Solusi Tuntas Masalah Palestina

481

Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi –

Perjuangan nasionalisme harus dihentikan. Masalah Palestina akan tuntas bila dikembalikan kepada Dienul Islam.

Allah Ta’Ala berfirman dalam surat at-Taubah (9:112),

‘Mereka yang bertaubat, mereka yang beribadah,
mereka yang bertahmid,
mereka yang shaum,
mereka yang ruku’,
mereka yang sujud,
mereka yang beramar ma’ruf dan mencegah kemunkaran,
dan yang menjaga batasan-batasan (hudud) Allah: berita gembira bagi para mu’minun.’

Walaupun program kafir untuk memusnahkan Muslimin dari muka bumi semakin cepat, suatu peristiwa yang sama sekali bukan bagian dari teori maupun praktek konspirasi manapun, yang kini bahkan menjadi keseharian di segenap penjuru bumi, tetap tidak menggugah umat kita untuk menyadari suatu jebakan yang mereka pasang. Dan tak sadar pula pada jerat-ganda yang ditimpakan kepada kita.

Yang saya maksud dengan jerat-ganda adalah kita dipaksa kepada salah satu dari dua ekstrem yang tak satupun dapat kita terima sama sekali. Di satu sisi kita dituduh, atau dipaksa diarahkan untuk mendukung program teror, sedangkan di sisi lain kita digiring berperan pasif yang memperbudak kita untuk berbai’at kepada kaum kufar atau bahkan berperan aktif untuk menyatakan bahwa kita sudah mencampakkan Iman guna memeluk Tolerance (Toleransi).

Kaitan Terorisme dan Kapitalisme
Hari demi hari kita dikejutkan oleh berita genosida Muslimin dari Kosovo hingga Karakoram. Kita senantiasa perlu mengingatkan diri bahwa bersamaan dengan genosida ini berlangsung aksi-aksi bunuh diri yang memalukan akibat dari campur aduknya keputusasaan dan produk kebijakan politik yang amat ganas; pada saat yang sama berbagai peristiwa semakin menelanjangi bahwa terorisme adalah kebutuhan khas bagi krisis internal kapitalisme yang kini tengah dalam tahap akhirnya. Eratnya aksi-aksi teror dan tatanan sistem kapitalisme semakin jelas dengan dibongkarnya dialektika teroris. Kita ajukan pertanyaan yang telak – pihak manakah yang diuntungkan oleh terorisme? – dan tak pelak kita temui jawabannya, yang diuntungkan adalah mereka yang ingin memaksa dunia kepada perbudakan warganya sendiri, walaupun itu harus menghapuskan kebebasan masyarakat yang dari dulu mereka sesumbarkan sebagai hasil karya mereka yang utama.

Dalam Penyidikan Fakta oleh Pemerintah AS mengenai kegagalan sistem keamanannya dalam mengantisipasi dihancurkannya dua menara WTC, New York, pola interogasi yang kian menjadi penting mulai mencuat. Beberapa saksi penting mendapat pertanyaan yang sama: ‘Apakah anda mendukung pernyataan bahwa tanpa hancurnya menara WTC, kita (AS) tidak mungkin bisa memerangi Afghanistan?’

Semua berkesimpulan bahwa AS tak mungkin memasuki Afghanistan tanpa teror peledakan dua menara itu. Ini berarti jika kita lihat dari sudut lain bisa kita katakan AS bisa masuk Afghanistan karena peledakan itu. Dengan kata lain ada ikatan simbiotik antara menguasai Afghanistan dan dasar pengabsahannya. Dengan demikian kita terpaksa mengakui, walaupun tak enak untuk kita, bahwa dalam keadaan mengenaskan massa Arab dan Berber yang kini tanpa kepemimpinan ini, sebagian daripadanya mudah saja untuk diajak dan dilatih melakukan aksi bunuh-diri yang digambarkan sebagai kejayaan tertinggi bagi mereka. Sial bagi para pembom bunuh-diri ini, ia bukan garuda yang bangkit kembali dari abunya namun hanya kambing gulingnya pihak yang melemparnya ke bara api.

Walaupun tak enak kita harus kembali menilik keadaan di Palestina. Sudah sedemikian lama kita manahan diri untuk tidak membuat kesimpulan apapun karena kekuatan genosidal tirani Israel demikian menjijikkan dan buas. Yang dilakukan oleh Hitler di Lidice hanya melumatkan satu desa, yang dilakukan orang Israel melumatkan desa demi desa di Palestina. Tak pelak lagi kita dapati fakta bahwa kini kelakuan para korban jauh lebih sadis dari penindas mereka dulu. Sayang, ada kenyataan pahit yang harus kita terima, yaitu sementara kita tak bisa mengharap Israel berubah, pada saat yang sama, kita harus menghakimi Palestina berikut yel-yel Islaminya dengan hukum Allah karena mereka adalah Muminun.

Masalah ini menjadi sangat penting karena menyangkut penderitaan keluarga-keluarga Muslim dan juga karena kini membuat seluruh Umat Muslim manjadi tawanan, yang tebusannya adalah kita harus menjadikan diri sesuai dengan apa yang mereka sebut sebagai Islami, dan ini adalah sikap yang membatalkan Syariah Islam yang telah tegak selama satu setengah milenium. Karena upaya dan gerakan mereka berisiko kita kehilangan Din dan keutuhannya, tentu kita tak boleh diam. Allah Ta’Ala mengatakan di surat al-Anfal (8:24-25),

Wahai yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul untuk apa-apa yang menghidupkanmu!
Ketahuilah sesungguhnya Allah mempengaruhi antara manusia dan qalbunya dan sesungguhnya kepadaNya kalian akan dikumpulkan.
Dan bertakwalah dirimu dari fitnah-musibah yang tak hanya menimpa mereka yang zalim di antara kamu.
Dan ketahuilah Allah amat keras siksaan-Nya.

Mengapa Membunuh Anak-anak?
Peringatan Allah ini mengharuskan kita melihat urusan intern masyarakat persada kelam tersebut dengan pandangan yang dingin. Kita harus bertanya, apa motif para pembunuh anak? Apakah agar Israel kalah? Karena bunuh-diri sebagai bentuk serangan berujung statistik yang tak bisa dihindari, yaitu pada akhirnya tak akan ada lagi orang Palestina, tak-tik untuk mencapai kemenangan ini tentu saja aneh. Lebih aneh lagi jika mereka melakukannya demi masa depan rakyatnya, tentu saja rakyatnya tak memiliki masa depan karena masa depan tersebut dikorbankan dalam ikatan Semtex (bahan peledak). Sayangnya, walaupun tak sejijik praktek bunuh-dirinya, ada lagi yang harus kita hadapi, yaitu motif politiknya. Politik teror-nya Isma’ilisme bekerja bersandar pada dipilihnya anak demi anak dari keluarga ini dan itu, dan ketika anda kehilangan anak anda, keluargamu akan terpaut menjadi pendukung politik mereka.

Ada dua kemungkinan untuk masa depan politik Palestina. Pertama, karena kecapean dan kepayahan, para yahudi akan berdamai dan menyerahkan diri mereka kepada kekuasaan yang akan memerintah, yaitu kepemimpinan berbasis teror. Ini berarti bangsa Palestina akan dipimpin kaum elit yang tak terluka sedikitpun, dan akan memerintah sanak-famili yang putra-putranya telah dikorbankan di singgasana ambisi politik mereka.

Kedua, kekuatan asing dalam kancah politik global akhirnya sadar bahwa pembunuhan massal yang dilakukan Israel berakibat citra buruk bagi humanisme, sehingga meluluskan Palestina menjadi negara yang diperjuangkannya, dan tak berbeda dengan penyedotan bersih Irak, akan menerapkan cara yang sama ke atas Palestina. Pendeknya, mega-pinjaman dari Bank Dunia, sebuah konstitusi yang isinya ‘semua agama sama’, dan wanita kristen sebagai presiden.

Umar Ibrahim Vadillo dalam buku ‘The Esoteric Deviation in Islam’ yang memberi analisa sangat kuat atas tahap-tahap yang kita lalui sampai kekacauan masa kini, mengulas hal ini dengan dalam. Pada topik berjudul ‘The Palestinian Issue’ (hal 543) ia mengatakan:

‘Jatuhnya Palestina adalah akibat langsung dari jatuhnya ke-Khalifahan. Dengan demikian secara tak langsung semua pihak yang terlibat dalam perjuangan melawan Khilafah Osmanli bertanggungjawab atas terjadinya bencana Palestina. Ironisnya kesukuan Arab (Arabisme) yang merupakan tesis sentral pembebasan Palestina, sebenarnya adalah salah satu alat Inggris guna melumpuhkan ke-Khalifahan. Ketika mayoritas bangsa Arab tetap patuh pada Khalifah, gerakan-gerakan reformasi Arab-Islami yang terdiri dari berbagai perkumpulan dan kelompok dari yang berbasis nasionalis murni sampai reformasi agama, menempatkan diri mereka melawan Khalifah. Nasionalisme dan kesukuan Arab berakibat bencana bagi Palestina seraya menjamin langgengnya pendudukan Israel. Nasionalisme tak dipahami dengan baik oleh para reformis dan mereka pun kalah dalam manipulasi dan permainan pihak Inggris dalam mengusungnya.

[…] Nasionalisme tidak pernah menjadi solusi perjuangan Palestina. Lebih dari gerakan zionis, penciptaan negara Israel lebih disebabkan oleh gagalnya memahami bahwa musuh sebenarnya adalah kapitalisme, dan gagalnya menegakkan atau mengembalikan tatanan Islam.’

‘Ikhwanul-Muslimin yang jauh lebih mengedepankan perjuangan nasionalis Palestina dibandingkan siapa pun, harus mengakui andilnya dan harus turut bertanggungjawab atas gagalnya perjuangan ini. Muslimin tak bisa menyalahkan zionisme untuk keadaan Palestina, kita hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Bagi gerakan-gerakan reformis yang baru timbul di masa itu, nasionalisme adalah jebakan. Dengan tangkas dan tanggap mereka memeluk kapitalisme, lebih parah lagi mereka mengislamkannya. Dari sudut Islam perjuangan Palestina bukalah isu nasionalis namun seharusnya seluruh Ummat Muslim menaati Perintah Allah untuk menghilangkan riba yang berarti musnahnya kapitalisme. Ikhwanul-Muslimin tak hanya salah baca namun juga menggiring jutaan warga Palestina kepada bencana, tapi sebenarnya mereka sendirilah kampiun bencana karena telah ‘mengislamkan kapitalisme’. Secara aktif Ikhwan mendukung fenomena perbankan Islam dan mengusung reformasi atas Syariah agar bisa menerima kapitalisme. Ujungnya Hasan al-Banna harus dimintai pertanggung-jawabannya karena telah menciptakan salah satu organisasi yang terburuk dalam sejarah Islam, dan yang telah menghasilkan kegagalan demi kegagalan, belum lagi kematian ribuan pengikutnya sendiri, ini semua demi satu-satunya keberhasilan politik mereka: Perbankan Islam.’

Sebagaimana diuraikan dengan rinci oleh Umar Ibrahim Vadillo, keputusan politik bangsa Arab modern yang membawa bencana itu bersumber dari kesalahan membaca modernisme, maksud kami adalah dikalahkannya tatanan politik demi dominasi proses teknologi, yang merupakan hasil dari kesalahan mendasar atas pemahaman ‘aqidah. Dan itupun akhirnya menghasilkan serangkaian doktrin palsu yang dikeluarkan ‘ulama palsu yang ingin bergegas bergabung memeluk sebuah teknik, meski berarti menghancurkan Dinul Islam. Dihapuskannya Fiqh Islam berarti digantikannya dengan prinsip-prinsip Islam. Prinsip-prinsip ini kemudian dengan mudah bisa diterjemahkan menjadi demokrasi, hak-hak asasi manusia, dan perbankan. Di jantung semua ini adalah obsesi yang berlebih-lebihan kaum kuffar untuk menerapkan praktek demokrasi.

Para cendekiawan Arab yang otak mereka telah beku gara-gara politik pribadi, tak sedikitpun sadar terhadap barisan gunung Himalaya kenyataan sosial-kemasyarakatan yang terpampang di hadapan mereka. Apakah gunung Everest-nya politik modern? Sistem demokrasilah yang mencetak keberadaan tatanan dua dimensi. Dimensi pertama adalah pemerintahan. Pemerintahan yang demokratis meniadakan semua kuasa dan kendali atas pengadaan uang, yang malah menjadikan struktur politik tak berkuasa. Dimensi kedua adalah, agar ada panggung perwakilan politik, sensus perlu dilakukan untuk mendaftar para pemilih, padahal fungsi sebenarnya adalah untuk mendaftar mereka yang akan dijadikan penghutang melalui pemajakan dan ekonomi berbasis hutang. Karena penhujung proses ini sudah tiba, dan karena kita kini berada di penghujung sebuah zaman, dan zaman tersebut bukanlah diakhiri dengan runtuhnya dua menara WTC dan bukan pula oleh luluh-lantaknya dua kota Hiroshima dan Nagasaki, zaman ini diakhiri dengan runtuhnya ke-Khalifahan. Dan sebagaimana Profesor Vadillo uraikan dengan rinci di bukunya, dan cepatnya bagsa Arab merubung nasionalisme bak semut merubung gula, menenggak arak marxisme dan kemerdekaan yang memabukkan – kesimpulan dari ini semua kita bisa melihat keadaan saudara-saudara Arab kita yang perlu kita kasihani. Setiap diri mereka terpaut dalam jurang negaranya sendiri. Terlepas dari berhubungan dengan sesiapapun, kini bangsa Palestina berusaha menggali jurangnya sendiri. Kita kini sudah mencapai dasar jurang perjuangan nasionalis.

Kita sebagai Ummat Muslim bergidik ngeri melihat seorang kanak-kanak Palestina dibungkus dengan sebuah jaket yang kelak akan dijadikan kain-kafannya, di depan kamera-kamera tv dunia dengan perlahan-lahan menelanjangi diri, dan melepas gundukan-gundukan bahan peledak Semtex dari badan kecilnya yang lemah. Kita tak bisa menerima peristiwa ini tanpa dibanjiri rasa malu dan amarah. Mereka yang bertanggungjawab atas hal ini adalah penjahat. Andai dalam pemerintahan Palestina ada Islam bukanlah anarki seperti sekarang ini, pasti para pelakunya harus menghadap Qadi. Tak ragu lagi dari segi syairat mereka akan dijatuhi hukuman mati.

Kembalikan ke Dinul Islam
Dalam kekeruhan masalah ini kita harus tetap berpikir jernih. Yang harus kita tahu dan beri contoh adalah, seandainya dijatuhi hukuman, apakah yang dihukum diperkenankan atau tidak untuk melakukan dua rakaat shalat sebelum hukuman matinya. Ketika pemimpin Bani Saud yang memberontak diboyong ke Istanbul oleh gubernur Mesir, Sultan memerintahkan agar ia diadili oleh Syekhul-Islam dalam ‘aqidahnya dahulu, baru kemudian diadili tindak pemberontakannya. Keputusan Syekhul-Islam Hanafi adalah bahwa Saud adalah zindiq ekstrim yang harus dipenggal tanpa diperbolehkan melakukan dua rakaat shalat. Kepalanya kemudian dipajang di dinding Topkapi. Keturunan-keturunan Saud inilah yang kini menjadi pendana dan pendukung bencana kita. Di jantung masalah Palestina ini tak nampak keganasan Israel, namun nampaklah Syirk-nya para ‘ulama yang berdasarkan pendapat pribadi mereka sendiri membolehkan dibunuhnya warga tak bersalah.

Setiap segi kepemimpinan Palestina sangat buruk. Dari dibunuhnya kanak-kanak, hingga pembunuhan putra-putri mereka, hingga yel-yel gila mengajak perang melawan AS dan antek-anteknya. Bagaiman mungkin AS jadi musuh jika di persadanya ada jutaan Muslim? Tetap saja keabsahan diberikan pada lembaga nasional dibanding pada kenyataan politik dari sebuah negeri yang tengah bergerak memasuki Dinul-Islam, dan tak heran sebagian besar Muslim di sana berasal dari kaum yang dahulu diperbudaknya atau dari para pekerja pendatang asal amerika latin. Perjuangan merekalah yang patut didukung bukannya perang sinting dengan cara mengirim anak-anak untuk melempar batu melawan tank-tank bersenjata berat.

Allah Ta’Ala dalam kitab Furqan-Nya mengatakan, surat al-An-‘am (6:137 dalam riwayat warsy):

Dan demikianlah berhala-berhala mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka guna membinasakan mereka dan untuk mengaburkan Diin mereka. Dan jika Allah kehendaki, mereka tidak akan melakukannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Situasi di Palestina kini bukan saja harus kita hadapi namun juga oleh mereka sendiri. Kelakuan mereka tak dapat kita terima. Tak bisa didukung sama sekali. Warga Palestina harus bertaubat – mereka telah kualat. Islam tak bisa menerima kepemimpinan dari organisasi rahasia maupun dari dewan sekuler seperti PLO. Bangsa Palestina harus kembali ke Islam. Mereka harus memurnikan ‘ibadah. Mereka harus menahan untuk tidak menggunakan kata-kata pujian pada Allah menjadi yel-yel pertikaian politik belaka. Setiap setelah shalat Subuh atau ‘Isya mereka sebaiknya membaca doa Nashiri yang Allah inspirasikan kepada hambaNya Syekh Ibn Nashir.

Mereka harus meninggalkan perjuangan nasionalis Palestina dan mereka harus mengutamakan bertahan hidup. Tak satupun warga Palestina harus terbunuh. Pria-prianya harus menerima kemurahan Allah yang membolehkan beristri sampai empat orang dan menikahi janda-janda di antara mereka. Keturunan-keturunan mereka harus bertambah dan ‘ulama-‘ulama salih harus mengajarkan anak-anak mereka dalam Dinul-Islam, bukan yang seperti sekarang diajarkan di sana.

Mengetahui kejiwaan para yahudi, jika kita amati dengan seksama mereka sebenarnya tak ingin damai. Sebagaimana yang berlaku umum di semua penjuru, teror adalah solusi bagi kejayaan kafir yang tak mungkin. Kemenangan secara militer mustahil namun kemenangan demografi mudah dicapai. Jangan biarkan seorangpun mengatakan bahwa ia tak mampu memiliki keluarga besar, karena mereka paham bahwa Allah-lah ar-Razaq, bahwa Allah akan memberi mereka nafkah, bahwa Islam akan kembali ke Palestina. Bagaimana dengan musuh kita – Allah berfirman dalam surat al-A’raf (7:34):

Tiap-tiap ummat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) dapat memajukannya

Lihat bagaimana Allah membimbing kita dalam KitabNya yang Mulia. Di surat as-Shaffat (37:99-109):

Dan Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka Kami beri dia khabar gembira kedatangan putra yang kukuh lagi sabar.

Maka tatkala putranya baligh, mampu berusaha bersama-sama dengannya, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk di antara yang teguh.’

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya). Dan Kami seru dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’

Lebih mulia lagi dari ketaatan seorang Muslim, dan dalam perkara itu sesuai dengan Perintah Allah, adalah ke-Murahan dan Pengampunan Allah Ta’Ala. Lihatlah Pengampunan Allah dalam Perintahnya untuk mengorbankan seorang putra, dalam surat as-Shaffat (37:110-113):

‘Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Dan kami memberkati ia dan Ishaq. Dan benar-benar daripada keturunan mereka ada yang muhsin dan ada yang menzhalimi diri.’

Para pembunuh anak harus disadarkan bahwa setelah kejadian Sayyiduna Ibrahim ‘Alaihisalaam dibebaskan dari perintah menyakitkan untuk mengorbankan putranya sendiri, mengorbankan anak telah dibatalkan selamanya. Allah Azza wa Jalla berkata dalam surat al-Fatir (35:43):

Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu? Maka sekali-kali kamu tak akan menemukan perubahan dalam sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan dalam sunnah Allah.

Segera setelah kita bisa kenali kuffar sebagai musuh-musuh Allah kita wajib menaati Perintah-perintahNya dan perintah-perintah Rasul kita yang kita cintai, Shalallaahu ‘Alaihi Wassalaam. Bila titik itu sudah dicapai maka sirnalah perjuangan (nasionalis) Palestina. Pada titik itu al-Aqsa adalah milik Muslimin dan tak lagi menjadi isu Palestina saja namun menjadi perhatian Komunitas Dunia Muslimin.

Tegakkan ‘Amr Islam
Rakyat Palestina harus mempelajari Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wassalaam. Ajak mereka membaca kitab as-Syifa karya Qadi ‘Iyad dan agar mencampakkan semua buku-buku yang mereka miliki yang diterbitkan oleh ‘ulama-‘ulama palsu dari Lebanon dan Mesir yang memalukan itu. Seorang Badui datang kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wassalaam dan dengan lantang mengatakan, ‘Kami tidak mencium anak-anak.’ Beliau Shalallaahu ‘Alaihi Wassalaam menjawab, ‘Maka saya tak bisa melakukan apapun untukmu, karena Allah telah mencabut kasih sayang dari qalbumu.’

Dalam pemahaman Fiqh kita yang tak dapat dibantah, perlu kita tekankan lagi dan lagi bahwa zakat mal tak bisa diambil dalam uang kertas namun hanya bisa diambil dalam Dinar Emas Islam dan Dirham Perak. Hanya jika itu tercapai kita bisa memohon saudara-saudara Palestina kita untuk berlindung di bawah ayat-ayat dalam surat at-Taubah ini (9-102-104):

Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan maha Penyayang.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?

 

*) Terjemahan dari tulisan yang berjudul Fatwa on Son Killing in Palestine yang ditulis pada 12 Maret 2005, dimuat di www.shaykhabdalqadir.com