Penularan dan Pewarisan Gagal-Paham-Riba

281

Oleh Ir Budhi Wuryanto

Dan bacakanlah (Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yakni Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimatNya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepadaNya. ~ Al-Qur’an Surat Al-Kahfi [18]: 27.

Bahkan seorang ekonom –– beragama Islam, dosen dan di belakang namanya tercantum gelar Ph.D atau Dr. –– pun bisa gagal memahami bahwa uang kertas secara substantif merupakan salah satu bentuk riba, dan karenanya –– ditinjau dari segi syariat Islam –– haram hukumnya, bila ia menganut makna riba yang telah direformasi atau diperbaharui!  Ia tidak akan dapat memahami pelanggaran yang terjadi pada pemakaian promissory note, yang dalam istilah fikih disebut sebagai dayn (janji-utang), yang haram hukumnya untuk dipakai dalam pertukaran maupun transaksi muamalah lainnya.

Shaykh Umar Ibrahim Vadillo telah mengingatkan, kesalahpahaman tersebut tidak sederhana karena membawa implikasi pada “terhapusnya kemampuan mendefinisikan sesuatu yang haram yang melekat pada penundaan yang tidak dapat dibenarkan”. Dan bukan sekadar salah perhitungan, tapi merupakan produk pendidikan yang salah, dan indoktrinasi yang diakibatkan penghancuran kekuasaan politik khalifah, dan proses reformasi terhadap Islam yang mengikuti di belakangnya.  Kesalahpahaman ini membuka gerbang terhadap upaya “islamisasi” bank, lembaga terpenting kapitalisme. riba yang diperbaharui itulah, kata Shaykh Vadillo, memungkinkan para pendukung bank Islam membenarkan tindakan mereka.

Tentu saja sangat dahsyat dampak negatif yang diakibatkan oleh kekeliruan sang ekonom dalam memahami makna riba, bila ia yang gagal-paham-riba ini mengampu mata kuliah ekonomi Islam, yang melalui proses belajar-mengajar di ruang kuliah, ia mewariskan kegagalannya itu kepada para mahasiswanya. Karena sang guru “tersesat”, para muridnya pun ikut kehilangan arah.

Dampak pewarisan ajaran keliru dari sang dosen ke mahasiswa akan semakin meluas bila sang ekonom tadi juga meneruskan kegagalannya melalui buku yang ditulisnya.  Apalagi bila buku karyanya juga dipakai sebagai literatur oleh mahasiswa di perguruan tinggi lain. Ini benar-benar telah terjadi, dan saya telah menemukan salah satunya.

Pada hlm. 374, penulis buku teks Ekonomi Islam –– cetakan ke-6, Maret 2014 — mendasarkan pengertian riba dengan mengutip Umer Chapra, yang lalu diulang pada Daftar Istilah di hlm. 531: “Secara bahasa adalah ziyadah yang berarti tambahan (addition), pertumbuhan (growth), naik (rise), membengkak (swell), dan bertambah (increase).  Akan tetapi, pengertian riba secara teknis adalah pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil (wrongful devouring of property), baik dalam utang-piutang maupun jual beli. Riba ini secara garis besar terbagi atas (1) riba nasi’ah, yaitu riba dalam utang-piutang, yaitu bunga, dan (2) riba fadhl, yaitu riba dalam jual beli.  Dalam hukum Islam riba adalah haram.”

Jelas, menganut riba seperti itu mengacu pada makna riba yang telah diperbaharui. Yakni hasil kreasi Muhammad abduh (1939-1897), yang menggeser pengertian riba sebagai keuntungan (atas bagi hasil) agar tidak termasuk riba. Lalu diajarkan kepada sang murid, Rasyid Ridha (1845-1905) yang mendefinisikan ulang riba dan mengklasifikasikan riba menjadi dua: riba yang ditetapkan Al-Qur’an dan riba yang ditetapkan dalam Sunnah. Yang pertama disebut riba al-jahiliyah dan disamakan dengan riba an-nasi’ah yang hanya dikaitkan dengan utang-piutang; dan yang kedua menyebut riba al-fadhl sebagai riba dalam perdagangan.

Ajarannya itu kemudian dilanjutkan oleh para pembaharu dan penyokong perbankan syariah, termasuk ekonom syariah, yang lalu membuat klasifikasi riba baru. Yakni riba al-duyun pada kontrak yang mengandung unsur penundaan (utang-piutang dan penjualan tunda), dan riba al-ba’i pada kontrak yang tidak mengandung unsur penundaan (penjualan dan pertukaran). riba yang dikreasi itu untuk mendukung bank syariah, untuk mengislamkan bank.

Inilah saya kira mengapa Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia membantu biaya penyusunan buku Ekonomi Islam itu.

Pelajaran yang kuperoleh dari Shaykh Vadillo dan amir Zaim Saidi (melalui buku Tidak Syariahnya Bank Syariah), menyatakan, riba pada utang-piutang adalah riba fadl (terjadi karena adanya penambahan yang dilarang atau ada kelebihan disparitas/nilai), dan bukanlah riba nasi’ah (timbul akibat transaksi mengandung unsur penundaan yang dilarang atau ada selisih waktu).

Saya yakin, melalui buku yang penulisannya disponsori oleh bank sentral ini telah terjadi pewarisan ajaran keliru dari guru ke murid mengenai makna riba. Karena itu saya pun berusaha paham mengapa seorang karyawan bank syariah –– bahkan yang lulusan universitas berlabel Islam –– pun ngotot menolak kebenaran bahwa bank syariah sebenarnya tidak ubahnya serigala berbulu domba. Ia bahkan kukuh pada pendapatnya meski bank syariah tempat kerjanya disebut dengan rasa jijik sebagai serupa dengan rumah bordil Islam.

Ya sudahlah, saya tidak bisa memaksa mereka –– saya harus bersabar.

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaanNya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsuya dan adalah keraannya melewati batas. “   ~ Al-Qur’an Surat Al-Kahfi [18]: 28.

Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki ingin (kafir) biarlah ia kafir.” … ~ Al-Qur’an Surat Al-Kahfi [18]: 29.