Tassawuf Menjawab Filsafat

523

Kebenaran bukan berarti kebetulan. Kebenaran adalah apa yang dianggap benar. Dalam setiap jaman, “kebenaran” kerap berbeda tolok ukurnya. Tak sama. Apa yang dianggap benar, tergantung siapa penguasa yang mengendalikan masyarakat.

Kala masa Yunani kuno, dewa dewa penguasa alam, itulah dianggap “kebenaran”. Atlas memanggul bumi, itu dianggap “kebenaran”. Matahari adalah dewa, itu juga dijadikan “kebenaran”. Socrates, Plato, Aristoteles menggoyang “kebenaran” itu. Mereka mengoyak-ngoyak cara berpikir orang Yunani. Plato memunculkan “idea” dan “logos”. Kebenaran haruslah yang bisa melewati rasio (logos). Maka mencuatlah cara berpikir untuk mencari kebenaran sejati, dengan mengenakan logos tadi. Inilah masa kelahiran filsafat.

Kala masuk masa Romawi di era Nasrani, “kebenaran” bergeser lagi. kebenaran adalah yang mutlak perintah dari Tuhan. Gereja menjadi pengawal “kebenaran” itu. Kebenaran adalah yang berasal dari kitab suci. Masa ini berlangsung hingga era rennaisance di eropa. Kala itu tentang “kebenaran” diusik kembali. Seiring dengan makin jamaknya perseteruan dalam tubuh Nasrani. Persoalan aqidah Tuhan, yang Trinitas dan Unitarian (satu Tuhan), membuat sedikit goyah kaum Eropa pada teori kebenaran yang muncul dari agama. Alhasil metode logos lahir kembali, digunakan sebagai jalan untuk menerapkan teori “kebenaran” baru. Aqidah Nasrani pun digoyang, bahkan kitab suci pun diubah. Demi mengikuti “kebenaran” yang dikehendaki manusia kala itu.

Tapi sebelum ke sana, Islam telah membahana. “Kebenaran” dalam Islam berlaku mutlak. Karena muncul dari Wahyu, itulah Al Quran. Ukuran kebenaran hanya satu, Al Quran yang tertuang dalam syariat dan hakekat. Ketika Islam tengah dalam masa puncak, abad pertengahan, muncul ulama-ulama dengan berbagai penguasaan ilmu. Termasuk yang mencoba mendekati “kebenaran” Al Quran dengan menggunakan “teori” dan “logos” ala filsuf Yunani kuno tadi. Mereka Al Arabi, Ibnu Sina bahkan Ibnu Rusyid. Dari risalah-risalah merekalah kaum Eropa abad pertengahan mengenal kembali konsep “kebenaran” ala filsafat. Tapi kaum barat menggunakannya untuk melawan dominasi Gereja, dan aqidah Nasrani.

Imam Ghazali sempat mengkritik filsafat dijadikan landasan untuk menguatkan “kebenaran” Al Quran. Tahafut al Falasafahiyah menjadi alasan Imam Ghazali atas kekhawatirannya bahwa cara berpikir filsafat bisa membuat keluar dari aqidah Islam. Hanya Ibnu Rusyd melakukan pembelaan. Menurutnya, cara berpikir dengan “teori” dan “logos” tadi tak akan membawa keluar jalur Islam, karena muslimin dibentengi oleh syariat. Jadi Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lainnya, mengenakan cara berpikir “falsafah” tanpa meninggalkan syariat. Memberi garis batas, karena filsafat tak bisa melewati jalur diluar syariat.

Hanya saja di belantara Eropa, cara berpikir itu diminati kembali demi mengobrak abrik kekuasaan Gereja dan Monarkhi. Rene Descartes dianggap sebagai bapak filsafat modern. Dia menambahkan cara berpikir ala “logos” dan idea tadi dengan memasukkan unsur baru: empiris. Inilah yang jadi landasan kebenaran. Metode kebenaran logos dan empiris inilah yang melahirkan eropa baru, awal dari kebangkitan modern. Alhasil teori tentang “kebenaran” pun bergeser lagi. Di eropa, “kebenaran” lagi bisa lagi merujuk pada apa yang ditunjukkan oleh Gereja –disamping tengah terjadi krisis pada tubuh penguasa Gereja–. Ditambah teori Copernicus yang bertolak belakang pada doktrin Gereja, menambah ketidakpercayaan kaum Eropa pada “kebenaran” yang diletakkan Gereja kala itu. Karena Copernicus melawan teori heliosentris. Dia menggunakan cara berpikir logos ala Plato tadi.

Muncullah teori baru tentang alam, yang jamak digali lagi dari pikiran kaum Yunani Kuno. “Kebenaran” pun berubah, perlahan bergeser, meninggalkan kebenaran Wahyu.
Imbas pertama adalah bergesernya teori tentang Tuhan. Keliaran filsafat itu membuat Tuhan menjadi berkurang “kekuasaannya”. Karena Tuhan dianggap hanya seperti pembuat jam. Kala jam selesai dibuat, maka jam akan berjalan sendiri. Begitu juga dunia. Tatkala selesai dibuat oleh Tuhan, maka akan berjalan sendiri. Alhasil manusia berhak mengatur kehidupannya sendiri di dunia, tanpa lagi tunduk pada aturan Tuhan. Karena Tuhan “dianggap” tak hadir dalam kehidupan manusia di dunia. Adanya orang tak bersalah dibunuh, di hukum, itu dianggap bentuk “ketidakhadiran” Tuhan di dunia. Alhasil teori “Tuhan” hadir dalam kehidupan dunia, tak bisa melewati “logos” dan empiris tadi.

Dari sanalah Rossseou mengajak manusia untuk menciptakan sendiri aturan hukum, yang disepakati bersama-sama. Dia membawa pada “du contract social”. Karena dalihnya, Tuhan tak hadir di dunia, maka manusia berhak mengatur sendiri kehidupannya. Maka lahirlah “constitutio”, aturan yang disepakati bersama, demi manusia mengatur sendiri cara hidup di dunia. Kemudian Immanuel Kant melengkapi teori itu, dengan hukum efek jera. Aturan hukum, yang merupakan panduan kehidupan manusia, wajib tertulis dan harus dilengkapi dengan sanksi. Inilah daya paksa hukum yang membuat orang bisa patuh. Maka lahirlah “kebenaran” dalam bunyi undang-undang. Sumber “kebenaran” tak lagi Wahyu. Melainkan apa yang tertuliskan dalam “hukum” alias “undang-undang”. Inilah yang dianggap satu-satunya kebenaran. Ini buah dari liar-nya filsafat yang dibawa kaum abad pertengahan.

Dari situlah sains muncul. Sains menjadi “kebenaran” mutlak. Karena seolah Tuhan tak hadir dalam alur kehidupan keseharian. Inilah dasar berpikir jaman modern. Shaykh Abdalqadir as sufi menggambarkan, cara berpikir orang modern, tatkala burung dibilang ciptaan Tuhan, maka orang masih percaya. Tapi tatkala Boeing disebutkan ciptaan Tuhan, maka orang sulit percaya. Spektrum “kebenaran” menjadi bergeser.

Dalam khazanah sosial, “kebenaran” mutlak menjadi area undang-undang yang manusia dipaksa untuk mematuhi. Disinilah terjadi benturan “kebenaran”. Kaum muslimin yang paling banyak dirugikan dalam hal ini. Umat manusia seluruhnya, apalagi. Kebenaran inilah yang kini mendominasi. Alhasil terjadi tirani suatu kaum. Adanya superior dan imperior. Kaum superior adalah mereka pengendali “kebenaran” untuk bisa dimasukkan dalam bahasa undang-undang. Uang menjadi contoh. Umat manusia seantero dunia, wajib percaya bahwa kertas adalah uang. Dan itu menjadi “kebenaran” karena hadir dalam undang-undang. Hadir dalam konstitusi, yang menjadi satu-satunya dalih “kebenaran” jaman modern. Jadi teori “kebenaran” telah dikooptasi oleh sebagian kaum, demi meraih kekuasaan. Inilah masa krisis “kebenaran” ala logos dan idea yang buah dari filsafat abad pertengahan.

Karena terjadi banyak benturan tentang “kebenaran”. Soal tanah, “kebenaran” seseorang memiliki tanah adalah dilandasi adanya surat kepemilikan. Negara menjadi wakil dari institusi yang menjamin “kebenaran” tadi. Alhasil terjadi celah. Karena teori itu ternyata menjadi liar. Alhasil kepemilikan tanah yang didasari pada “kebenaran” surat kepemilikan, menjadi di dominasi segelintir kaum. “Kebenaran” undang-undang justru menimbulkan ketidakadilan. Karena ada satu orang memiliki 10 ribu hektare tanah, dengan dalih surat kepemilikan yang disahkan negara. Dan semua wajib mengakui “kebenaran” itu.

Sementara jutaan manusia menjadi terbengkalai. Inilah akibat era modern meyakini “kebenaran” yang bersumber dari logos semata.

Maka kita berada pada jaman, tatkala “kebenaran” harus digeser ulang. Kebenaran ala logos tak lagi bisa digunakan. Manusia harus kembali pada “kebenaran” dari Wahyu. Islam telah menyediakan spektrum itu pada tassawuf. Dari situlah pencarian tentang makna “kebenaran” bisa berhenti dan berjawab. Teori kebenaran ala filsafat telah membuat ketertindasan pada jamak manusia. Islam telah memberi jawaban. Tuhan bukan tak hadir langsung pada kehidupan dunia. Melainkan melalui “utusannya” dan Wali-Walinya.

Merekalah yang bisa mencapai “kasyf”, karena kehidupan dunia ini tak hanya bisa dilihat dengan nalar semata. Tapi hadir juga yang ghaib. Tatkala hanya mematok filsafat sebagai jalur berpikir dan hidup, banyak yang ghaib menjadi hilang. Salah satunya adalah setan alias iblis. Dia menjadi hilang, dengan filsafat. Alhasil manusia menjadi lupa tentang kehadiran Iblis di dunia ini. Padahal Allah Subhanahuwataala berkali-kali dalam Al Quran mengingatkan, bahwa “Iblis adalah musuhmu yang nyata”. Inilah realitas. Logos tak akan mampu menjamah Iblis. Logos membuat manusia melupakan iblis, allhasil iblis dengan mudah menggoda manusia, untuk melupakan Tuhan. Untuk terlena bahwa Tuhan tak hadir dalam kehidupan dunia, Tuhan bak pembuat jam. Alhasil manusia terperdaya untuk membuat aturan hukum sendiri untuk cara hidup. Alhasil manusia merujuk pada undang-undang dalam kehidupan. Inilah tipu daya setan. Karena “kebenaran” bukan mutlak pada undang-undang, melainkan yang merupajan fitrah dan perintah. Itulah sumbernya Al Quran dan Sunnah. Tassawuf mampu menjawab segala pertanyaan manusia. Tentu tatkala ada yang mengharamkan tassawuf dan membid’ahkannya, disitulah jawaban menjadi hilang.

Karena menduakan Allah Subhanahuwataala adalah musyrik. Allah Subhanahuwataala telah memiliki tolok ukur tentang “kebenaran”. Muslimin tak berhak untuk mencari tolok ukur “kebenaran” lainnya. Karena hal itu sama saja dengan syirik. Naudzubillah mindzalik.