Sosok Mentari Yang Terbit Dari Barat

436

Allah Subhanahuwata’ala berfirman: “…Dan jika kamu meninggalkan agamamu maka kamu akan digantikan dengan kamu yang lainnya” (QS Muhammad:38). Kini ulama besar ada di Barat. Orang Skotlandia. Dialah mengajak umat Islam untuk bangkit melawan kapitalisme. Caranya adalah dengan kembali mengikuti Amal Madinah. Modul hidup yang diterapkan 3 generasi awal Islam.

Seonggok papan catur tergeletak rapi diatas meja. Catur itu tersusun dengan bidak-bidaknya, seolah siap dimainkan. Tapi ini bukan catur biasa. Para bidaknya terdiri  dari tiga baris. Catur biasa terdiri dua baris. Bidak-bidaknya juga berbeda. Ada bidak yang bernama Vizier, Knight, King, Rook, Girrafe dan lainnya. Karena ini catur yang populer di abad 14 lalu. Itulah Tamarlane Chess. Catur Timurlenk. Catur ini memang dipopulerkan oleh Timur Lenk. Dia ini kaum Mongol yang menaklukkan Kesultanan Utsmaniyah, di abad 14 lalu. Sepanjang sejarah, hanya kaum Mongol saja yang pernah memporak-porandakan Utsmaniyah dengan senjata. Romawi sekalipun, ditakulkkan oleh Utsmaniyah di tahun 1453. Timur Lenk kemudian masuk Islam. Dia dikenal sebagai Amir dari Timur.

Selama Timur Lenk berkuasa di jazirah, catur itu menjadi populer. Seonggok catur itu pun tampak rapi di atas lemari di sebuah rumah. Pemilik rumah adalah seorang sufi, ulama kesohor asal Skotlandia. Dialah Shaykh Abdalqadir as sufi. Di ruang tamu kediamannya itulah Tamarlane Chess teronggok gagah. Shaykh Abdalqadir begitu menggemarinya. Bahkan dia lihai memainkan catur berbaris tiga itu.

Pengetahuan Shaykh Abdalqadir memang tak biasa. Dia tak sekedar memahami lekuk-lekuk peradaban Barat yang kini berjaya. Tapi dia juga tamat dalam mengakaji peradaban Islam. Tak jauh dari catur itu, sebuah replika patung kecil “Homerus” terpampang. Ini adalah sastrawan Yunani Kuno. Homerus inilah yang mengkisahkan lagi tentang Perang Troy, dan alkisah dewa dewi kahyangan. Dewi Themis sebagai dewi keadilan, itu salah satu buah karangannya. Kini dewi Themis itu dianggap dewi keadilan betulan. Patungnya teronggok gagah di meja para advokat, meja ketua Mahkamah Agung, hingga ruangan kerja Jaksa Agung.

Ruangan tamu rumah itu memang bak perjalanan sejarah dunia. Di sudut ruang tamu, gambar “King Henry IV” terpampang gagah. Dia raja Inggris Raya. Sebuah simbol monarkhi. Tapi kini monarkhi itu tak berdaya. Dikudeta para bankir, penguasa dunia. Di atas patung Homerus itu, sebuah lukisan tangan buatan muslimin keturunan Inggris pun terpampang. Lukisan itu bergambar kota Konstantinopel, ibukota Romawi yang ditaklukkan Kesultanan Utsmani, tahun 1453. Muhammad Al Fatih, sang Sultan yang memimpin ekspedisi penaklukkan terhadap Konstantinopel ini. Rasulullah Shallallahuallaihi wassalam sendiri sudah meramalkan bahwa Konstantinopel akan takluk ditangan muslimin. Tahun 1453, Hadist itu sahih terbukti.

Tak jauh dari ruang tetamu itu, sebuah ruangan besar disulap menjadi perpustakaan. Dan, perpustaakaan itu berisi sekitar 7000 buku. Bisa dibayangkan bagaimana banyaknya buku-buku itu. Rumah itu pun begitu asri. Pekarangan belakang terdapat beranda, tempat ngopi-ngopi santai. Shaykh Abdalqadir sering mengabiskan waktunya di pekarangan itu. Sembari membaca buku-buku. Kucing kesayangannya, “Cocho”, menjadi teman Shaykh Abdalqadir kala membaca buku.

Di belahan bumi Barat, Shaykh Abdalqadir seorang tokoh terkenal. Kala di Cape Town, tak jarang dia juga sering berjalan-jalan ke mal. Cavendish Mal, salah satu yang sering dikunjunginya. Kala di keramaian, tak sedikit yang mengenali sosok beliau. Orang-orang pun saling berebut salaman. Banyak juga yang meminta di doakan.

Beliau memang putera Barat asli. Lahir di Ayr Skotlandia, tahun 1930. Dia sebangsa dengan James Watt, penemu mesin uang yang memulainya era merkantilisme di Barat. Dulunya beliau bernama Ian Dallas. Keluarga besarnya memiliki sebuah pabrik wine kenamaan dengan merek “Dallas”. Tapi sejak menjadi muslim, minuman itu tak pernah lagi disentuhnya.

Ian Dallas dulunya kuliah di London, Inggris. Dia seniman abis. Kala remaja, pernah mendirikan grup band. Kemudian kuliah di The Royal Academic of Dramatic Arts, London University. Pernah pula bekerja di BBC TV. Dia menuliskan skenario drama dan sandiwara. Karena Dallas memang seorang sastrawan.

Tapi Dallas kemudian gundah. Kapitalisme yang tumbuh tak membuatnya tenang. Di London, dia mulai mencari-cari tentang Islam. Tapi belum begitu mendalam. Di usia 30-an, dia melanglangbuana ke Maroko. Di sana dia ingin mencari tahu lebih pasti tentang Islam.  Dallas pun memburu seorang ulama terkenal, Shaykh Muhammad Ibn Al Habib. Sebelumnya, di sebuah masjid di Fez, Maroko, Dallas mengucapkan shahadat. Dia resmi menjadi muslim. Tapi keingintahuannya tentang Deen ini pun memuncak. Sang ulama besar itu dia cari kemana-mana untuk bertemu. Bersama seorang temannya, dia mencoba bertanya sana-sini. Hingga suatu hari, dia berkendara menuju sebuah rumah disudut Maroko. Dallah mendapat informasi, sang ulama itu tengah ada disana. Dia pun secepat kilat meluncur ke rumah itu. Rumah itu agak sulit dicari, karena masuk sedikit dalam gang-gang. Setelah susah payah, akhirnya rumah itu ketemu. Dia berhasi menuju rumah itu. Tapi sayang, sang shaykh baru lima menit beranjak pergi dari rumah itu. Dallas pun agak kecewa. Tapi dia tak beranjak begitu saja.

Sang Shaykh ternyata di perjalanan meminta kembali ke rumah itu. Dia menyuruh muridnya yang membawa mobil, untuk kembali ke sana. Serasa ada sesuatu yang tertinggal. Nah, tanpa disangka. Dallas pun akhirnya berhasil bertemu sang Shaykh. Dia bahagia sekali. Perburuannya mencari seorang guru akhirnya bertemu. Sejak itulah Dallas menjadi murid sang Shaykh Ibn Al Habib. Dia berdiam di zawiyya bersama murid-muridnya yang lain. Dallas pun diberi nama muslim, menjadi “Abdulqadir”.

Di Maroko dia tancap gas mempelajari Islam. Ketenangan justru datang mendera-nya. Dia meninggalkan Eropa. Abdulqadir terkesima dengan Islam. Dia mengikuti tariqah Shadziliyah Dharqawiyah Habibiyah. Ini tariqah yang diajarkan Shaykh Muhammad Ibn Al Habib itu. Abdulqadir pun “mabuk” akan kecintaan pada Allah. Dia membedah Islam luar dalam.

Beberapa tahun mondok di negeri Maghribi itu, Abdalqadir pun kembali ke kampung asalnya. Dia diperintahkan menyebarkan Islam ke ranah Eropa. Dia pun kembali ke London. Lalu sempat pula ke Granada, mendirikan masjid. Singga pula ke Norwich, Skotlandia dan belantara Eropa lainnya. Berondongan kaum kulit putih pun mulai menerpa ingin masuk Islam. Di tangannya banyak yang sudah bershahadat. Dia menyebarkan Islam tanpa pamrih. Kemudian dia mendapat gelar “Shaykh” dari tariqah itu. Malah beliau juga diamanatkan menjadi pimpinan tariqah tersebut.

Kemudian dia pun menetap lama di Cape Town, Afrika Selatan. Cape Town merupakan bagian dari koloni Inggris. Di sana kaum Eropa juga menggeliat. Selama di belantara Afrika, beliau tak berhenti berdakwah. Pernah suatu ketika, kala itu era apartheid tengah mendera. Kulit putih dan kulit hitam berseteru panjang di Afrika Selatan. Shaykh Abdalqadir seorang bule berkulit putih. Tapi dia ingin memasuki sebuah wilayah di daerah Afrika. Wilayah itu daerahnya kulit hitam. Untuk masuk ke sana, sangat tidak mungkin bagi seorang bule berkulit putih. Tapi dia tak menyerah. Akhirnya dia masuk ke bagasi mobil berjam-jam untuk masuk wilayah itu. Bayangkan, berada di bagasi mobil! Mungkin ulama di nusantara ini sudah tak ada lagi yang mau begitu. Shaykh Abdalqadir rela melakukan itu. Bukan untuk masuk televisi atau koran-koran. Dia melakukannya untuk menyebarkan Islam.

Di Cape Town itulah kini komunitas muslim terbentuk rapi. Murid-murid Shaykh Abdalqadir datang beragam penjuru dunia. Sebuah fatwa yang cukup mengubah konstalasi dunia adalah tatkala beliau menganjurkan agar umat Islam kembali menggunakan Dinar (emas) dan Dirham (perak). Beliau mengurai bagaimana sejarah uang kertas diproduksi bank, untuk memperdaya kaum muslimin dunia. Produk itulah yang berisi riba, dan meluluhlantakkah sultaniyya, sistem ketatanegaraan dalam Islam satu-satunya.

Salah seorang muridnya, Shaykh Umar Ibrahim Vadillo, lelaki asal Spanyol yang berfokus di nusantara. Dia telah banyak bertemu tokoh-tokoh politik di Malaysia, Indonesia, Pakistan dan lainnya. Tentu untuk menyebarkan Islam.

Sebagai seorang mursyid besar, beliau memiliki banyak murid dari seantero dunia. Di Granada, Spanyol, para muslimin yang menjadi fuqara-nya memprakarsai berdirinya ‘Le major mezquita de Granaada’. Ini adalah masjid raya di Granada yang lokasinya persis di seberang Istana Al Hambra, istana terakhir Kesultanan Andalusia. Di masjid itulah saban pekan ada saja kaum Chatalan yang bershahadat masuk Islam. Pendirian masjid itu juga bukan mudah. Untuk ijin pendirian saja, diperlukan waktu 25 tahun dari pemerintah Spanyol. Tapi para fuqara di sana tak berhenti. Hingga kemudian masjid itu kini gagah berdiri di kawasan Albaicyn, Granada. Kisaran tahun 1975, kala Shaykh Abdalqadir bermukim di sana, itulah titahnya kepada para muridnya. “Harus ada masjid besar di sini,” ujarnya kala itu. Kini masjid itu benar-benar berdiri dan menjadi sentral dakwah para muslimin di Spanyol.

Kini para fuqara juga akan mendirikan masjid dengan model serupa di Sevilla, Spanyol. Amir Ibrahim Hernandez yang kini memimpin pembangunan itu. Sevilla adalah titik penting dalam sejarah Islam. Disitulah pemerintahan Cordoba, yang dulunya puncak kejayaan Islam kala era Andalusia.

Di Inggris, geliat para fuqaranya juga tak sembarangan. Masjid raya di Norwich juga berdiri gagah, yang susah payah dibangun para fuqara di sana. Negeri Inggris, yang sama sekali belum terjamah Islam semenjak dulu, kini malah berbondong-bondong banyak yang memeluk Islam. Di masjid Norwich itu juga hampir saban pekan selalu ada yang bershahadat masuk Islam. Selain Norwich, muridnya juga ada di London, Skotlandia, Birmingham, Leicester, dan lainnya.

Seorang murid Shaykh Abdalqadir juga ada yang berinvasi ke Mexico. Dialah Shaykh Navia Perez. Beliau membangun komunitas muslim di wilayah Chiapaz, Mexico. Inilah wilayah muslim satu-satunya kini di Mexico. Sekarang ada sekitarf 500 keluarga yang menjadi muslimin dan hidup bersama. Dakwah murid-murid Shaykh Abdalqadir memang tak berhenti dimana-mana.

Di Jerman, para fuqaranya juga telah membentuk komunitas muslim kuat yang saling membahu. Abu Bakar Rieger, salah seorang murid beliau yang juga lawyer, memprakarsai berdirinya “Moslem Lawyer” yang menjadi basis pemersatu para lawyer di Eropa. Beliau kini menetap di wilayah Potsdam, Jerman. Ada juga yang menetap di Berlin, Born dan lainnya.

Shaykh Abdalqadir inilah sosok yang kembali menggaungkan betapa pentingnya umat kembali ke model Amal Madinah. Inilah cara hidup Islam yang dilakoni tiga generasi awal. Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam memang bersabda, bahwa tiga generasi awal Islam itulah generasi terbaik dalam Islam. Itulah generasi Sahabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin. Dan beliau menawarkan untuk mengikuti jalur Imam Malik. Karena sosok Imam Malik meninggalkan kitab penting “Al Muwatta’” yang kini masih bisa diakses. Model Maliki inilah yang bisa mendekati model kehidupan tiga generasi awal tadi –yang disebut ummul mahdhab–. Dari situlah Shaykh Abdalqadir membawa umat untuk mengenali kembali syariat. Karena jamak umat di era sekarang tak lagi mahfum dengan yang disebut ‘syariat’. Karena ‘syariat’ yang kini beredar banyak telah dipengaruhi para modernis yang memiliki motto bahwa Islam harus mengikuti jaman. Alhasil banyak syariat yang diubah-ubah. “Kita-lah yang harus kembali ke Islam, bukan Islam yang harus mengikuti perkembangan jaman,” ujar Shaykh Abdalqadir. Artinya, justru umatlah yang harus kembali mengikuti Islam. Model yang diikuti adalah Islam yang dijalankan Ummul Mahdhab tadi, yang sangat dekat dengan sumber mata air, Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Untuk mengaksesnya tentu dengan mahdhab.

Salah satu syariat yang digemborkan oleh Shaykh Abdalqadir adalah betapa pentingnya umat kembali kepada AMR. Ini adalah kepemimpinan dalam Islam. Amr inilah yang disebut Amir, Sultan atau Khalifah. Karena era kini tiada muslimin yang hidup dengan Amr. Alhasil syariat tidak bisa dijalankan. Karena pengajaran utama Rasulullah soal Islam adalah sami’na waato’na kepada Amr. Dan ini tak pernah lepas dijalankan muslimin dari era Sahabat hingga tahun 1840. Tatkala tanzimat di Utsmani, model Amr ini mulai ditinggalkan. Inilah yang menyebabkan syariat menjadi tiada. Salah satu kewajiban seorang Amr adalah mencetak Dinar emas dan Dirham perak. Ini juga salah satu syariat yang kembali diperkenalkan Shaykh Abdalqadir untuk kembali ditegakkan. Karena Dinar Dirham adalah syariat. Sebagai alat tukar, pembayaran zakat dan lainnya. Sementara era kini dikuasai fiat money yang dimonopoli oleh bankir. Inilah yang dibedah Shaykh Abdalqadir betapa metode bankir system ini sebagai penyakit sosial yang akut dalam jaman ini. Dan itu adalah kebathilan, karena memunculkan kelas elit dengan terbentuknya imperium bankir. Inilah yang banyak tak disadari kaum muslimin dunia.

Disitulah Shaykh Abdalqadir mendudukkan siapa sebenarnya kini musuh Islam. Beliau menyebut bahwa musuh Islam hari ini adalah kaum kufur yang menjalankan bankir system. Karena bankir sistem inilah yang kini mengendalikan dunia. “Jalannya adalah dengan menghadirkan yang haq, maka kebathilan pasti musnah,” ujar Shaykh Abdalqadir. Makanya para muridnya mengupayakan percontohan agar muslimin kembali menegakkan yang haq, bukan mengikuti sistem bathil.

Namun selain dengan syariat, muslimin juga harus mahfum soal hakekat. Karena syariat dan hakekat harus bersatu, bukan dipisah. Hakekat adalah pengetahuan tentang ilmu ihsan, dalam bahasa lain disebut tassawuf. Orang yang mendalami tasawuf itulah yang disebut sufi. Cara untuk mendalami hakekat itulah bisa diraih dengan tariqah. Jadi syariat diraih dengan mahdhab, hakekat dijalankan dengan tariqah. Inilah yang dilakoni murid-murid Shaykh Abdalqadir seantero dunia.

Di Indonesia, sejumlah tokoh politik juga pernah menemui beliau. Adi Sasono, Muhammad Luthfi, tercatat pernah bertatap muka dengan seorang guru Islam abad kini itu.

Kini di kisaran tahun 2017, Shaykh Abdalqadir hijrah ke Perancis. Dia kembali ke bumi Eropa. Beliau seolah tengah menghabiskan masa tuanya di belantara Eropa. Namun dia berpesan, “Sufi tak pernah berhenti,” ungkapnya

 

Irawan Santoso Shiddiq