Penyebab Terjadi Kebingungan Umat Tentang Fiqih RIBA

571

Ketika Allah menghendaki suatu kebaikan kepada seseorang dipahamkannya ia akan fiqih Dien (Hadits Syarif)

1. Larangan riba (semua bentuk bunga yang bisa dibayangkan) telah sangat jelas di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, namun ada kebingungan di banyak kalangan tentang arti sebenarnya dari riba. Apakah penyebab kebingungan itu?

Riba dilarang oleh nash al-Qur’an dan Sunnah. Inilah kesimpulan yang diambil oleh para ahli hukum Islam (fuqaha); dan ini juga merupakan pandangan kuat kebanyakan mayoritas dari cendekiawan Muslim modern. Terlepas dari kesepakatan umum ini, kebingungan terus berlanjut di benak banyak orang, baik di kalangan ahli hukum maupun orang awam, bahwa meskipun beberapa bentuk bunga dilarang, bunga tunggal yang dikenakan oleh bank dinyatakan mungkin tidak dilarang oleh hukum Islam. Sebagian orang menemukan konsep riba yang sangat membingungkan saat mereka tidak dapat menghubungkan teks-teks dengan yang dikatakan oleh para ulama tentang larangan tersebut, dan dengan definisi yang mereka rumuskan untuk riba.

Selanjutnya, ketika para ulama tidak dapat dengan meyakinkan menjawab pertanyaan tentang “nilai waktu atas uang di dalam Islam,” atau saat mereka tidak bisa mengidentifikasi dengan mudah transaksi-transaksi modern yang mengandung riba, kebingungan itu diperparah. Akibatnya, perbankan Islam (perbankan syariah) tampak bagi orang-orang seperti itu didasarkan kepada konsep yang samar-samar dan licik. Apa alasan keraguan itu? Mengapa beberapa orang mampu menegakkan larangan dengan keyakinan, sementara yang lain tidak?

Alasan utama kebingungan itu, menurut pandangan kami, adalah karena metode yang diadopsi oleh ulama modern dalam menyajikan alasan di balik masalah ini tidak terlalu masuk akal. Mereka menyimpulkan dengan benar bahwa riba, dan akibatnya bunga bank, dilarang, tapi ketika mereka menalar lebih jauh mengapa hal itu diharamkan, pandangan mereka terdengar tidak terlalu meyakinkan. Penyebab ketidakjelasan ini adalah karena para ulama ini tidak mempresentasikan argumen mereka dengan cara yang sesuai dengan metode interpretasi yang ditentukan oleh disiplin ushul fiqih atau mencoba mengelaborasikannya dengan karya-karya fuqaha dalam masalah ini. Sebagian telah memetakan jalur mereka sendiri dalam melakukan interpretasi, sementara yang lain menganggap bahwa para fuqaha terdahulu benar-benar mengabaikan bentuk transaksi yang kita temukan identik dengan transaksi yang dilakukan oleh bank saat ini, terutama bentuk pinjaman biasa dengan transaksi bunga. Anehnya, asumsi tentang karya fuqaha serupa itu dibuat baik oleh orang-orang yang menganggap bunga bank adalah ilegal maupun juga oleh mereka yang menyatakannya haram.

Tanggapan terhadap pendekatan atau pernyataan semacam itu adalah bahwa para fuqaha itu adalah para pengacara dan ahli hukum dalam budaya dominan pada zaman mereka, dan mereka tidak mungkin mengabaikan kasus-kasus ribawi yang sangat jelas yang muncul dalam perdagangan pada masa itu; kasu-kasus yang juga lazim dalam kehidupan komersial hingga saat ini. Mereka, dan masih berlaku sampai saat ini, adalah otoritas terkemuka untuk menafsirkan teks hukum Al-Qur’an dan Sunnah. Pandangan tentang fuqaha hanya bisa dipahami jika kita mencoba memahami metode interpretasi yang digunakan oleh mereka dalam penyelesaian masalah ini. Sayangnya, metodepara fuqaha, terutama para fuqaha terdahulu, telah diabaikan dalam diskusi tentang riba di zaman modern.

2. Orang-orang yang bertanggung jawab atas kebingungan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori.

1. Kategori pertama termasuk mereka yang bernalar dengan dasar ekonomi dan kebutuhan ekonomis akan riba. Mereka berpendapat bahwa berbagai kondisi ekonomi modern tidak berfungsi tanpa alat ekonomi yang disebut sebagai bunga. Mereka juga menegaskan bahwa tanpa bunga perbankan modern tidak dimungkinkan. Tugas fuqaha m bukan untuk memberikan justifikasi atau memberikan dasar rasional untuk pelarangan bunga. Oleh karena itu, kami membiarkan para ekonom Muslim untuk terlibat dalam argumen tanpa henti dengan orang-orang ini. Argumen ini bisa berakhir hanya bila sistem bebas-bunga diterapkan dan memberikan manfaat yang terkait dengan sistem keadilan distributif Islam. Tugas kita adalah untuk mengidentifikasi hukum dan membuat sebuah program untuk mengikutinya. Allah Yang Mahakuasa telah berfirmann: “Hai orang yang beriman, takutlah akan Allah dan lepaskanlah apa yang tersisa dari riba, jika kamu benar-benar orang yang beriman. Jika kamu tidak melakukannya, ketahuilah pernyataan perang dari Allah dan Rasul-Nya. “[Qur’an 2: 278, 279]

Sebagai argumen dari pihak-pihak yang menanggap bahwa bunga hanyalah “penyewaan uang” seperti uang sewa pada bentuk modal lainnya, sehingga mempersoalkan mengapa bunga harus dibidik dan dilarang, tanggapan kita adalah sebagai berikut: menyewakan uang adalah persis hal yang dilarang oleh Qur’an dan Sunnah. Kita akan berkesempatan untuk menunjukkan hal ini di halaman-halaman berikut nanti.

2. Kategori kedua termasuk ulama Mesir terkenal, Rashid Rida dan para pengikutnya. Rashid Rida yang berpendapat bahwa bunga sederhana (tunggal) tidak dilarang, oleh karena itu, rekening tabungan Kantor Post Mesir, yang diusulkan pada masa itu, adalah halal. Apa yang dilarang oleh Qur’an, menurut pendapatnya, hanyalah bunga majemuk atau bunga “berganda dan berlipatganda. ” Rashid Rida tidak memperhitungkan bukti-bukti sebagaimana yang dipersyaratkan oleh disiplin ushul fiqih dan berasumsi berasumsi bahwa teks dan bahkan fuqaha tidak secara eksplisit menyebut pinjaman dengan bunga. Kami akan menjelaskan metode yang dipakainya secara singkat berikut ini.

3. Kategori ketiga mencakup semua ulama modern. Mereka dengan benar menyimpulkan bahwa semua bentuk dari bunga adalah dilarang. Namun, dalam metode interpretasi mereka, mereka mendapat tekanan pengaruh besar dari argumen yang diberikan oleh Rashid Rida.

Tulisan Rashid Rida menyebabkan mereka untuk berasumsi bahwa fuqaha terdahulu tidak menghadapi dengan jelas bentuk bunga yang telah diketahui saat ini; yaitu bunga pinjaman atau bunga bank.

Para fuqaha, mereka menyimpulkan, terlalu disibukkan dengan suatu bentuk bunga yang mereka sebut “riba penjualan”. Hal ini membuat mereka mengabaikan karya-karya para fuqaha terdahulu atau tidak memberi mereka cukup perhatian. Hasilnya adalah ketika mereka menjelaskan arti riba atas dasar penalaran mereka, terdengar sangat tidak meyakinkan. Selanjutnya, ketika mereka membingkai definisi riba, definisi ini tidak secara langsung berhubungan dengan nash, dan nampaknya merupakan karya pikiran mereka sendiri. Akibatnya, hal ini telah menimbulkan sejumlah kebingunan tentang masalah riba dan kontradiksi-kontradiksi serta masalah dalam pelaksanaan larangan tersebut melalui perbankan syariah.

Dengan penuh rasa hormat atas ketulusan para ulama ini dan ajaran-ajarann mereka, permintaan kami pada mereka adalah tak perlu mengulang dari awal (reinvent the wheel), tapi untuk kembali saja kepada karya-karya fuqaha terdahulu, yang merupakan pemikir-pemikir hukum terkemuka dari dunia Muslim masa mereka, tapi masih tetap benar sampai saat ini. Masih ada waktu yang lacukup untuk melakukannya. Ini hanya perlu pengadopsian dari pandangan para fuqaha ayang dapat meminjamkan otoritas mereka terhadap upaya yang tengah dilakukan dalam mempromosikan perbankan syariat, dan lebih penting lagi untuk menyukseskan perdagngan Islam.

Karena kategori ulama yang terakhir ini juga bertanggung jawab atas keputusan yang diambil oleh Akademi Fiqih Islam OKI (Organisasi Kerjasama Islam), keputusan yang diambil oleh AAOIFI (Accounting and Auditing of Islamic Financial Institutions), dewan syariah, dan keputusan tersebut telah mempengaruhi keputusan Pengadilan di Pakistan, permintaan kami berlaku untuk semua institusi ini juga: ikuti metode para fuqaha atau, sekurangnya, sikapi penalaran mereka dengan argumen-argumen yang valid.

(Dinukil dari Kitab FIQIH RIBA karya Imran Khan Nyazee, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh perbit Pustaka Adina, Depok. Shaykh Imran Khan merupakan pengajar di Universitas Islam Islamabad, Pakistan).