mengurus, seperti anak tiri perempuan diurus oleh ayah tirinya
3.      Pejuang di jalan Allah (fi sabilillah) untuk:
a.  Peralatan
b. Senjata dan
c.  Transport ke garis depan
4.      Menggunakan dana zakat untuk membeli dan membebaskan budak Muslim (riqab)
5.      Para pengumpul dan pembagi zakat (al-‘amilin’alayha) yang haruslah seorang yang:
a.  Muslim
b. Merdeka (bukan budak)
c.  Bukan keluarga dari Rasulsalalahu’alaihiwasalam
d.  Jujur dan adil
e.   Mengetahui fiqih zakat
6.          Orang-orang yang berhutang (gharimin) yaitu jika seseorang telah berkontrak hutang halal dengan orang lain, maka orang itu akan menerima pemberian dari  dana zakat guna melunasi hutangnya setelah orang itu membayar apapun yang dapat dia bayarkan.
7.          Orang-orang yang hatinya sedang didamaikan (reconcile) (al—muallafatu qulubuhum), yakni kuffar yang didorong untuk masuk Islam dengan menerima sejumlah dana, menurut pendapat terkuat. Ada pendapat lain bahwa hal ini merujuk kepada Muslim baru, yang menerima dana zakat guna memperkuat Islam mereka.
8.          Musafir (ibn as-sabil) yang tidak memiliki sarana untuk kembali ke tanah air nya, asalkan perjalanan mereka untuk keperluan yang halal.
Zakat tidak pernah digunakan untuk membeli atau membangun masjid, membeli kendaraan, membebaskan tahanan, menerbitkan buku, dll.
 
Zakat Fitrah
Zakat al-Fitr adalah wajib bagi semua Muslim mampu dan terdiri dari satu sa’ (Satu sa’ sama dengan empat mudd yaitu sebanyak isi dua kali dua telapak tangan Nabisalalahu’alaihiwasalam setara kira-kira dua liter) per orang, bagi diri mereka sendiri dan setiap dari Muslim yang jadi tanggungannya (misal, anak, istri, orang tua yang faqir, dan lainnya).
 
Zakat al-Fitr diberikan dalam bentuk makanan pokok normal suatu daerah kepada orang-orang di daerah tersebut dari jenis:
  Gandum
  Barley
  Sult
  Kurma
  Keju kering
  Kismis
  Jawawut
  Jagung
  Beras
Direkomendasikan untuk menyerahkan zakat selambat-lambatnya setelah Fajr sebelum pergi ke tempat salat ‘Id. Dibolehkan untuk menyerahkannya satu atau dua hari sebelum ‘Id. Haram menunda penyerahannya sampai Maghrib dari hari ‘Id, kecuali jika seseorang belum menemukan seorang faqir untuk menerimanya. Jika tidak dibayarkan tepat waktu, Zakat al-Fitr tertinggal sebagai hutang.
 
 
Zakat al-Fitr diberikan kepada masakin atau faqir Muslim yang merdeka (lihat di atas). Lebih dari satu sa’ boleh diberikan kepada satu faqir atau dapat dibagi  kepada beberapa faqir.
 
Hikmah yang terkandung di baliknya adalah bahwa setiap orang pada hari raya ‘Id lepas dari kebutuhan mengemis makanan.