Singgahlah Di Balai Singgasana Kesultanan Bintan

70

Ruangan itu begitu teduh. Karpet biru bercorak lurik menghiasi lantai. Ukurannnya tak terlampau besar memang. Tapi ruangan itu berisi beragam aktivitas Islam kerap digunakan. Di dindingnya bendera Kesultanan Bintan Darul Masyhur membentang. Lambang tegaknya Kesultanan Bintan di bumi Melayu. Bendera itu berwarna hitam dengan ditengahnya logo Kesultanan Bintan. Beberapa pedang di kanan dan kiri logotu sebagai tanda kesultanan telah membentang. Logo itu sekilas mirip dengan logo Kesultanan Utsmaniyah, era abad pertengahan dulu.

Di dinding depan, sebuah kanvas bertuliskan lafaz “Allah” dengan huruf kufi tampak gagah. Di bawahnya, membentang gambar desain imaret Kesultanan Bintan yang terletak di kaawasan Tembeling, Bintan, Kepulauan Riau. Itulah cita-cita dan program besar dari Kesultanan Bintan, dalam merestorasi sultaniyya di nusantara. Kawasan itu rencananya menjadi perwujudan pesantren dan segala kegiatan berbasis Islam lainnya. Desain itu juga tak sembarangan. Datang dari negeri Inggris sana. Karena sang pembuat desain seorang muslimin asal Inggris, Abdal Halim Orr, yang telah sejak setahun lalu datang ke Kesultanan Bintan untuk membuat desain tersebut. Kini telah itu telah siap, dan menjadi bahan untuk pembangunannya.

Gambaran itu merupakan pernak-pernik yang menghiasi Balai Singgasana Kesultanan Bintan Darul Masyhu. Balai itu berupa bangunan berbentuk rumah, yang dimiliki Sultan Huzrin Hood. Beliau-lah Sultan Bintan Darul Masyhur. Di tangannya AmR Islam kembali dan syariat Islam tengah diupayakan kembali ke bumi Bentan ini.

Balai Singgasana menjadi wadah bertemunya para tetamu dari berbagai manca negara. Muslimin dari Cape Town, Afrika Selatan, Inggris, sampai tamu dari Swiss kerap datang ke Bintan untuk berkunjung. Itu pertanda Kesultanan Bintan tengah menjadi sorotan dunia internasional.

Sultan Huzrin Hood didapuk menjadi Sultan Bintan semenjak tahun 2012 lalu. Di tangannya restorasi syariat Islam tengah dikembalikan. Pasar berbasis Sunnah telah didirikan. Jaraknya persis di depan kediaman Sultan Huzrin, yang berjarak sekitar 5 km dari Balai Singgasana. Selain itu, di Bintan ini pengguna Dinar Dirham mulai merebak. Banyak pedagang menyadari pentingnya menggunakan alat tukar syariat ini. Lokasi Bintan juga sangat strategis. Karena hanya berjarak 2 jam dengan Singapura dengan ferry. Lalu 3 jam dengan Johor Bahru, Malaysia. Di apit dengan Pulau Batam yang merupakan trendsetter perdagangan di wilayah Indonesia barat. Kesultanan Bintan pun berada di tengahnya untuk menegakkan syariat yang kini roboh.

Semenjak tahun 2012, Amir Rizal Moeis dan keluarganya memutuskan berhijrah ke Bintan dari Medan. Perpindahan Amir Rizal itu memperkuat pondasi Kesultanan Bintan dalam menerapkan syariat Islam sebagai permulaan. Di tambah sebelumnya sosok Muqadim Ahmad Angkawijaya, yang kini telah almarhum, pria yang dikenal “the silent man” berada di balik layar hadirnya Kesultanan Bintan. Di samping itu sosok Sultan Huzrin Hood merupakan menggawasi Kesultanan Bintan merupakan tokoh besar bagi masyarakat Melayu di Riau dan sekitarnya. Beliaulah yang berada di balik layar pemekaran propinsi Kepualauan Riau dari propinsi sebelumnya. Kini perjuangannya bertambah pada mengarah syariat Islam. Kesultanan Bintan berada dalam genggamannya untuk kembali tegak berdiri, laiknya dirinya memerdekakan Propinsi “Kepri” dulu.

Tahun 2014 lalu, Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia yang menetap di Cape Town, Afrika Selatan, begitu mengapresiasi tentang Kesultanan Bintan. Beliau tampak bangga tatkala menerima buku Sesat di Ujung Jalan Balek ke Pangkal Jalan yang ditulis Emil Aulia, seorang fuqara asal Minang. Hal itu pertanda dukungan Shaykh Abdalqadir pada Kesultanan Bintan. Salah satu “perintah” Shaykh Abdalqadir kepada para fuqara adalah mendirikan masjid di Kesultanan Bintan. Dan, tahun lalu, 2016, lahan seluas 2500 meter persegi telah brhasil di bebaskan untuk pembangunan Masjid Huzrin Hood di kawasan Toapaya, Bintan. Di sanalah akan berdiri masjid yang bersandingan dengan pasar. Istilahnya wakaf terpadu. berdirinya masjid dan imaret di Toapaya itu kini menjadi agenda besar Kesultanan Bintan.

Kini Kesultanan Bintan menjadi salah satu destinasi kehadiran fuqara-fuqara dari seantero dunia. Insha Allah muamalah dan syariat Islam akan terus membentang di wilayah ini.