Zakat itu Harus Ditarik, Bukan Diserahkan Sukarela

309

Oleh Shaykh Dr. Abdalqadir as-Sufi
Allah Taala berfirman (QS: 2:208), yang artinya:

Wahai kaum beriman masuklah ke dalam  Islam secara total. Jangan mengikuti langkah syetan. Sesungguhnya ia adalah musuhmu yang nyata.”

Tawus dan Mujahid mengatakan bahwa isi ayat itu berarti, “Masuklah di bawah otoritas Dien.”
Hadirnya  generasi baru Muslim yang mematuhi ayat ini akan berarti kebangkitan Islam dan akhir  dari “Islamisme”, yaitu Dien yang diredusir  menjadi sebuah doktrin politik seperti halnya komunisme atau liberalisme.

Dien adalah transaksional – Mu’amalah.

Islam selalu dipahami, sampai kemudian dipolitisasi oleh sekte modernis, sebagai  ketetapan  pada aturan tentang shalat, puasa, zakat, haji dan semua aturan khusus maupun  umum pada perdagangan dan kontrak dengan indikasi tertentu untuk memastikan terhindarkannya  riba. Dalam hal terakhir ini Imam Malik menerapkan  metode khusus untuk menjamin penerapannya dalam  Syari’at  yang didefinisikan sebagai Sadd adz-Dhara-i’, yaitu “mencegah  perantara kepada  yang salah”.

Umar bin Khattab berkata: “Tidak seoran pun selayaknya  berdagang di pasar kita kecuali seseorang dengan pengetahuan Fiqih [muamalah].  Jika tidak maka  riba akan dipraktekkan.” Rasulullah, salallahualaihi wasallam,  berkata,”Saatnya akan datang ketika tidak ada seorang pun yang   tidak mengkonsumsi riba, dan bahkan orang yang tidak mau mengkonsumsinya pun  akan terkena debunya.”

Allah Ta’ala berfirman (QS 2:275), yang artinya:

Mereka yang mempraktekkan riba tidak akan bangkit dari kubur kecuali seperti orang gila karena kerasukan  setan.”

Mufassir besar kita, Ibnu Atiyya, berkata tentang ini: “Kata-kata dari ayat itu  mengandung kiasan untuk keadaan dari seseorang yang terlibat dalam perdagangan dengan tamak dan rakus di dunia ini, dia disamakan  dengan  orang gila karena keserakahan dan nafsu  mempengaruhinya  sampai anggota tubuhnya menjadi kacau. Ini seperti ketika Anda mengatakan, ‘Dia gila!’ tentang seseorang yang berjalan cepat dengan gerakan  gelisah, baik karena  kecemasan atau sesuatu yang lain. ”

Ini menegaskan posisi saya bahwa kapitalisme pada kenyataannya bukanlah sebuah sistem melainkan  sebuah psikosis.

Demokrasi politik yang berpura-pura mengizinkan wakil-wakil terpilih untuk membuat hukum atas nama Anda telah mengubah mandat  pemerintahan  untuk mengambil hutang atas nama Anda yang kemudian  Andalah yang dibebani tanggung jawab membayarkanya kepada  lembaga-lembaga riba. Seungguhnya  bagi kita kontrak itu sendiri adalah kriminal.  Dan kejahatannya ganda.  Karena utang yang terjadi pada Anda sebagai warga negara ini kemudian dijual  ke entitas perbankan nasional.

Allah Ta’ala mengatakan (5:1), yang artinya:

Penuhilah kontrak Anda

Utang sosial atau kelompok,  apalagi utang nasional sama sekali tak terbayangkan dalam kewarasan  Hukum Islam.

Jangan disesatkan oleh orang yang menyiratkan bahwa perlawanan kita terhadap riba/kapitalisme mengimplikasikan kebencian atau rekomendasi untuk menghindari kekayaan. Yang menjadi masalah adalah praktek cara memperoleh  kekayaan itu.

Rasul, salallahualaihi wasallam, mengatakan: “Tidak ada yang lebih membantu   saya ketimbang  harta Abu Bakar.”

Dan dia mengatakan kepada Sa’ad: “Lebih baik meninggalkan ahli waris yang kaya daripada meninggalkan mereka dalam keadaa miskin, dan meminta-minta dari orang lain.”

Thalhah meninggalkan tiga ratus ribu gantang  dan setiap gantang seberat tiga ratus-timbangan.

Az-Zubair meninggalkan 250,000.

Ibnu Mas’ud meninggalkan tujuh puluh ribu. Sufyan meninggalkan dua ratus dinar. Ia biasa berkata, “Kekayaan saat ini adalah baju besi kita”

Tanggung jawab sipil umat Islam hari ini adalah untuk membangun Jama’ah  dan menunjuk seorang Amir. Para fuqaha adalah penasihat dan tidak harus memimpin. Sang Amir  pada gilirannya harus menunjuk para Penarik  zakat. Perlu dipahami bahwa tidak sah membayarkan zakat dengan uang kertas dan ini tidak  ada perdebatan di dalamnya karena hal itu telah secara pasti dijelaskan oleh para ulama  Mauritania kita.

Ada satu hal lagi yang harus dihadapi terutama oleh saudara Arab kita yang miskin yang kini  jatuh tersesat dalam krisis dari kapitalisme  uang kertas  yang mereka pikir secara  keliru sebagai  masalah politik kediktatoran, sedangkan masalahnya  jelas merupakan keruntuhan fidusiari – mengapa mereka menunggu sampai empat puluh tahun atau lebih untuk meneriakkan  “kebebasan”?

Terdapat zakat pada minyak. Ini secara jelas tercantum  dalam bab tentang zakat pada tambang dan mineral, bukan dari harta karun. Jika didefinisikan dalam peraturan mengenai harta karun maka  Khums  [20%] harus dibayarkan, tapi karena minyak secara efektif ditambang, menggunakan tenaga kerja, maka zakatnya adalah seperti  pada mineral yang  diekstraksi, nilainya sama seperti yang diambil pada  emas dan perak [2.5%].

Satu-satunya jalan untuk kembali kepada Islam bagi masyarakat Arab adalah dengan mengembalikan zakat pada minyak. Satu-satunya jalan untuk kembali ke Islam bagi  umat Muslim adalah dengan  mengembalikan zakat yang ditarik dan diawasi oleh seorang   Amir pada  tingkat Jama’ah lokal.

Ingat bahwa puasa menyucikan tubuh kita. Zakat menyucikan kekayaan dan harta. Tanpa Zakat – Tasawwuf tak akan  bisa ada.

Kita mohon Kemurahan  yang luar biasa dan Sakinah dari Allah, dan Fatihah pada semua pengikut Manusia Terbaik,  salallahu alaihi wasallam.