Sebuah Kisah Tentang Al Hambra, Granada

438

Ada rasa senang dan sedih, kala berkunjung ke Al Hambra, pekan lalu. Lokasinya nun jauh, di Granada, Spanyol sana. Dari nusantara, tentu itu perjalanan yang butuh waktu. Tapi Al Hambra adalah jejak yang tersisa nyata dari dinasti Andalusia. Epos tentang Islam pernah berjaya di belantara Eropa, terekam benar di Al Hambra. Itu adalah sebuah istana yang megah. Saban hari, kini, sekitar 80 ribu orang berdatangan dari penjuru dunia. Mereka, para turis, mengunjungi Al Hambra, karena terkesima bangunan megahnya. Di sanalah, sebuah istana yang di bangun sejak abad 13, tapi telah menggunakan teknologi, yang kaum era sekarang pun kebingungan memikirkannya. Ada kubah yang tiga dimensi. Ada air yang mengalir dengan tertata rapi.

Taman-taman indah mengelilingi sepanjang istana. Di tengah istana, sebuah kolam berbentuk persegi panjang, yang sama sisi. Ini adalah tempat perenungan, karena kolam itu selalu terbelah dalam dua bayangan, sepanjang hari. Ada sisi kolam yang terang, dan ada yang gelap. Selalu begitu. Itu pertanda siang dan malam. Kolam itulah simbol tasawuf yang tinggi. Di dindingnya, ukiran huruf arab melingkar-lingkar sepanjang istana. Kaligrafi menguasai istana itu. Pemandiannya dibuat sedemikian rupa. Hingga nyaman bagi para penghuninya. Inilah bentuk istana yang megah, mewah, dan luar biasa indah. Tak heran, bagi manusia era sekarang, Al Hambra adalah bentuk ketakjuban terhadap manusia era dulu, abad 14 lalu.

Al Hambra dibangun dari Sultan Muhammad I al Ahmar (1237-1273). Dia yang memulai pembangunan istana megah ini. Dilanjutkan hingga Sultan Yusuf I. Mereka sebagai punggawa dinasti Andalusia. Karena jejak muslim mulai berkuasa di Andalusia, sejatinya telah dimulai kala Tariq Bin Ziyad, semoga Allah meridhoinya, memimpin penyerbuan terhadap Kerajaan di Spanyol. Raja Roderick di penggal dalam pertempuran, dan kaum muslimin pun mulai menjejak di Eropa. Tariq memimpin ekspedisi penaklukan hingga belantara Sevilla, bahkan sampai bumi Perancis sana. Itu masih di era Dinasti Umayyah, abad 8 lalu. Disitulah kecemerlangan Islam memulai. Kisah Tariq begitu membahana. Dia memimpin para muslimin dari Maroko hingga menyeberangi Spanyol. Begitu sampai, dia membakar kapalnya dan berkata, “Pilihan kita hanya dua, menang atau mati secara syahid di sini, karena tak ada jalan untuk kembali!”. Tentara Kristen Katolik di bawah Kerajaan Roderick pun kucar kacir. Muslimin mulai menaklukan Spanyol. Sejak itulah Kesultanan pun berdiri di bumi Andalusia. Hingga kisah Murabitun dan Muwahidun pun terpatri di sana. Islam di Andalusia makin membesar. Dari abad 8 hingga abad 15, itu sekuel yang panjang. Bahkan Sultan Abdarahman III pernah menjadi Khalifah dari Andalusia. Dia Sultan sekaligus pemimpin Khalifah muslimin seantero dunia.
Kala Al Hambra di bangun, kisah tentang Utsmaniyah mulai berdiri muncul di bumi Anatolia (kini Turki). Kesultanan Utsmaniyah di Timur mulai merangsek menyebarkan Islam hingga Eropa Timur. Andalusia pertanda Islam telah menjejak di Eropa Barat.

Tapi Al Hambra adalah kisah yang berbeda. Ini puncak tingginya teknologi yang dikuasai kaum muslimin kala itu. Bahkan kala kaum eropa belum mengenal kopi, para muslimin Andalusia telah meminumnya sebagai santapan pagi. Tak heran kopi dikenal sebagai “wine” nya para sufi. Ending kisah Al Hambra berada di tahun 1492. Kala itulah istana Al Hambra diserbu Pasukan Kristen Katolik, yang mendapat SK resmi dari Gereja Katolik Roma. Ini sebagai bentuk reconquesta (pembalasan dendam). Kala dulu Tariq bin Ziyad memimpin ekspedisi penaklukan terhadap Raja Roerderick, kini Sultan Muhammad XII, yang memimpin Andalusia terakhir, menjadi ditaklukkan. Istana Al Hambra pun diambil alih. Ferdinand II menjadi Raja di sana. Tapi kisah penaklukkan itu tak biasa. Seluruh kaum muslimin di usir dari bumi Spanyol. Bukan sekedar Istana Al Hambra saja yang diambil alih. Perkampungan Albaicyn, yang persis berada sekitar 3 km diluar Al Hambra, pun porak poranda. Perampasan terjadi besar-besaran. Muslimin era itu disuruh memilih, pergi atau memeluk agama Kristen. Alhasil banyak yang meninggalkan Eropa. Drama pengungsian pun menjalar berabad-abad. Bahkan kala era Sultan Sulaiman al qanuni memimpin Kesultanan Utsmaniyah, dia memerintahkan ratusan kapal dari Utsmani untuk mengangkut muslimin yang hendak menyelamatkan diri dari Andalusia. Al Hambra pun jadi markas Raja Ferdinand, berlanjut ke Charles V, kaisar Kerajaan Romawi Suci, pengganti Romawi yang runtuh di Barat.

Kala Sultan Muhammad XII kalah perang, dia menangis. Tapi ibunya berkata pedas, “Itulah akibat kamu terlalu cinta dunia!” katanya. Memang Al Hambra seolah jauh dari Amal Madinah. Konsep kehidupan ketatanegaraan muslimin yang diletakkan sejak era Khulafaur. Jika Umar Bin Khattab masih hidup, mungkin dia juga akan marah. Karena Istana Al Hambra terlampau mewah. Umar sebagai Khalifah, dikenal istana-nya hanya ada di bawah pohon kurma. Al Hambra, walau kecanggihan teknologinya diakui hingga kini, tapi itu bukan cara hidup muslimin yang semestinya. Sultan dan umat terpaut jauh, terpisah oleh dinding benteng istana yang tinggi. Kemewahan di dalam istana, bisa dimaklumi itu membuat kekalahan, karena hidup terlampau mewah, membuat kita kalah perang. Al Hambra membuktikan demikian.

Tahun 1870, Washington Irving, penulis dari Amerika datang ke Al Hambra. Dia terpesona luar biasa. Irving menuliskan terang tentang kemutakhiran istana Al Hambra, lewat karyanya “Tales of the Alhambra”. Tak heran, Al Hambra inilah yang ditiru kota Nevada, Amerika, untuk membangun yang serupa di sana. Tahun 1870, Al Hambra ditinggalkan Raja Katolik. Dia tak lagi bertahta di sana. Istana itu pun kini menjadi museum sejarah. Tak ada kekuasaan yang berpusat di Al Hambra. Perkampungan Al Baicyn kini mirip seperti wilayah Kuta, Bali. Para bule-bule kulit putih berpakaian minim, ke sana kemari. Mereka meminum alkohol, berseliweran demi kesenangan. Bau semerbak ganja, bisa tercium biasa dari cafe-cafe sana. Kawasan itu menjadi ajang wisata. Gereja-Gereja, yang dulunya masjid, pun ikut mati. Menjadi ajang kunjungan wisata juga. Tak ada lagi aktivitas Kekristenan di sana. Di Al Hambra, Islam telah lewat, Kristen juga tak ada nafasnya lagi. Di sana Cuma ada kapitalisme yang membabi buta. Mereka bersenang-senang, pesta pora, tari flamengo bersuara setiap hari. Pengemis pun bertaburan, tanpa ada yang perduli. Itulah Granada kini.

Tapi di sebuah sudut, sebuah cahaya bersinar. Persis di seberang Al Hambra, sebuah masjid kembali berdiri gagah. Pendirian masjid itu atas perintah Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia. Dia juga kulit putih, tapi ingin agar Andalusia kembali. 23 Tahun masjid itu belum bisa dibangun. Bahkan pembahasannya sampai tingkat Parlemen Spanyol. Banyak yang menentang, tak diberi ijin dari pemerintahan. Tapi berkat perjuangan muslimin Spanyol kini, La MezQuita de Granada berdiri gagah di seberang Al Hambra. Itulah harapan. Al Hambra adalah masa lalu. Masjid Granada adalah masa depan. Saban pekan, ada saja orang yang bershahadat di masjid itu. Shahadat menjadi pemandangan biasa. Putera-putera Andalusia mulai bangkit. Mereka ingin Al Hambra kembali. Tapi tak perlu direbut dengan jalur perang. Cukup dengan menegakkan Amal Madinah, sesuatu yang kini hilang. Pendirian masjid itu di bawah Amirat Granada. Inilah bentuk kepemimpinan yang kini mulai diterapkan. Jatuhnya Islam karena muslimin tak lagi hidup terpimpin.

Tapi Granada membuktikan, Amirat itu bisa berhasil membawa jamaah Islam menuju kemerdekaan dan menegakkan lagi keadilan. Bagi muslimin yang ingin mencari, datanglah ke Al Hambra. Saksikanlah bahwa Islam dulu pernah menjadi peradaban. Tapi mampirlah ke Le Mezquita de Granada, seraplah cahaya dari sana. Karena dari masjid itulah peradaban kembali akan berganti.Seperti yang Allah Subhanahuwata’ala katakan dalam Surat An Nur ayat 55. Seperti yang Rasulullah ucapkan dalam sabdanya, bahwa Islam akan kembali menuju kemenangan. Tapi penglihatan itu akan sulit terserap, jika anda sekedar jadi turis di Al Hambra.