Tujuh Fuqaha Dari Madinah

240

oleh Muhammad Abu Zahrah

Tulisan ini diambil dari bagian Imam Malik dalam buku The Four Imams
oleh Muhammad Abu Zahra, yang diterbitkan oleh Dar al-Taqwa

Secara singkat dapat kita sebutkan bahwa terdapat tujuh orang fuqaha’ yang sangat berpengaruh terhadap transmisi/periwayatan ilmu dari Madinah dan yang menjadi sumber ilmu bagi Malik. Jelaslah bahwa mereka sangat berjasa bagi kita karena melimpahnya ilmu yang diwariskan bagi kita berupa Islam dan as-Sunnah yang kita genggam hari ini. Malik menyebut mereka sebagai fuqaha’ dan para pengusung ilmu.

1. Sa’id bin al-Musayyab
2. ‘Urwah bin az-Zubayr
3. Abu Bakr bin ‘Abdu’r-Rahman
4. Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr
5. ‘Ubaydullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud
6. Sulayman bin Yasar
7. Kharijah bin Zayd bin Tsabit

 

1. Sa’id bin al-Musayyab
Yang pertama diantara mereka dan keutamaannya dalam ilmu adalah Sa’id bin al-Musayyab, radiyallahu ‘anhu . Ia berasal dari Makhzum, suku-kecil dari Qurays. Ia lahir pada masa khalifah ‘Umar bin al-Khattab dan wafat pada 93 H, dan ia hidup dan dewasa pada masa pemerintahan ‘Utsman, ‘Ali, Mu’awiyah, Yazid, Marwan, and ‘Abdu’l-Malik.

Ia sepenuhnya mengabdikan dirinya kepada fiqh . Ia tidak menyentuh ilmu tafsir Qur’an sebagaimana ‘Ikrimah, murid dan abdi dari Ibnu ‘Abbas dan perawi dari fiqh dan tafsir-nya. Menurut tafsir at-Tabari, “Yazid bin Abi Yazid berkata: ‘Kami pernah bertanya pada Sa’id bin al-Musayyab mengenai perkara yang halal dan haram; Ia adalah orang yang paling berilmu diantara penduduk. Kami bertanya padanya mengenai tafsir dari ayat Qur’an dan ia menjawab, ‘Jangan bertanya padaku mengenai ayat apapun dari Qur’an. Tanyakan mengenai hal itu kepada orang yang tidak ada darinya sesuatu yang tersembunyi darinya,’ maksudnya ‘Ikrimah.”

Sa’id bertemu sangat banyak Sahabat, dan mengambil pada mereka dan mempelajarinya bersama-sama mereka. Yang ia cari khususnya adalah apa yang menjadi keputusan dari Rasulullah, sallallahu alayhi wa sallam, dan keputusan dari Abu Bakr, ‘Umar and ‘Utsman. Ia mengambil setengah dari ilmunya dari Zayd bin Tsabit, dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya adalah dari Abu Hurayrah, bapak mertuanya, semenjak ia menikahi putrinya.

Ia mempelajari fiqh ‘Umar dari pengiringnya, terus bersambung padanya sampai ia dianggap sebagai periwayat utama dari fiqh ‘Umar. Ibnu al-Qayyim menyebutnya sebagai “Perawi ‘Umar dan pengusung ilmunya.” Ja’far bin Rabi’a berkata, “Aku bertanya pada ‘Irak bin Malik, ‘Siapa diantara sumber Malik yang mengusai fiqh terbanyak?’ Ia menjawab, ‘Satu diantara mereka yang paling menguasai fiqh dan ilmu dari keputusan Rasulullah, sallallahu alayhi wa sallam, keputusan ‘Umar, dan keputusan ‘Utsman, dan yang paling berilmu mengenai amalan penduduk (Madinah) adalah Sa’id bin al-Musayyab. Orang yang paling menguasai hadis adalah ‘Urwa bin az-Zubayr. Kamu tidak mendapatkan lautan yang lebih luas dari ‘Ubaydullah (Ibnu ‘Abdullah bin ‘Utba),’ Kemudian ‘Irak melanjutkan, ‘Menurut pendapatku diantara mereka yang paling menguasai fiqh adalah Ibnu Syihab karena ia menyerap seluruh ilmu mereka dalam ilmunya.’

Az-Zuhri berkata, ‘Aku mengambil ilmu dari tiga orang: Sa’id bin al-Musayyab, yang paling menguasai fiqh diantara mereka semua, ‘Urwah bin az-Zubayr, yang lautannya tak berdasar, dan bila engkau ingin mencari ilmu yang tidak ditemukan pada seorangpun engkau dapat menemukannya pada ‘Ubaydullah.'” (I’lam , vol. 1, p. 18)

Ibnu al-Musayyab berkonsentrasi pada fiqh . Dan perhatiannya pada hadis adalah untuk mempelajari keputusan Nabi, sallallahu alayhi wa sallam, dan ia juga mempelajari Sunnah (tradisi) yang didalamnya terdapat keputusan para kalifah karena kepeduliannya untuk mengetahui keputusan dan fatwa para kalifah. Yang paling dikenal dalam periwayatannya mengenai ilmu dan fiqh para Sahabat adalah ‘Umar bin al-Khattab, karena pada masanya adalah masa titik-puncak fiqh , keputusan dan fatwa karena Dar al-Islam sedang dalam masa ekspansi dan munculnya peristiwa-peristiwa yang memerlukannya.

Karena Ibnu al-Musayyab mengikuti ‘Umar dalam keputusan dan fiqh , ra’y (pendapat) memiliki peran penting dalam pandangannya karena ‘Umar sering memberikan pendapat mengenai hal dimana tidak terdapat teks eksplisit dalam Kitab Allah atau dalam Sunnah Rasul, sallallahu alayhi wa sallam. Maka Ibnu al-Musayyab pun menggunakan ijtihad (pemikiran bebas) untuk menjawab persoalan yang diajukan kepadanya yang tidak terdapat teks eksplisit dalam Kitab atau Sunnah atau keputusan atau fatwa dari para Sahabat: maka ia memberikan fatwa berdasarkan pendapatnya yang tidak melebihi yang seharusnya. Itulah mengapa terdapat riwayat dimana ia memberikan fatwa saat yang lain takut untuk berbuat demikian.

Ia adalah Imam dari para fuqaha’ di Madinah pada masa Tabi’un . Ia tidak pernah menolak untuk memberikan fatwa saat fatwa diperlukan. Pendapatnya berdasarkan pilar fiqh yang teguh: al-Qur’an dan hadis, dan keputusan Nabi dan para Khalifah yang Benar.

2. ‘Urwah bin az-Zubayr
Yang kedua dari tujuh fuqaha’ yang merumuskan fiqh Madinah pada masa Tabi’un adalah ‘Urwah bin az-Zubayr bin al-‘Awwam. Ia adalah adik dari ‘Abdullah bin az-Zubayr dan keponakan dari ‘A’isyah, radiyallahu ‘anha. Lahir pada masa kekalifahan ‘Utsman bin ‘Affan dan wafat pada 94 H. ia hidup pada masa perpecahan yang muncul pada masa terbunuhnya ‘Utsman hingga otoritas di al-Marwan. Meskipun saudaranya, ‘Abdullah bin az-Zubayr, menentang pemerintahan ‘Abdu’l-Malik bin Marwan, dan pertentanganpun sering terjadi antara mereka, tidak diketahui apakah ia menjadi terlibat dalam pertentangan itu atau pun membantu saudaranya dalam situasi apapun. Jelaslah bahwa ia sepenuhnya mengabdikan dirinya pada belajar, mempelajari fiqh dan hadis. Dalam lapangan hadis ia, sebagaimana pernyataan muridnya, Ibnu Syihab, “laut yang tidak pernah berkurang walau dikurangi.” Ibnu al-Musayyab menguasai fiqh dari para Tabi’un di Madinah. ‘Urwah yang paling menguasai hadis. Ia mempelajari fiqh dan deen dari sekelompok Sahabat, khususnya ‘Aisyah, Ummul Mu’minuun, yang paling memahami ilmu dasar dalam pembagian waris dan peraturan. Al-Qasim bin Muhammad, putra dari saudaranya, mengambil ilmu darinya sebagaimana ‘Urwah, putra dari saudarinya Asma.

‘Urwah adalah orang yang menguasai ilmu tentang hadis yang sangat luas dari ‘Aisyah. Ia berkata, “Sebelum wafatnya ‘Aisyah, aku mendapatkan diriku termasuk sebagai satu dari empat pewaris ilmunya. Aku berkata, ‘Bila ia wafat, maka tidak ada lagi hadis yang hilang dari yang telah ia ketahui. Karena aku telah menghafal keseluruhannya.”

Jelaslah bahwa ‘Urwah peduli atas pencatatan fiqh dan hadis yang dipelajarinya dan itu semua berhubungan dengan buku yang ditulinya; namun ia menjadi khawatir bila buku-buku itu menjadi buku lain selain Kitab Allah, maka ia pun memusnahkannya. Putranya Hisyam meriwatkan bahwa ia memiliki buku itu yang kemudian dibakarnya pada masa Pertempuran di Harra. Dan dikemudian hari ia menyesali tindakannya, bagaimanapun, dan seperti yang sering dikatakan, “Aku lebih memil;ih memiliki buku-buku itu ada padaku dibandingkan dengan dua kali keluarga dan kekayaanku.”

Ia adalah seorang perawi hadis dan faqih yang mengikuti jalan tradisi dan ia tidak memberikan fatwa seperti yang telah dilakukan Ibnu al-Musayyab.

. Abu Bakr bin ‘Abdu’r-Rahman
Yang ketiga dari para fuqaha adalah Abu Bakr bin ‘Abdu’r-Rahman bin al-Harits, yang wafat pada 94 H. Ia adalah seorang ahli ibadah dan zuhud dan dikemudian hari ia disebut sebagai ‘Rahib dari Qurays’. Ia meriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah. Ia juga merupakan seorang faqih dan perawi hadis. Ia tidak memberi fatwa sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu al-Musayyab. Tradisi mendominasi fiqh-nya.

4. Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr
Yang keempat dari ketujuh fuqaha adalah al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, keponakan dari ‘A’isha, radiyallahu ‘anha. Ia wafat pada 108 H. Ia mempelajari fiqh dan hadis dari bibi-nya dan dari Ibnu ‘Abbas. Ia juga seorang perawi hadis. Ia sering mengkritik penggunaan teks/isi hadis bila digunakan mendahului Kitab Allah dan Sunnah yang berlaku umum di Madinah. Ia adalah seorang faqih baik dalam fiqh maupun hadis. Muridnya yang sering banyak dikenal adalah, Abu’z-Zinad ‘Abdullah bin Dzakwan yang berkata mengenainya, “Aku belum pernah melihat seorang faqih yang lebih berilmu dari al-Qasim. Aku belum pernah bertemu seorangpun yang lebih mengetahui Sunnah daripadanya.” Jelaslah bahwa disamping kesalehan ia juga memiliki aspirasi/kerinduan (himma) dan kecerdasan, yang mewarnai tindakannya. Itulah mengapa Malik menyampaikan bahwa ‘Umar bin ‘Abdu’l-‘Aziz berkata, “Bila aku memiliki wewenang dalam persoalan ini, aku akan menunjuk seorang buta dari Banu Tayim,” yang menunjuk pada al-Qasim bin Muhammad.

5. ‘Ubaydullah bin ‘Abdullah bin ‘Utba bin Mas’ud
Yang kelima dari mereka adalah ‘Ubaydullah bin ‘Abdullah bin ‘Utba. Ia merawikan dari Ibnu ‘Abbas, ‘A’isha, dan Abu Hurayra. Ia adalah guru dari ‘Umar bin ‘Abdu’l-‘Aziz dan orang yang mewarnai pikiran dan karakternya. Selain sebagai orang yang berilmu dalam fiqh dan hadis dan juga berkepribadian baik, ia sering menggubah puisi. Ia wafat pada tahun 98 atau 99 H. Riwayat lain mengatakan bahwa ia wafatlebih dahulu, yaitu pada tahun 94 H.

6. Sulayman bin Yasar
Yang keenam adalah Sulayman bin Yasar. Seorang abdi dari Maymunah binti al-Harits, istri dari Nabi, sallallahu alayhi wa sallam. Dikatakan bahwa ia memberinya sebuah kitab kontrak dan sejumlah tagihan uang tebusan untuk kemerdekaannya. Diriwayatkan bahwa ia meminta izin untuk menemui ‘Aisyah. Kemudian ia berkata, “Ia (‘Aisyah) mengenali suaraku. Kemudian ia berkata, ‘Sulayman kah?’ Kemudian ia bertanya, ‘Sudahkah kau penuhi tagihannya padamu?’ Akupun menjawab, ‘Ya, hampir. Masih ada sejumlah kecil yang belum lunas.’ Ia berkata, ‘Masuklah. Engkau masih dimiliki selama engkau masih berhutang sesuatu.'” Ia merawikan dari Zayd bin Tsabit, ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Hurayrah, dan para istri Nabi, Maymunah, ‘Aisyah, dan Ummu Salamah. Sulayman memiliki pemahaman yang baik. Ilmu dan pemahamannya mengenai fiqh meningkat seiring keterlibatannya dalam kesibukan penduduk dan pengetahuannya mengenai keadaan mereka. Ia adalah muhtasib (auditor) Pasar Madinah pada masa ‘Umar bin ‘Abdu’l-‘Aziz menjabat sebagai gubernur. Ia wafat pada tahun 100 H.

7. Kharija bin Zayd bin Thabit
Yang ketujuh adalah Kharija bin Zayd bin Tsabit yang wafat pada 100 H. Seorang faqih dalam ra’y (pendapat), seperti ayahnya Zayd dikenal-baik mengenai hal itu dan pengetahuannya dalam pembagian harta warisan, ia sering membagikan harta warisan berdasarkan Kitab Allah Ta’ala. Mus’ab bin ‘Abdullah berkata, “Kharijah and Talhah bin ‘Abdu’r-Rahman memberikan fatwa pada masa mereka. Penduduk (Madinah) menerima pernyataan mereka dan mereka membagikan harta warisan penduduk –rumah, pohon-kurma, dan hak milik lainnya– dan mereka menuliskan dokumen pencatatan bagi penduduk.

Sebagai tambahan dalam catatan keilmuannya, fiqh dan fatwa dan hubungannya dengan penduduk Madinah pada masa awal perjalanan hidupnya, Kharijah adalah salah satu dari ahli ibadah yang taat dari Madinah. Pada akhir hidupnya, ibadah menggerakkannya untuk menepi dan menyendiri, itulah mengapa tidak banyak dari fiqh dan ilmu-nya yang menyebar.

Penutup
Merekalah tujuh orang fuqaha dari Madinah, yang bersama-sama penduduk seangkatan mereka memahami fiqh dari Nabi, sallallahu alayhi wa sallam, dan para Sahabat, kemudian terbentuklah pengajaran yang merumuskan fiqh Madinah dan memiliki karakter yang jelas. Dasarnya adalah memberikan fatwa berdasarkan fatwa para Sahabat Rasulullah, sallallahu alayhi wa sallam, dan dengan segala hormat melaksanakannya dengan jalan mereka saat menghadapi keadaan dimana mereka harus membuat keputusan dalam keadaan dimana fatwa yang relefan tidak ditemukan. Terkadang mereka melakukan ijtihad berdasarkan pendapat mereka sendiri tetapi masih sejalan dengan cara yang dilakukan oleh para Sahabat; dan mereka tidak mencampur-adukkan percabangan permasalahan seperti yang dilakukan oleh penduduk Irak

Harus digaris bawahi bahwa para fuqaha’ di atas bukan sekedar tradisionis dalam segala hal. Mereka adalah para tradisionis (penjaga Sunnah) dan legist (ahli hukum) pada Generasi Salaf, dan mereka memahami hal ini dan memberikan fatwa saat dimana tidak ditemukan tradisi dari Nabi, sallallahu alayhi wa sallam, dan para Sahabat menggunakan kecerdasan mereka untuk sampai pada kesimpulan yang didasari keputusan yang banyak-diketahui dari Nabi, sallallahu alayhi wa sallam. Beberapa diantara mereka menguasai dasar utama dalam hadis dan sedikit fiqh dan fatwa, seperti ‘Urwah bin az-Zubayr, tapi kebanyakan lainnya berkonsentrasi pada fatwa dan fiqh .

Hal ini nampaknya unutk menganjurkan bahwa fiqh dari ra’y memiliki posisi yang sangat penting diantara mereka, yang dikemudian hari cenderung membuat mereka tampak mirip dengan cara penduduk Irak. Bagaimanapun, perbedaan diantara pendapat mereka adalah bahwa para Ulama dari Irak cenderung berkecimpung dalam kebiasaan memberikan fatwa pada permasalahan apapun yang ditanyakan pada mereka, termasuk permasalahan yang belum pernah terjadi, meskipun dalam bentuk pertanyaan hipotesis kemudian mereka menanggapi dan memikirkan pemecahannya. Lebih lanjut, pendapat mereka tidak dibatasi dan tidak didasari oleh kesimpulan yang telah diriwayatkan dari keputusan para Sahabat.

Sedangkan penduduk Madinah hanya mengeluarkan fatwa dari permasalahan yang benar-benar terjadi. Fiqh yang berasal dari ra’y hanya digunakan oleh mereka didasari prinsip dari fatwa para Sahabat dan keputusan dari Nabi, sallallahu alayhi wa sallam, yang telah diriwayatkan pada mereka dan benar-benar telah menjadi amalan sehari-hari diantara mereka di kota Madinah dimana ra’y (pendapat) itu dibuat.

Fiqh dari ketujuh Ulama ini dipelajari oleh Ibnu Syihab, Rabi’ah dan seluruh generasi mereka. Kemudian Malik mempelajari dari generasi ini. Para Shuyukh dari Malik diantaranya adalah mereka yang menempatkan predominasi fiqh dan ra’y dan Shuyukh lainnya adalah yang menempatkan predominasi hadis. Hadis mendominasi fiqh dari Ibn Syihab, sedangkan bagi Rabi’ah ar-Ra’y dan Yahya bin Sa’id, ra’y lebih mendahului hadis. Oleh karena itu tidak aneh bila kita dapatkan ra’y memiliki peranan yang besar dalam fiqh Malik.

 

*Penulis merupakan faqih besar dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir (1898-1974). Beliau banyak menuliskan kitab-kitab yang membawa kembali pada pemahaman fiqih yang menuntut pada syariat. Diantaranya kitab “Ushul Fiqih” yang ditulisnya, menjadi jembatan untuk memahami kembali fiqih, dan tak terjebak pada fiqih kontemporer.