Tanzimat, Awal Petaka Umat

296

Ini kosakata penting bagi muslim hari ini untuk diketahui. Tanzimat identik dengan Kesultanan Utsmaniyah. Barat menyebutnya Ottoman. Utsmani disebut juga Daulah Utsman. Sebuah kehidupan daulah yang dimulai tahun 1300an. Daulah inilah yang dianggap masa puncak kejayaan Islam. Masa inilah yang menyebut Abad Pertengahan sebagai milik Islam.

Kala barat tengah gelap bak langit tak berbintang, Islam menyala-nyala benderang. Daulah Utsmani bersentuhan dengan kaum Eropa Timur. Sementara Daulah Andalusia lebih dulu berkorelasi dengan Eropa Barat. Kaum Eropa ini penting untuk dicermati. Karena mereka penggerak utama egalite, fraternite, liberte, sebagai pertanda perlawanan terhadap hegemoni agama—Nasrani Katolik—di abad pertengahan.

Inilah yang kemudian melahirkan kapitalisme, kehidupan berlandas kaum homo homini lupus. Inilah kausalitas mengapa kini kehidupan dipimpin oleh negara fiskal (fiscal state), kaum rentenir –baca:bankir—sebagai pengendali kekuasaan. Bukan politisi, bukan agamawan apalagi aktivis penyura keadilan bohongan.

Masa-masa Utsmani adalah bentuk bagaimana Islam dijalankan dengan digdaya. Bukan sekedar ketangguhan kekuatan militernya. Utsmani bukan cuma kisah kehebatan Yanisari, Sipahi atau prajurit hebat lainnya. Utsmani bukan gagah karena penaklukan hingga belantara Eropa. Karena bagi para orientalis, hanya titik itu daya tarik melihat Utsmani. Buku-buku tentang Utsmani yang beredar, terlebih ditulis orientalis, hanya melulu soal keperkasaanya dalam soal militer.

Mereka tak berkisah bagaimana zakat ditegakkan dengan benar. Mereka tak paham kala Utsmani menerapkan wakaf yang berbasis Sunnah dengan perkasa. Wakaf itulah dalam bentuk Imaret yang menyala-nyala, dari Bursa, Edirne hingga Istanbul. Kehidupan berbasis wakaf itulah yang saling berlomba. Wakaf pertanda segala sesuatunya diberikan gratis, tanpa imbalan apapun. Berbanding terbalik dengan kapitalisme, yang segala sesuatunya harus berbayar. Utsmani juga kisah tentang sufisme yang menyala-nyala.

Tatkala para sufi kerap bersafar, sembari membawa sendok kayu di belakangnya. Fungsi sendok itu guna menutupi ludah –yang sering dihentakkan para kafirun di tanah–. Ludah itu ditutupi dengan tanah, supaya tidak menebar kemana-mana. Utsmani juga berkisah soal sebuah tiang sebatas dada, yang dibangun setiap saban satu  sekitar kilometer. Itulah tiang sedekah. Disitulah seseorang bisa meletakkan sedekahnya, disitu pula seseorang bisa mengambil sedekah, tanpa seseorang melihatnya. Orang yang datang kesitu, takkan ketahuan apakah dia meletakkan sedekah atau mengambilnya. Itulah era tatkala sedekah tanpa harus dibeber kemana-mana, tanpa perlu publikasi media sosial, televisi atau gembar-gembor lainnya. Utsmani adalah bentuk kehidupan Islam, yang masih berbasis Al Quran dan as Sunnah.

Utsmani pula bentuk bagaimana Daulah dinyalakan. Daulah itulah sultaniyya. Itulah Khilafah. Tanpa ada beda. Utsmaniyah telah berhasil membangun rumah Deen (Madina) dari Bursa, Edirne hingga Istanbul. Utsmaniyah telah sukses membuktikan sabda Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam soal penaklukkan Konstantinopel, itu terbukti benar.

Utsmani juga masa kala Amr Islam digaungkan. Kala Ulil Amri Minkum itu adalah Sultan. Kala zakat ditunaikan dengan ayn, bukan dayn. Ketika syariat menjadi dasar, bukan constitutio buatan segelintir manusia. Ketika Baiat dilaksanakan setiap datang Sultan baru. Tentu baiat tak sama dengan pemilihan umum. Era itulah demos kratos bukan sama dengan nomor kratos (nomorkrasi).

Tapi membincangkan Utsmani masa kini, seolah mengenang kehebatan masa lalu. Padahal Utsmani itu bisa jadi pedoman. Betapa itulah bentuk Amal Islam dijalankan. Terlebih era kini, kala jamak yang suka “mengislamkan” sesuatu yang bukan Islam. Maka melongok Utsmani menjadi begitu penting. Agar tak terjebak pada Islamisasi segala sesuatunya.

Tanzimat itulah bisa jadi parameter. Betapa ada garis antara Islam dan bukan Islam. Tanzimat inilah periode 1800-an, kala Utsmani di-liberal-kan. Tanzimat disamakan dengan reformasi. Inilah proses penghancuran Utsmani, dari luar dan dalam. Kala Daulah Utsmani telah berubah menjadi “The Sick Man”. Karena memang Ibnu Khaldun mengatakan, peradaban sebuah dinasti paling manjur hanya kuat pada 4 generasi. Selepas itu akan melemah. Dalam siklusnya, Khaldun berkata, peradaban itu bak organisme: lahir, kecil, tumbuh, dewasa, tua dan mati. Begitu pula Utsmani. Era 1800an adalah masa-masa tua bagi Daulah Utsmani. Tanzimat itu titik kunci.

Tanzimat itulah pertanda Utsmani tak runtuh karena kalah perang. Utsmani hancur bukan dengan pedang. Melainkan karena riba yang merusak. Tanzimat itulah proses digantinya syariat dengan konstitusi. Uang emas dan perak yang sebelumnya jadi alat tukar sesuai Sunnah, diganti uang kertas produksi bankir alias rentenir. Tak ada lagi jizya, tiada pula otoritas Sultan. Tanzimat di Istana Topkapi itu pertanda runtuhnya Daulah Utsmani. Shaykh Abdalqadir as Sufi menuliskan, peristiwa matinya Daulah Utsmani dilihat dari dua sudut pandang yang terang.

Satu: kemenangan dari apa yang disebut sebagai modernisme atau nilai-nilai Eropa. Dua: pengikisan dan penghapusan Amal Islam. Tanzimat juga ditandai dibubarkannya Yanissaries. Pasukan militer yang begitu ditakuti kau kafirun. Pemimpin pasukan Islam tak lagi merujuk Shaykh al Islam, melainkan oleh Direktur Imperial Library. Lalu Grand Wazir secara resmi menjadi Bas Vekil (Perdana Menteri). Mahdhab Hanafi yang selama ini jalan tegaknya syariat, ditanggalkan.

Utsmani berganti mengadopsi rechtstaat, mengikuti model Ius Civil yang digunakan Republik Perancis –dan juga republik Indonesia—kemudian. Kitab Al Majjalah al Adliya  diluncurkan, sebagai constitutio Utsmani –lalu berubah menjadi republik Turki–. Tahun 1840 itulah resmi diluncurkan Bank of Istanbul, yang didirikan Leon dan Baltazzi, yang dijuluki “dua rentenir Galata”. Lalu disusul 1956 kehadiran Osmanli Bankasi (The Bank Ottoman), sebagai simbol masuknya riba ke Utsmani secara legal.

Tanzimat di Utsmani menggeliat karena desakan Young Turk dan kaum kapitalis Eropa yang telah bangkit. Utsmani digerogoti. Puncaknya, 1924, Utsmani dipenggal. Tak ada lagi kisah tentang Daulah. Tapi Republik. Berdirilah Republik Turki. Kisah Utsmani pun ending. Berdirinya negara dengan merek “Turkey”.

Tapi tanzimat dan 1924, telah menunjukkan betapa beda antara Daulah dan negara. Betapa Islam itulah Daulah, bukan “negara”. Betapa ‘res publica’ itu beda dengan Daulah. Betapa Presiden Turki bukanlah seorang Sultan. Betapa ‘demos kratos’ itu berbeda jauh dengan model Daulah. Betapa Baiat kepada Sultan, tak sama dengan pemilihan umum.

Tanzimat, dari sisi internal, juga dipengaruhi aneksasi kaum modernis Islam. Mereka kaum yang terhalusinasi untuk melakukan perubahan Islam. Ditengah kebangkitan barat dengan kapitalismenya (baca:kufur), modernis Islam ini berupaya untuk mengimbangi. Tapi caranya dengan membuat kapitalis Islam juga.

Kini hampir seabad pasca hapusnya Utsmani, kapitalis Islam makin menjadi-jadi. Banyak yang tak tahu lagi mendefenisikan “Islam” yang sejati. Banyak yang frustasi karena sibuk dengan kenikmatan dunia. Maka tak sedikit yang sibuk mengislamisasi kapitalis. Demokrasi di islamisasi, konstitusi di Islam-kan. Maka muncul-lah undang-undang syariat, sesuatu yang tak pernah dikenal dalam Islam. Bank di Islamisasi, merebak bank syariat. Asuransi, bursa saham, dan segala bentuk permainan kapitalis, semuanya sibuk di “Islam”kan. Padahal tanzimat memberi bukti, Islam dan kapitalis itu berbeda. Daulah dan negara itu tak sama. Sultan itu Ulil Amri Minkum, bukan Presiden res publica. Karena tanzimat memberi bukti, tak bisa demokrasi di Islamisasi. Tak bisa konstitusi, di Islam-kan. Tak cocok bank di syariat-kan. Jauh beda baiat kepada Sultan, dengan mencoblos pemilu—aturan dalam demokrasi–.

Kini bisa dibilang terjadi salah fokus. Tanzimat memberi tanda, betapa pemimpin beragama Islam, tak sama dengan Sultan. Berebut pemimpin di demokrasi, tak akan merubah Deen ini. Karena Utsmani berjaya bukan karena demokrasi. Tapi karena Daulah yang ditegakkan. Daulah itu perwujudan Al Quran dan as Sunnah. Di dalamnya mumalah, jinayah, hudud, dan lainnya, berkisah. Bukan berisi aturan perdata, pidana, atau segala aturan hukum buatan manusia lainnya.

Maka, mari kembali agar tak salah fokus. Syariat itu undang-undang. Demos kratos bukan kosakata dalam Islam. Bank itu haram dan jelas riba. Constitutio itu pengganti kitab suci, tak bisa di Islamkan. Kembali menuju amal Islam yang sesuai ajaran Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam. Beliau telah memberi petunjuk jalan untuk menerapkan. Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda, generasi terbaik dalam Islam adalah tiga generasi awal: Sahabat, Tabiin, dan Tabiit Tabiin. Ini berlangsung di abad 8 hingga 10 masehi dulu.

Cara mengakses pada tiga generasi awal itu dengan mahdhab. Inilah jalan menuju syariat. Tanpa mahdhab, tiada syariat. Tanzimat itu jadi bukti. Tatkala Utsmani meninggalkan mahdhab Hanafi, syariat pun lenyap. Mahdhab tak bisa diganti dengan konstitusi.

Saatnya ulama dan umara kembali bersatu. Lihatlah Daulah Utsmaniyah. Sultan adalah umara, ulama adalah shaykh. Sultan Mehmed II kerap didampingi Shaykh Aaq Syamsuddin. Sultan Abdul Hamid II kerap didampingi Shaykh-nya. Itulah umara dan ulama. Umara bukanlah ‘Presiden’. Karena presiden adalah produk demos kratos. Bukan penegak syariat, melainkan penegak rechstaat. Karena keduanya bak bumi dan langit. Jauh sekali.

Maka, hadirkanlah yang haq, maka kebathilan pasti musnah. Utsmani runtuh karena kebathilan merajalela. Yang haq ditinggalkan. Kini saatnya yang haq kembali muncul. Utsmani adalah kisah tentang sultanniyya, tentang Amar ditegakkan. Karena muslimin harus hidup di bawah seorang Amr. Tanpa Amr, maka hidup seperti era jahiliyah. Dari tanzimat, setidaknya pelajaran penting bisa ditoreh. Bahwa Daulah harus kembali ke seorang Sultan. Baiat mesti kembali dijalankan. Syariat diraih dengan mahdhab. Itulah Islam dan saatnya berhenti mengIslam-kan yang bukan Islam.

Barrakallah.