Prof. Timur Kuran: Ekonomi Islam Itu Tak Dikenal Dalam Islam

868

Belakangan ini istilah ekonomi Islam makin merebak. Saban hari ekonomi Islam dianggap menjadi alternatif dibanding ekonomi kapitalisme. Dasar ekonomi Islam inilah yang melahirkan berbagai macam produk yang berlabel-kan ‘syariah’. Mulai dari bank syariah, pasar modal syariah, asuransi syariah hingga gadai syariah. Berbagai lembaga turunan dari “ekonomi Islam” pun makin menghiasi bisnis di berbagai negara. Pertumbuhan dan perkembangan “ekonomi Islam” malah dianggap semakin menjanjikan. Sejumlah pakar “ekonomi Islam” merujuk bahwa pertumbuhan yang dicapai dalam berbagai produk dan lembaga ekonomi Islam itulah yang menunjukkan adanya kemajuan bagi umat Islam.

Hanya saja tak jamak yang memahami bahwa sistem ekonomi Islam yang dikembangkan itu justru sama sekali tak sesuai dengan Al Quran dan Sunnah. Artinya bertentangan sama sekali dengan syariat Islam. Pandangan ini setidaknya dipaparkan oleh Prof. Timur Kuran, pengajar di Duke University, Amerika Serikat. Beliau juga profesor pemikiran Islam dan kebudayaan di University of Southern California, Amerika Serikat. Beliau menuliskan sebuah buku berjudul “Islam and Mammon”, yang mana buku itu ditulis dengan dukungan Raja Faisal dari Arab Saudi.

Dalam buku itu, Prof Kuran menyatakan bahwa ekonomi Islam tidak berasal dari ajaran Nabi Muhammad Shallahuallaihi Wassalam. Melainkan, katanya, tradisi yang diciptakan semenjak tahun 1940-an di India. Gagasan tentang disiplin ekonomi “yang berbeda dan jelas tidak Islami” ini sangatlah baru. Bahkan, menurutnya lagi, seorang Muslim paling terpelajar seabad lalu akan tercengang dengan istilah “ekonomi Islam”.

Ide ini lahir dari gagasan seorang aktivis Islam, Abdul Ala Maududi (1903-1979), yang menyatakan bahwa ekonomi Islam merupakan suatu mekanisme untuk mencapai tujuan-tujuan: untuk meminimalkan hubungan dengan non muslim, memperkuat rasa identitas kolektif Muslim, memperluas jangkauan Islam ke daerah aktivitas baru manusia, dan modernisasi tanpa westernisasi.

Sebagai disiplin akademis, ekonomi Islam bergulir selama pertengahan tahun 1960-an, memperoleh bobot kelembagaan selama era booming minyak tahun 1970-an. Yakni kala Arab Saudi dan eksportir Muslim lainnya untuk pertama kalinya memiliki sejumlah besar uang, menjadikannya sumber “bantuan besar” bagi proyek tersebut. Zaim Saidi, penulis buku “Tidak Syar’inya Bank Syariah” meyatakan, di Indonesia, sebutan “ekonomi Islam” diperlunak menjadi “ekonomi syariah” yang berkembang sejak 1990-an kala Orde Baru mulai ramah terhadap Islam.

Prof Kuran juga menegaskan, “Di sini tidak ada sedikit pun cara yang jelas Islami untuk membangun sebuah kapal, atau mempertahankan suatu wilayah, atau menyembuhkan epidemi atau ramalan cuaca,” lantas mengapa soal uang diadakan?

Beliau menyimpulkan bahwa signifikansi ekonomi Islam tidak terletak pada substansi ekonomi, tetapi dalam identitas dan agama. Bagi Prof. Kuran, skema “ekonomi Islam” lebih mempromosikan penyebaran aliran pemikiran anti modern yang berkembang di seluruh dunia Islam. Hal ini hanya cocok bagi tumbuhnya lingkungan kondusif untuk militansi Islam yang salah arah.

Zaim Saidi memaparkan kemudian, Islam memang sama sekali tak mengenal “ekonomi” apalagi ditambah embel-embel “ekonomi Islam”. Islam, katanya, hanya mengenal muamalah. “Muamalah itu berbeda dengan ekonomi Islam,” ujarnya.