Syahdunya Acara Maulid Nabi di Mangku Negeri Tanjung Pura

229

Ahad itu langit tampak agak mendung. Sore menjelang, gerimis datang. Hujan berlangsung rintik-rintik. Magrib menjelang, bumi Ketapang, Kalimantan Barat diguyur hujan. Langit tampak berdzikir dengan turunnya banyak penghujan. Pertanda keberkahan datang dari Illahi.

Di sebuah sudut Balai Peranginan, Kemangkunegerian Tanjung Pura Darrusalam, sebuah persiapan acara besar telah menanti. Maulid Nabi Muhammad Shallahuallaihi Wassalam tengah dipersiapkan. Selepas Magrib, orang-orang telah berdatangan. Di pinggir Sungai Pawan yang terkenal, mereka berduyun-duyun memadati Balai Singgasana Mangku Negeri. Disitulah Maulid akan dilangsungkan. Hari itu, bumi Ketapang tampak dihujani beberapa acara Maulid juga. Di Pesantren Hidayaturrahman di Ketapang,pagi hingga siang, Maulid juga tengah dilakukan. Di beberapa tempat lain juga perayaan Maulid dilakoni. Bulan Maulid ini menjadi hajatan besar muslimin merayakan kelahiran Nabi Muhammad di bumi Allah Subahanhuwataala.

Pun demikian di Mangku Negeri Tanjung Pura. Inilah Maulud kali pertama yang tengah disiapkan. Amir Zaim Saidi dan rombongan telah tiba dua hari sebelumnya. Para fuqara berkumpul untuk mempersiapkan diri. Tapi ada yang berbeda dengan acara Maulud di Balai Mangku Negeri. Karena Maulud mengikuti tradisi tariqah Qadiriyah Shadziliyah Dharqawiyah yang jamak populer dari negeri Magribia, Maroko sana.

Selepas Isya, muslimin dan muslimah Ketapang telah memadati Balai Mangku Negeri. Hujan yang mengguyur tak menghalangi mereka berduyun-duyun menghadiri Maulud di sana. Tampak sejumlah orang berpakaian adat Melayu dan tengkulas di kepala. Karena selepas Maulud, juga diadakan acara penyerahan hadiah atas perlombaan memanah dan pertandingan silat, yang telah berlangsung tiga hari sebelumnya. Malam itu pemenang dibacakan dan penyerahan hadiah juga diberikan. Hadiah diberikan berupa Dinar dan Dirham. Terkhusus pemenang sayembara memanah, diberikan seekor kuda tunggangan, yang senilai Rp 20 jutaan.

Begitu sholat Isya selesai, para fuqara memadati ruangan Maulud. Di baris depan, para fuqara duduk bersila, bersiap. Para undangan dan tetamu ulama juga tampak hadir. Amir Zaim Saidi duduk di tengah. Wazir Yasyir Ansyari di sebelahnya. Para fuqara berjajar di pinggir kanan dan kiri memadati.

Pembukaan dilakukan dengan pembacaan Al Quran Surat Al Fath. Tampak para hadirin antusias mengikuti. Sidi Ahmad Fuadi memimpin pembacaan ayat suci Al Quran itu. Kemudian lantunan selamat datang, talaal badru alaina melantun kencang. Pertanda ucapan selamat datang kepada sang Nabiyullah Muhammad Shallahuallaihi Wassalam. Selepas itu, pembacaan Diwan “Nahnu” mengalun kencang dari suara-suara fuqara. Suasana makin syahdu menggema. Sungai Pawan di sebelahnya menjadi saksi. Lantunan qasidah dari negeri Magribia melantun keras di bumi Ketapang, Kalimantan Barat.

Kemudian dibacakan riwayat Nabi dan lantunan Maulid Nabi oleh sidi Tejo. Serempak kemudian para fuqara sesudahnya melantunkan Diwan Muhammadun, sebagai pertanda pujian kepada Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Suara-suara para fuqara kembali menggema, memecah langit Ketapang. Para hadirin, tampak tercengang, karena Maulid yang dilakoni di Balai Mangkunegeri belum pernah dengan tradisi dari Magribia. Tapi banyak yang antusias mendengarkan dan mengikuti.

Setelah itu, pembacaan Qasidah Burda karya Imam Bushiri dilakukan. Para fuqara melantunkan dengan langgam khas dari Maroko. Tampak para fuqara seolah saling berlomba membacakan Qasidah Burda. Hadirin menikmati, sembari merasakan kesyahduhannya. Langit Ketapang kembali terbelah. Lantunan Qasidah Burdah memecah kesunyian di Balai Singgasana Kemangkunegerian.

Acara puncak ditandai dengan pembacaan sllahawat Nabi. Para hadirin pun berdiri. Shalawat Nabi bersahut-sahutan dilantunkan. Kemudian ditutup dengan pembacaan Al Fatihah. Selepas itu Daras dari Amir Zaim Saidi mengakhiri Maulud malam itu. Penjelasan dengan filsafat dan pentingnya tassawuf menghiasi pesan dari Maulid itu. Sebagai pengingat bahwa Nabi Muhammad menyampaikan Islam secara utuh. Kisaran jam 10 malam, Maulid pun berakhir. Dilanjutkan dengan penyerahan hadiah bagi pemenang lomba sebelumnya. Tapi malam itu Ketapang telah dihiasi acara Maulud Nabi dengan gaya khasi dari Magribia. Sebuah pertanda kembalinya Islam di bumi Ketapang, Insha Allah.