Syaikh Al Azhar Berfatwa Uang Kertas Haram

224

Uang kertas kini menjadi alat tukar manusia di seluruh dunia. Umat Islam tak ketinggalan. Tapi secara fiqh, uang kertas ternyata mengandung Riba yang nyata. Menurut Syaikh Universitas Al Azhar yang terakhir, Syaikh Illis, uang kertas itu merupakan suatu hal yang haram, karena mengandung riba.

Sejak era Tanzimat di Kesultanan Utsmaniyah, tahun 1840, umat Islam secara resmi menggunakan uang kertas sebagai mata uang. Sebelumnya, sejak era Rasulullah SAW, mata uang yang digunakan adalah Dinar (emas) dan Dirham (perak). Dinar dan Dirham ini adalah alat untuk menunaikan zakat, yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Namun sejak abad 18, dipergunakannya uang kertas, menimbulkan kerancuan dalam muamalat dan ibadah Zakat. Karena mengandung unsur riba yang nyata di dalamnya. Tak heran kini fondasi hukum Islam menjadi hilang, karena hampir seluruh umat Islam mempergunakan uang kertas.

Pandangan yang paling nyata yang menyatakan uang kertas merupakan haram, datang dari Syaikh Universitas al Azhar yang terakhir, Syaikh Illis. Sebelum kampus Islam tertua itu diporakporandakan oleh Inggris, abad 19, Syaikh Illis sempat mengeluarkan pendapatnya tentang uang kertas. Beliau berkata dalam salah satu fatwa-nya yakni:

“Saya ditanya mengenai penilaian saya terhadap segel Sultan (sejenis uang kertas yang digunakan pada zaman Kekhalifahan Osmanli) yang beredar sebagai pengganti dinar dan dirham. Apakah Zakat wajib atasnya, sebagaimana yang terjadi pada emas, perak dan barang, atau tidak?

Saya menjawab:
Segenap puji bagi Allah dan rahmat dan kedamaian bagi Junjungan kami Muhammad, Rasulullah sallalahu alayhi wa sallam.

Tidak ada zakat yang dibayar atasnya, sebagaimana zakat diwajibkan atas sapi, beberapa biji-bijian dan buah-buahan, emas, perak, nilai dari pendapatan dagang dan barang simpanan. Barang yang disebutkan di atas (segel Sultan) tidak termasuk dalam kategori tersebut.

Engkau akan melihat amal dari penjelasan mengenai hal ini pada koin tembaga yang dicetak dan diberi segel Sultan yang beredar, dimana tidak ada zakat yang dibayarkan atasnya, karena tidak termasuk ke dalam kategori yang wajib untuk dizakatkan. Sebagaimana tercantum dalam kitab Mudawwana: Barang siapa yang memiliki koin receh (fulus) senilai 200 dirham dalam satu tahun, tidak diwajibkan zakat atasnya, kecuali ia merupakan barang dagangan. Maka, si pemilik harus melihat nilai koin tersebut sebagaimana nilai barang dagangan.”

Al Tiraz, menyebutkan Abu Hanifah dan Asy Syafii menyatakan dengan tegas pembayaran zakat atas koin receh, karena keduanya mempertimbangkan pentingnya membayar zakat atas nilainya, disebutkan juga bahwa terdapat dua perbedaan dalam pendapat asu Syafii, ia menyatakan bahwa sikap mahdhab yang menyatakan tidak mewajibkan zakat atas koin receh, tidak ada perbedaan pula bahwa koin receh dilihat dari nilainya, bukan dari berat dan jumlahnya. Jika zakat menjadi wajib, apapun bendanya, akan dihitung/dinisab berdasarkan sifat dan jumlahnya, bukan berdasarkan nilainya, seperti yang terjadi pada perak, emas, biji-bijian, dan buah. Apabila sifat dari benda tersebut tidak memiliki keutamaan dalam hal zakat, maka benda tersebut akan diperlakukan sebagaimana halnya tembaga, besi dan yang sejenisnya.

Dan Allah, segenap puji dan sembah bagiNya. Maha Bijaksana. Semoga Allah memberkahi dan memberikan kedamaian bagi junjungan kita, Nabi Muhammad berserta seluruh keluarganya.