TENTANG CICERO

188

“Abusus non tollit Usum.”
(Penyimpangan tidak boleh menjadi kebiasaan)

Oktober 2014 lalu. Seorang senior advokat nak menoreh gelar profesor. Dia butuh tema pidato yang menggigit. Saya mengusulkan, utarakan tentang sejarah advokat. Terutama tentang kisah Cicero. Dia praetor era Romawi kuno. Hidupnya kisaran tahun 106-43 SM. Sang advokat itu setuju. Kisah Cicero jadi bahan pidato pengukuhannya.

Alkisah, tahun 34 SM, Romawi masih Republik. Ada kejadian penting di senaculum. Pengadilan era Romawi. Caius Popilus Laenas, anak muda belia Romawi diadili. Dituduh menikam mata ayahnya hingga mati. Khalayak Romawi telah berkumpul di tribunal. Pidato Cicero dinanti. Karena dia yang membela. Cicero seorang praetor Romawi. Praetor punya hak membela. Inilah cikal bakal advokat. Jika Cicero gagal meyakinkan juri, para Senator, anak muda itu bakal dimasukkan dalam kurungan berisi anjing, ayam jago, dan ular berbisa. Lalu dikurung dan dijahit rapat. Kemudian dilempar ke sungai Tigris. Begitulah bentuk eksekusi masa Romawi. Cicero membela. Alkisah dia sukses membebaskan si Romawi muda. Senator mengamini pleidoinya.

Sepekan selepas memberi saran tentang Cicero, saya terbang menuju Cape Town, Afrika Selatan. 12 jam perjalanan, Jakarta ke Tanjung Harapan (Cape Town). Seorang sufi besar, Shaykh Abdalqadir as sufi, menetap di sana. Ketika itu. Sehabis Moussem di Masjid Jumu’a, kita dijamu makan siang di pekarangan rumahnya yang indah. Kala berjumpa, tanpa berbata-bata, sang Shaykh menyuruh seorang fuqara. Dia bergegas supaya diambilkan sebuah buku dari rak bukunya. Dari perpustaakaan pribadi yang berisi sekitar 8 ribu buku lebih. Dari rak buku tentang Romawi. Saya duduk bersila didepannya. Terperangah. Tatkala sang Shaykh memberi sebuah buku tanpa diduga. Biografi Cicero!! Sepekan sebelumnya, saya membahas Cicero di Kelapa Gading, Jakarta. Sepekan kemudian, nun di ujung Cape Town, saya menerima buku Cicero.

Ini kisah nyata abad kini. Sang Shaykh berkulit putih. Dia Mursyid tariqah. Dalam bahasa sufi, pemberian sang Shaykh adalah sesuatu. Karena dia seorang Wali Allah. Bukan mengada-ada. Tak pula kebetulan belaka.

Tiga tahun berlalu. Baru saya paham makna buku Cicero itu. Karena Cicero bukan sekedar alkisah seorang praetor. Tapi dia pejuang kembalinya hukum alam. Hukum kodrat. Masa Cicero, Romawi masih pagan. Dewa dewi kahyangan jadi kepercayaan. Zeus dianggap raja dewa. Themis itulah dewi keadilan. Hera jadi ratu. Kahyangan dianggap singgasana para dewa.

Masa itu, Romawi mengikuti Republik. Konsep Plato (472-347 SM) di eksekusi. Ide dari Yunani Kuno, jauh berabad sebelum masehi. Caesar melegenda. Triumvirat sempat membahana. Cicero berada dalam pertarungan ideologi. Mayoritas Romawi menyembah dewa dewi. Cicero tak mengamini. Dia penganut teguh Sthoicisme. Ini pemahaman tentang ketauhidan. Cicero tak percaya dewa dewi. Sthcoicisme mengajarkan kebajikan. Cicero acap bermeditasi. Malam dia berdiam diri khusyuk pada Tuhan. 16 jam sehari dia habiskan untuk Romawi. Kaum Shctoic meyakini, hidup bak permainan. Dalam kehidupan, permainan harus dihadirkan secara benar dan para pemainnya bisa memenuhi peranan dengan benar. Dunia, bagi Cicero, tak begitu berarti. Karena kekuasaan, kesehatan, kekayaan tak akan berguna jika kita tak hidup mengabdi pada Tuhan. Cicero mengajak khalayak Romawi kembali pada Tuhan, ditengah-tengah dewa dewi jadi kepercayaan.
Shtoic memberi ajaran, Tuhan memberi individu suatu peran. Seorang harus terima kala berada dalam kasta penguasa. Harus rela juga ketika ditunjuk sebagai hamba sahaya. Pemain yang baik harus bisa memainkan keduanya. Manusia, harus rela menerima peran itu, tanpa berlebihan, keluh kesah dan ikhlas menjalankannya. Karena dunia hanya sementara. “Ini bagian dalam permainan, sebagaimana semua hal di dunia, semuanya tidak berguna,” kata Cicero. Menjadi pemain yang baik, seseorang harus menjalankan fungsinya. Apapun peranan yang mesti dilakukan. Cicero berkisah, hidup mesti menuju kesempurnaan. Karena peran jadi raja atau budak, sama saja.

Masa Romawi itu, ‘kebenaran’ bergeser. Ini dimulai dari cara memandang Tuhan. Semula kebenaran itu berasal dari Wahyu Ilahi. Tapi ada menggeser kebenaran berdasarkan logika. Inilah yang melahirkan positivisme di era abad pertengahan. Teori ‘kebenaran’ ini yang menghasilkan hukum. Kemudian melahirkan negara hukum (rechtstaat). Untuk sampai pada rechtstaat, menuju lebih dulu pada ide tentang hukum. Untuk sampai pada hukum, kita berbicara lebih dulu tentang falsafah manusia. Karena hukum berasal dari keyakinan yang hidup. Itulah filsafat.

Logika berasal dari logos. Ada yang mengartikannya sebagai ilmu. Ilmu yang logis semata. Biologi, ilmu tentang tubuh. Tapi sebatas yang logis. Hanya yang bisa dilihat kasat mata. Tapi biologi, yang melahirkan kedokteran, tak pernah mampu mengobati orang kesurupan –walau ini juga nyata–. Ini keterbatasan tentang logos.

Dari logos ini membawa kita pada asal mula cara berpikir. Era Yunani Kuno yang memulai. Dari situ “idea” berasal. Mereka baru euforia terhadap “idea”. Karena baru diketengahkan Plato. Rasa kagum akan “teori” Plato ini yang mendorong munculnya “idea”. Dari “idea” ini semua hal bisa didefenisikan. Termasuk soal Tuhan. Semua bisa diteorikan. Inilah konsep filsafat.

“Teori” ala Plato ini disambut hangat. Shaykh Umar Vadillo menulis, semua itu telah ada sejak jaman pra-Socrates. Tapi titik baliknya tetap Plato. Karena Socrates tak menulis. Kita tahu Socrates karena Plato yang menuliskannya. Dari situlah dimulainya filsafat.
Plato memulai dengan mendefenisikan ‘Politeia’. Susunan kehidupan bersama juga harus didefenisikan. Dari situ Plato memunculkan “Res Publica”, kehidupan yang diurus bersama-sama. Aristoteles (384-322 SM) melanjutkannya. Dia menelorkan konsep “demos kratos”. Teori Plato dan Aristoteles inilah yang kemudian menjelma pada Romawi. Res Publica mewujud di masa Romawi.

Era Romawi, Tuhan jadi hilang. Kaisar dianggap penjelmaan kahyangan. Manusia terdogma ada dua kerajaan, bumi dan langit. Dewa dewi memiliki perwakilan di bumi. Mereka yang mengatur tatanan hukum. Inilah yang ditengang Cicero. Praetor itu tak setuju. Dia menggugat “idea” tentang dewa-dewa. “Mereka menjelaskan bahwa dewa-dewa sungguh ada, kemudian mereka menjelaskan sifat para dewa itu, lalu mereka menjelaskan para dewa itu memerintah dunia, akhirnya mereka membuktikan para dewa itu memelihara kebutuhan manusia.” (Cicero, de Nature daerum).

Cicero membongkar “idea” kaum Romawi yang memfatasikan dewa dewa. Dia membawa manusia agar kembali pada Tuhan. “Idea” dari Plato dinilai melampaui batas logika. Karena Cicero tak setuju setiap aturan bagi Imperium Romawi merujuk pada khalayan tentang dewa-dewa. Cicero mengajak Romawi tak tunduk pada hukum dewa-dewa. Dia membawa kembali manusia agar percaya pada hukum kodrat. Hukum Tuhan.

Cicero berkata, hukum merupakan manifestasi akal Tuhan. Disampaikan kepada umat manusia melalui jiwa dan akal budi seseorang yang bijaksana. Bukan hukum yang berasal dari akal manusia. Tapi hukum yang ada di dalam diri manusia dengan kekuatan yang berasal dari luar dirinya.

Hukum Kodtrat itu tidak berubah-rubah dan tidak mempunyai perbedaan dalam masyarakat yang berbeda. Setiap orang mempunyai akses kepada standar dari hukum yang tertinggi ini dengan menggunakan akal. Hukum yang tertinggi itu adalah pencerminan Divine Law.

Kini, hukum Tuhan telah dibunuh. Positivisme yang berlaku. Positivisme lahir dari akal manusia, mengkudeta Tuhan. Karena Tuhan diibaratkan pembuat jam. Voltairian membahana. Tapi positivisme membuat nestapa. Umat manusia tak bahagia. Cicero telah memberi pesan. Positivisme hanya khayalan. Bukan sumber keadilan. Hukum Tuhan kini layak dikembalikan. Dalam Al Quran dan Sunnah. Syariat dan hakekat yang menyatu padu.

Teruntuk:
Shaykh Abdalqadir as Sufi.