Zakat, Jalan Menuju Tegaknya Syariat

446

Landasan Deen Islam ialah Al Quran. Isi kandungan Al Quran, ulama –untuk memudahkan—membaginya dalam dua wilayah: syariat dan hakekat. Syariat itulah ibadah dan muamalah. Ibadah itulah rukun Islam. Mulai dari shahadat, sholat, Zakat, shaum, sampai Haji. Lalu ada muamalah. Ini juga dalam lingkup yang luas. Mulai dari jinayat, mahkamah, munakahat, mukasamat, siyasah, muamalah (dalam arti sempit), sultaniyya, sampai wirasah (waris). Inilah syariat. Lalu ada hakekat. Inilah ayat-ayat yang mengkisahkan tentang hubungan manusia dan Sang Khalik. Termasuk kisah antara Nabi Khidir dan Nabi Musa Allaihisalam, masuk dalam “yurisdiksi” ini. Dalam kosakata lain, disinilah wilayah ikhsan atau tassawuf. Imam Malik mengatakan: syariat dan hakekat haruslah berdampingan. Syariat tanpa hakekat maka akan zindiq. Hakekat tanpa syariat maka akan sesat. Dalam amal praktek umat muslimin terdahulu, inilah yang dikenal dengan “Umara dan Ulama”. Umara itulah AMR, yang memimpin tegaknya syariat. Ulama, itulah –kala Daulah Utsmani—menyebutnya sebagai Shaykhul Islam. Sultan dan Shaykh berdampingan. Sultan memimpin urusan syariat. Sementara sang Mursyid membimbing dalam wilayah hakekat. Keduanya bersatu dalam amal penerapan Deen Islam. Hal inilah yang mendasari praktek Islam selama berabad-abad hingga Islam menjadi kekuatan dunia, sejak di bawa Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam sampai paling tidak abad 19.

Syariat mengalami keruntuhan pasca Tanzhimat di Utsmani, 1840. Kala itulah syariat berganti. Tak lagi merujuk Al Quran. Daulah Utsmani yang selama ini menjalankan syariat, dengan mengikuti metodologi Hanafi, berganti mengikuti Iuris Corpus Civilis alias Civil Law yang diadopsi republik Perancis, pasca Revolusi Perancis, tahun 1789.

Revolusi Perancis inilah ajang awal terbentuknya modernisme. Liberalisme, sekulerisme, mencuat disini. Bentuk kemenangan kaum anti Tuhan. Mereka mengobrak-abrik aqidah Nasrani. Mengganti adagium Vox Rei Vox Dei (Suara Gereja Suara Tuhan) menjadi Vox Populi Vox Dei (Suara rakyat suara Tuhan). Pondasi modernis ialah menggunakan logos alias logike belaka dalam merumuskan segala kehidupan dunia. Logos atau filsafat inilah yang melahirkan sains modern dan hukum positif (positivisme law). Mengapa disebut hukum positif? Bukan maknanya ada hukum negatif. Melainkan istilah ‘positivisme’ merujuk pada Ausgute Comte, yang melabelkan tiga susunan masyarakat Perancis, pasca kudeta terhadap Gereja. Masyarakat agamis, masyarakat teologi dan kaum positivis. Kaum positivis ini yang menghamba pada State alias negara, yang terbentuk pasca Revolusi. Mereka menganggap negara sebagai perwujudan ‘le contract sociale’ versi Rosseou. Makanya Kant merumuskan tiada hukum selain hukum negara. Inilah yang melahirkan ‘hukum positif’. Hukum yang lahir dari perut Negara alias state. Bukan lagi merujuk kitab suci. Melainkan konstitusi.

Lalu Perancis mencaplok Kerajaan Belanda. Hindia Belanda berlandas azas konkordansi membawanya ke nusantara. Dari situlah sanad hukum positif sampai kini diadopsi oleh republik. Meninggalkan syariat, yang dulunya dijalankan muslimin di nusantara dalam bingkai kesultanan-kesultanan. Mereka hadir sekitar 200 kesultanan lebih dari Aceh sampai Tidore. Inilah wujud dari Islam.

Gagal Paham Modernis
Lalu pasca Revolusi Perancis, ada sejumlah kaum yang meniru modernis di barat. Mereka memfoto copy bagaimana situasi barat dan membawanya ke dalam dunia Islam. Merekalah para modernis Islam. Kaum ini merasa Islam dianggap harus mengikuti perkembangan jaman. Maka banyak dilakukan revisi terhadap fiqih dan syariat secara umum. Lahirlah fiqih kontemporer. Al Quran ditafsirkan secara semena-mena, mengikuti perkembangan jaman. Tak heran setelah 4 abad berjalan, Islam tak kunjung berjaya. Justru tetap berada di bawah ketiak kuffar, tanpa mampu lagi mengutip jizya. Syariat banyak diubah oleh para modernis, yang berminpi duduk semeja dengan kuffar. Inilah bentuk kejumudan Islam. Karena para modernis menolak fiqih dan anti pada tassawuf. Alhasil jumud yang berlangsung, yang menyebabkan umat menderita dimana-mana.

Kini saatnya umat bangkit kembali. Kembali pada Islam, bukan Islam yang harus mengikuti perkembangan jaman. Demikian kata Shaykh Abdalqadir as sufi. Islam tak bisa lagi meniru-niru cara barat vis a vis kuffar. Islam memiliki metode sendiri. Demokrasi Islam, konstitusi Islam, bank Islam, asuransi Islam, apalagi sampai mengislamisasi negara (state), itu adalah bentuk kekalahan. Bukan wujud yang mengarah pada kemenangan. Karena Islam ialah yang haq. Antara haq dan bathil tentu tak bisa disatukan.

Allah Subhanahhuwataala dalam Al Quran surat Al Isra berfirman: ketika yang haq hadir, maka yang bathil musnah. Inilah kata kunci untuk umat jaman kini. Yang haq yang mesti dikembalikan. Bukan mengislamisasi atau bermimpi menjadikan negara Islam. Apalagi teori menguasai parlemen agar menjadi Islam. Karena hal itu tak sesuai Sunnah. Apalagi Al Quran. Itu adalah cara-cara kaum jumud, yang tak pernah membuat Islam menuju kemenangan.

Yang haq adalah kembali pada Sunnah, praktek atas Al Quran. Jalur menuju Sunnah digapai dengan mahdhab. Inilah akses menuju Sunnah yang sahih. Tanpa mahdhab, maka Sunnah tak bisa diterapkan. Tiga generasi awal Islam, salafus salih, inilah generasi yang oleh Sabda Rasulullah Shallahuallaihi Wassalam, dianggap sebagai generasi terbaik. Inilah generasi salaf. Bukan klaim atas nama salafis. Melainkan bentuk amal yang bukan berlandas logos semata.

Masa tiga generasi awal, dimulai era Khulafaur. Masa Khulafaur dimulai dengan Khalifah Abu Bakar Shiddiq. Masa Khalifah Abu Bakar Shiddiq dimulai dengan penegakan rukun Zakat yang sesuai fiqihnya. Zakat harus ditunaikan kepada sang AMR dan dengan Ayn bukan dayn. Kini itulah jalan kembali menuju Islam. Menuju tegaknya syariat. Penegakan Zakat. AMR menjadi kata kunci agar zakat bisa ditunaikan secara fiqih. Lupakan tafsir modernis yang merubah-ubah fiqih Zakat. Ulil Amri Minkum umat muslim bukanlah presiden atau iinstitusi barat yang terbentuk pasca revolusi Perancis. Melainkan para Sultan. Merekalah yang memiliki hak untuk menarik Zakat muslimin. Dan Zakat ditunaikan dengan Ayn, bukan dayn. Dalam bentuk barang ataupun komoditas yang bernilai. Bukan kertas produksi bank, yang tak pernah dikenal dalam Islam. Alias kertas tak bernilai. Apalagi dengan uang berbentuk puls internet, yang tak bernilai secara Islam. Dari situlah kunci penegakan kembali Islam, dalam jamaah dibawah para Sultan. Maka, dengan begitu syariat akan perlahan kembali. Ketika yang haq hadir, maka yang bathil Musnah. Insha Allah.