Persyarikatan Dagang Nusantara (Perdana) Jakarta Telah Dibentuk

812

Suasana menjelang siang. Adzan Dzhuhur telah berkumandang. Panggilan sholat pertanda telah datang. Kaum muslimin pun merapatkan shaf, melakukan sholat. Kegiatan itu pun berlangsung di Zawiyya Sayiddi, Depok, siang tadi, Ahad 1 Oktober 2017. Zawiyya itu terletak di lantai atas Kafe Muamalah, tempat berkumpulnya para penggiat muamalah. Di sana juga saban pekan dilakukan kajian muamalah. Tapi ada yang berbeda di hari itu. Semenjak pukul 10 pagi hari, di halaman parkirnya, digelar pasar muamalah. Ini pasar yang digelar sebulan sekali. Pasar ini mengikuti Sunnah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam.

Menjelang adhzan Dzhuhur, pasar itu ditutup. Sekitar 200an orang memadati pasar itu sejak sebelum dibuka. Para ibu-ibu yang mendominasi. Di tangan mereka terpegang masing-masing 1 Dirham perak. Ini memang alat tukar yang digunakan. Mayoritas ibu-ibu itu adalah para mustahiq. Mereka mendapatkan Zakat yang dibagi oleh Amir Amirat Indonesia, Zaim Saidi. Zakat itu sebagai bentuk perputaran harta. Zakat ditarik dalam bentuk Dinar dan Dirham, sesuai Sunnahnya. Lalu dibagikan dalam bentuk Dirham pula. Tak ditukar dalam bentuk lainnya. Apalagi dalam wujud uang kertas, yang tak jelas statusnya dalam syariah.

Dirham hasil Zakat itulah yang kemudian digunakan sebagai alat berbelanja. Pasar pun menjajakan beragam dagangan. Mulai dari beras, shorgum, sandal, tas perempuan, kerudung, penganan ringan, obat-obatan sehari-hari, sampai madu pahit hutan. Beragam baraang dagangan dijajakan. Di pasar itu, terwujud beragam bentuk ibadah yang telah hilang, mulai kembali diwujudkan. Zakat berhasil ditunaikan. Dan muamalah pun berbilang. Karena sebelum pasar berlangsung, telah berlangsung beragam qirad dan syirkat, dalam wujud aslinya yang sesuai Sunnah Rasulullah.

Selepas pasar, para pedagang tak kembali pulang. Berkumpul dalam jamaah. Melakukan sholat Dzhuhur berjamaah. sSemmbari berdoa pertanda syukur telah melaksanakan pasar muamalah hari itu. Doa dipanjatkan agar upaya mengembalikan Deen Islam ini berbuah.

Selepas sholat, Amir Zaim Saidi memberi pengumuman singkat. Dia memberikan ceramah singkat. Puluhan jamaah mendengarkan khidmat. Amir Zaim Saidi mengumumkan hal penting. “Bahwa hari ini dibentuk Persyarikatan Dagang Nusantara yang disingkat Perdana,” ujarnya. Ini adalah perkumpulan para pedagang yang telah berkomitment untuk kembali dalam muamalah. Bentuk awalnya adalah para pedagang yang bersedia menerima dibayar dalam Dinar dan Dirham. “Para pedagang ini harus kembali dikumpulkan, ditabulasi agar kita bisa menjalankan muamalah dengan mudah,” ujarnya lagi.

Di sela-sela itu, sidi Catur Panggih ditunjuk sebagai koordinator PERDANA untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Tugas yang diembannya adalah menghimpun kembali para pedagang dalam urusan muamalah. Perdana tentu dibawah AMR Islam.

Selain di Jakarta, PERDANA juga telah sebelumnya terbentuk di wilayah Mangku Negeri Tanjung Pura Darrusalam, Ketapang, Kalimantan Barat. Inilah wujud mulai kembalinya muamalah di nusantara. Selanjutnya PERDANA akan dibentuk diberbagai daerah. Kesultanan Bintan Darul Masyhur juga telah dibentuk PERDANA. Wilayah Medan, Makasar, Luwuk, Bengkulu, Lampung, sampai Yogyakarta akan segera membentuk PERDANA pula. Ini tentu dalam rangka bingkai mengembalikan Deen Islam. Tentu tak lepas dari Amar Islam yang memayunginya. Insha Allah.