WUJUD NEGARA FISKAL (3)

104

Bretton Wood sistem merubah tatanan dunia. Kekuasaan bankir merajalela sebagai penguasa imperium negara-negara. Demokrasi terciderai, konstitusi hanya stempel belaka, republik tersisa simbolnya belaka. Umat manusia hidup tanpa fitrah. Konsep negara terdegradasi. Imperium bankir yang menguasai.

Medio tahun 2016 lalu, laman web businessiider.com, melansir sebuah berita tentang kegelisahan warga Amerika Serikat. Negara itu dianggap adidaya. USA dianggap simbol kemajuan negara di dunia. Tapi berita itu melansir bahwa negara USA memiliki utang sebesar USD 19.000 lebih. Jumlah utang itu semenjak terbentuknya negara USA, abad 16 lalu. Jumlah segitu akumulasi dari utang dan bunganya. Tak beda dengan negara Indonesia. Daftar utang yang dilansir hampir mendekati Rp 4.000 Trilyun. Menteri Keuangan. Sri Mulyani, menyampaikan rasio utang sebesar 27 persen dari Gross Domestic Bruto (GDP). Jumlahnya berkisar Rp 13.000 Trilyun. Jika dikalkulasi rata-rata, maka setiap warga menanggung utang USD 997 per orang. Sekitar Rp 13 juta se-orang.

Sri Mulyani mencoba menghibur warga. Jika dibanding orang Amerika dan Jepang, warga Indonesia masih lebih ringan. Warga Amerika mesti menanggung USD 62.000 per orang. Orang Jepang mesti menanggung USD 85.000 per kepala. Fantastis. Kini semua manusia di dunia memiliki utang. Karena negara-nya ber-utang. Inilah fenomena negara abad 21.
Tahun 2016 lalu, media Bussines Insider melansir daftar 17 negara memilii utang terbesar. Daftar itu berlandas Survei Daya Saing Global World Economic Forum. Survei tersebut melihat tingkat utang pemerintah bruto sebagai persentase dari PDB yang dapat menunjukkan seberapa mampu suatu negara untuk membayar kembali utang tanpa menimbulkan utang lebih lanjut. Inilah daftar itu.
17. Islandia (90,2 persen)
16. Barbados (92,0 persen)
15. Prancis (93,9 persen)
14. Spanyol (93,9 persen)
13. Cape Verde (95,0 persen)
12. Belgia (99,8 persen)
11. Singapura (103,8 persen)
10. Amerika Serikat (104,5 persen)
9. Bhutan (110,7 persen)
8. Siprus (112.0 persen)
7. Irlandia (122,8 persen)
6. Portugal (128,8 persen)
5. Italia (132,5 persen)
4. Jamaika (138,9 persen)
3. Lebanon (139,7 persen)
2. Yunani (173,8 persen)
1. Jepang (243,2 persen)

Inilah fenomena tentang negara. Mengapa hampir seluruh negara di dunia memiliki utang? Kepada siapa negara-negara ber-utang? Institusi apa yang memberikan utang pada negara-negara itu? Pertanyaan ini seolah menjadi tidak relevan jaman ini. Padahal inilah fakta yang dihadapi manusia sekarang. Negara memiliki utang, rakyat menjadi agunan, pajak menjadi jaminan pengembalian utang. Lalu untuk siapa negara bekerja? Negara telah berubah menjadi debitur. Karena ada pihak yang memberi utang, mereka para kreditur. Tentu fakta ini merubah 360 derajat dari defenisi negara seperti yang di maksud Montesquei, Rosseou, Plato, Aristoteles maupun Aquinas. Gambaran ini menunjukkan apa yang berlangsung pada teori negara semasa rennaisance, telah diselewengkan. Karena negara-negara telah dikudeta.

****

Revolusi Perancis, titik awal berdirinya negara, tidak dapat dicapai tanpa penciptaan Assignats, uang kertas yang dicetak negara revolusioner Perancis tanpa jaminan apapun. Kaisar Perancis, Napoelon Bonaperte, mendirikan Banque de France. Pendirian bank sentral Perancis erat kaitannya dengan hadirnya bankir dalam negara Perancis yang baru. Shaykh Abdalqadir as sufi menjabarkan, fenomena hadirnya bank sentral di setiap negara, sejak abad 18, tak bisa dipungkiri. Tapi bank sentral tak-lah identik kepemilikannya pada pemerintah negara itu. “Bank-bank itu secara individual atau bergabung bersama-sama dan menawarkan kepada para politisi sebuah Bank Nasional (Bank Central). Demikianlah, maka Deutche Bank bukanlah Jerman. The Bank of France bukan Perancis. The Ottoman Bank bukan Turki. The Bank of Egypt bukan Mesir. The Bank of Morrocco bukan Maroko. Demikian seterusnya di seluruh dunia,” tulisnya dalam kitab Teknik Kudeta Bank.

Di negara-negara industri besar, The Bundesbank, Banque de France, Bank of England, semua menyerupai model Amerika Serikat. Dimana The Federal Reserve Bank bukanlah milik pemerintah Amerika Serikat, tapi sepenuhnya dimiliki oleh swasta. Inilah bukti bahwa hak-hak politisi telah dipereteli oleh para bankir. Karena mereka telah mendikte secara non formil jalannya pemerintahan suatu negara.

Indikasi kedua bisa dilihat dalam peristiwa Bretton Wood sistem, tahun 1944 lalu. Kala itu dilangsungkan pertemuan kepala-kepala negara yang bergabung dalam sekutu. Sekutu terbentuk pasca Perang Dunia II. Presiden USA, bertindak sebagai pemrakarsa. Yang hadir ada sekitar 44 kepala negara berbagai dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) belum terbentuk. Konfrensi itu berlangsung di New Hampshire, USA, konfrensi ini melahirkan putusan penting. Jika dalam rilisnya, konfrensi itu melahirkan International Monetary Fund (IMF) dan International Bank for Reconstructiion and Development (IBRD). Tak banyak penjelasan akademis tentang pentingnya adanya kedua lembaga itu. Tapi tang jelas, dua lembaga kembar itu adalah institusi yang hadir dia atas negara-negara.

Tapi salah satu kesepakatan dalam konfrensi itu adalah perubahan soal basis emas pada uang kertas yang tak lagi di hadirkan. Jika sebelumnya, bank mencetak kerta sebagai alat tukar suuatu negara, masih dalam basis emas. Pasca Bretton Woods sistem, maka hal itu tak lagi diberlakukan. Jadi bank berhak mencetak kertas sebagai alat tukar, berlandas kemauan mereka sendiri.

Sejak itu diberlakukanlah pada bank sentral seantero dunia. Semua bank sentral mencetak uang tanpa basis emas. Alhasil nilai yang tertuang dalam kertas ber-uang itu, merupakan otoritas bank semata. Posisi negara atau pemerintah, sama sekali tak memiliki otoritas atas hal itu. Karena hal itu telah terjamin dalam konstitusi setiap negara-negara. Otoritas bank sentral bersifat independen dalam setiap negara. Tak bisa dicampuri parlemen, yudikatif maupun eksekutif. Inilah makhluk yang aneh yang muncul diluar sistem trias politica: bank sentral.

Bretton Wood itu membuktikan bagaimana kepatuhan kepala negara pada kehendak bankir. Tatkala mencuat akan errornya sistem bank, maka bankir memerintahkan agar para kepala negara berkumpul. Hasilnya adalah menyepakati apa yang menjadi kemauan bankir. Inilah yang menjadi dasar Amerika Serikat menggunakan Dollar, yang bukan dicetak oleh pemerintah AS. Begitu juga Real Arab Saudi, Ringgit Malaysia, Euro negara-negara Eropa. Semuanya berlangsung terpisah pada pemerintah sebuah negara.
Hal inilah yang menyebabkan negara-negara memiliki utang. Konsep yang tak terbaca sama sekali oleh Montesquei maupun Jean Bodin. Karena negara telah dikudeta. Kekuasaan suatu negara, tak lagi berada pada pemerintahnya. Jika dulu pada masa Monarkhi, kekuasaan berada pada Raja. Kala masa Daulah Islam, kekuasaan berada pada Sultan yang mengatur alur kekayaan setiap muslimin. Kini tatkala berada dalam fenomena negara-negara, kekuasaan berada pada bankir. Sementara tugas kepala negara, memastikan bahwa utang itu bisa dibayar dan dibolehkan melakukan utang lagi. Dari mana sebuah negara mengutip dana untuk menbayar utang? Pajak itulah sumbernya. Makanya warga negara menjadi elemen penting bagi berlangsungnya sistem bankir.

Fenomena inilah yang menunjukkan tak ada lagi kedaulatan sebuah negara. Perbatasan antar negara hanya bersifat geografis semata. Tapi kekuasaan para bankir, bersifat mendunia. Karena kini hampir seluruh negara di dunia, berada dalam wilayah debitur para bankir. Tak heran negara sekelas adidaya Amerika Serikat, negara Singapura yang disebut maju, Jepang yang dikatakan hebat dalam pembangunan, China yang mulai mendunia, bahkan Perancis yang disekala negara maju, mereka semua memiliki utang.

Imperium bankir inilah yang berkuasa. Dan mereka tak bernama. Pemilik bank tentu segelintir kaum Yahudi kaya. Tapi Allah Subhanahuwataala telah memberi pesan dalam Al Quran:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu: dan mereka mendapat azab yang pedih karena berdusta.” (Al Quran Surat Al Baqarah:9)
Ketika mereka diberitahu:
(10)…Jangan berbuat kerusakan di atas bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami jstru orang-orang yang melakukan perbaikan.”
(11)…sesungguhnya tidak, mereka adalah para perusak, tapi mereka tidak menyadarinya.” (Al Quran Surat Al Baqarah: 10-11).

Inilah sistem riba yang menggurita. Karena kapitalisme yang mendunia ini adalah ribawi. Dan ini jelas haramnya.