Ramai Qirad Berlangsung Menjelang Pasar Muamalah

508

Pasar muamalah akan berlangsung di Depok, Jawa Barat pada tanggal 16 April 2017, Ahad ini. Persiapan menjelang pasar pun dilakukan. Pasar ini berlangsung saban bulan secara rutin. Sebelum pasar diadakan, telah dibagikan Zakat berupa Dirham perak sebanyak 120 Dirham kepada mustahik yang berdomisli di sekitar pasar. Zakat itu berasal dari Amir Amirat Indonesia, Zaim Saidi, yang menarik Zakat mal dari para muslimin. Zakat kemudian dibagikan dan supaya Dirham bisa dibelanjakan, maka diadakanlah pasar.

Pasar ini menerima pembayaran dengan Dinar dan Dirham. Selain juga untuk sementara berlaku uang kertas dan lainnya. Namun ada yang menarik dari pasar ini. Sudah menjadi tradisi, Qirad pun ramai dilakoni para pedagang dengan pihak lain. Misalnya sidi Reza berqirad dengan Imam dari Surabaya. Pria itu yang memodali Reza untuk berjualan aneka penganan snack ringan di Pasar Muamalah nanti. Bukan cuma itu. Saudara Ilham Prasetya Gultom dari Medan juga berqirad dengan sidi Helmi untuk berjualan susu, roti dan lainnya. Hasil dari qirad ini yang nantinya akan dibagi. Pembagiannya bisa setengah-setengah dari yang ber-qirad, atau bisa juga berdasarkan kesepakatan dari pihak-pihak yang berqirad tadi.

Qirad merupakan sunnah. Dengan pola qirad inilah maka setiap orang bisa berjualan di pasar, tanpa perlu meminjam utang dari lembaga yang bersifat riba. Dalam qirad berlangsung hukum Sunnah. Jika pedagang mengalami kerugian, maka pedagang tak perlu menanggung rugi seluruhnya. Dan modal untuk berqirad itu bukan tergolong utang. Berbeda misalnya jika si A meminjam modal untuk berdagang di Pasar dari sebuah bank. Maka pinjaman itu dikategorikan utang, dan pihak bank wajib menerima pengembalian modal plus bunga. Tentu tanpa mau tahu apakah proses dagang itu untung atau bangkrut. Dari sinilah ketidakadilan sistem ribawi. Sunnah telah memberikan jalan keluar bagaimana keadilan yang semestinya. Qirad adalah salah satu muamalah yang kini harus dikembalikan lagi di tengah para muslimin.