Tentang Zakat dan Jizya

833

Allah Subhanahuwataala berfirman:
“Dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Rasul supaya kamu diberi rahmat.” (Al Quran 24:54).

Ada 28 ayat di Al Quran yang menyatakan ayat hal ini. Perintah sholat bergandengan dengan perintah zakat. Sholat dan zakat tak dipisahkan. Berbeda dengan perintah ibadah shaum atau haji. Tapi sholat dan zakat punya derajat yang serupa. Ibadah sholat, kini kaum muslimin tak putus melaksanakannya. Tapi bagaimana dengan zakat?

Seseorang yang diketahui bukan muslim, mengkisahkan bahwa dirinya kerap membayar zakat, 2,5 persen dari pendapatan yang didapatnya. Entah hal itu dilakoni betulan atau tidak, tapi hampir tiada pihak yang memprotesnya. Karena tentu ada masalah besar. Sebab kewajiban zakat muncul dalam Al Quran. Zakat merupakan ibadah bagi muslimin. Sama seperti perintah sholat. Seorang yang tak memeluk Islam, tentu tak ada kewajiban sholat. Juga tiada kewajiban ber-zakat. Tapi tatkala dirinya membayar zakat, apakah dibolehkan?

Tentu sama dengan pertanyaan, apakah boleh seseorang bukan muslim melakukan sholat? Ibadah sholat adalah kewajiban seorang muslim. Sebelum melaksanakan sholat, ada rukun yang wajib dilakukan. Mulai dari berwudhu, niat, memakai pakaian menutup aurat hingga membaca bacaan yang sesuai rukun sholat. Ibadah zakat juga serupa. Ada sejumlah rukun yang harus diikuti.

Allah Subhanahuwataala berfirman dalam Al Quran surat At Taubah: 103
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Shaykh Abdalqadir as sufi, ulama besar asal Skotlandia mengatakan, kata “Khudz” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa Zakat harus diambil. Bukan sedekah sukarela dari yang menunaikan. Zakat berbeda dengan sedekah. Zakat adalah wajib. Dan harus ada yang menariknya. Siapa yang berhak menarik zakat? Kala ayat itu turun, Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam adalah otoritas yang menarik zakat. Di era Khulafaur Rasyidin, Zakat ditarik oleh Khalifah. Lalu berlanjut hingga para Sulthan yang bertugas menarik zakat. Menarik zakat adalah bagian tugas dari Ulil Amri Minkum. Merekalah sang Sulthan (Amr/pemimpin).

Allah Subhanahuwataala berfirman:
“…..Atiullah wa atiurrasul wa ulil amri minkum…….” (Al Quran Surat An Nisa:59)

Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam bersabda:
Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sungguh ia taat kepada Allah, dan barangsiapa yang mengingkari aku, maka sunggu ia telah ingkar kepada Allah. Barangsiapa mentaati Amirku, maka sungguh ia telah taat kepadaku. Siapa yang mengingkari Amirku, maka sungguh ia telah ingkar kepadaku”. (HR Muslim Bukhari)

Adalah seorang Amr yang berhak menarik zakat. Dan muslimin hanya menunaikan zakat kepada Amr. Sejak era Khulafaur Rasyidin hingga Daulah Utsmani dan Kesultanan di nusantara, Amr tiadalah perdebatan. Para Sultan yang menarik Zakat. Dan muslimin menunaikan Zakat kepada para Sulthan. Tapi semenjak tanzimat di Utsmani, 1840, kedudukan Sultan dikebiri. Di nusantara, posisi Sulthan kemudian dijadikan boneka oleh VOC dan Hindia Belanda. Lalu kemudian dieliminasi secara murni kala era Res Publica. Tidak ada lagi Sulthan. Maka, menjadi fardhu kifayah bagi muslimin hari ini untuk mengembalikan lagi Amr. Tentu agar rukun zakat bisa ditunaikan dengan benar. Kehadiran Amr menjadi prioritas, sama halnya kala Sahabat lebih mendahulukan urusan Amr ketimbang menguburkan jenazah Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam hingga 3 hari. Begitu juga hari ini. Kehadiran Amr menjadi sangat urgen. Karena disitulah Zakat bisa ditunaikan, bukan oleh suatu lembaga yang tak jelas asal usul fiqihnya.

Dan seorang non muslim, terutama ahli Kitab, mereka tidak ada kewajiban Zakat. Melainkan kewajiban menunaikan Jizya. Inilah kewajiban mereka sebagai pengganti zakat.
Allah Subhanahuwataala berfirman:
قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ}
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak -eragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang­ yang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh, sedangkan mereka dalam keadaan tunduk ( At-Taubah: 29).

Jizya ditunaikan kepada AMR. Ahli Kitab menyerahkannya dengan tunduk kepada seorang AMR. Hukum Dhimmi diberlakukan. Jadi tatkala seorang non muslim membayar Zakat, tentu itu sebuah penghinaan. Sama tatkala seorang bukan muslim melaksanakan sholat, tanpa didahului Shahadat, tanpa wudhu, tanpa menutup aurat dengan benar, tanpa membaca bacaan sholat. Tentu itu suatu yang tak bisa diterima. Lalu bagaimana rukunnya kala ada Ahli Kitab hendak membayar Jizya? Maka disinilah kewajiban muslimin harus kembali memiliki AMR. Agar Darul al Islam kembali dihadirkan. Agar Darul Harb bisa terbaca dengan benar. Jizya besarnya paling banyak adalah 4 Dinar per tahun per orang. Kini tiada seorangpun yang menunaikan jizya. Pertanda Deen ini belum tegak dengan benar.

Padahal perintah menegakkan Deen ini tak pernah berhenti sedetikpun. Tak pernah batal demi hukum, dengan alasan apapun. . Shaykh Abdalqadir as Sufi berkata: “Bukan Islam yang harus mengikuti perkemban jaman. Tapi kita-lah yang kini harus kembali pada Islam”. Barrakallah.