Sunnah di Pasar, dari Pasar Sultan ke Pasar Kiyai Mangku Negeri

383

“Inilah pasar Kalian.  Jangan membiarkannya berkurang dan jangan biarkan pajak apapun dikenakan.”

Demikianlah sabda Rasul SAW ketika  mendirikan sebuah pasar di Madinah, setelah  beliau pergi ke pasar (Yahudi) Bani Qainuqa dan kemudian kembali mendatangi pasar Madinah, menjejakkan kaki ke tanah, sambil bersabda sebagaimana dikutip di atas.

Begitu pula Bpk Muhammad  Yasir Anshari, dari Kerabat Kemangkunegerian Tanjungpura, di Ketapang, Kalimantan Barat memulai pengumuman terbukanya kepada masyarakat via akun FB-nya: “Pasar sesuai Sunnah hadir setiap Ahad di Tanjungpura Darussalam, Insya Allah.”

Ya, di pasar yang  rutin sepekan diselenggarakan di halaman Rumah Adat (Keratomn) Kemangkurnegerian Tanjungpura, Kepala Pula, Delta Sungai Pawan ini, “siapa saja boleh berjualan apa saja” sepanjang halal, tanpa dipungut sewa, pajak, dan riba. Mata uang Dirham perak dan Dinar emas berlaku di pasar ini.

Pasar Kiyai Mangku Negeri ditegakkan atas izin dan titah Kiyai Mangku Negeri H Morkes Effendi, demi tujuan untuk kembali kepada muamalah yang sesuai dengan sunnah. Serupa dengan model Pasar Sultan yang didirikan oleh  Sultan Huzrin Hood di Kesultanan Bintan Darul Masyhur, pasar pekanan ini adalah bagian dari penerapan kembali syariat Islam.  Di kedua kesultanan inilah zakat mal juga telah mulai ditarik dan dibagikan dalam bentuk Dinar emas dan Dirham perak.

Penerapan rukun zakat dan syariat muamalah kembali menuruti ajaran Rasul SAW akan menjadi awal kembalinya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Penggunaan mata uang emas dan perak pada keduanya akan memastikan harta riil kembali beredar di tangan rakyat.  Sistem riba yang hari ini merajalela perlahan dan bertahap dapat diperkecil.